Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 27 : Alva emosi


__ADS_3

Alva menghabiskan hari weekend nya bersama Qaisya di bawah pohon yang rindang, Alva merasa terhibur dengan anak-anak di sana, bahkan sampai sore hari Alva langsung membelikan makanan untuk anak-anak di sana, mereka sangat senang sekali dengan kedatangan Qaisya dan juga Alva. Malam telah tiba, setelah mengantar Qaisya pulang alva pun langsung kembali ke rumahnya.


Saat perjalanan pulang ponsel Alva berdering, ia baru menghidupkan kembali ponselnya, nama Rinja tertera di sana, sebenarnya Alva sangat malas untuk mengangkat telepon itu.


"Ada apa?" tanya Alva langsung mengangkatnya.


"Hiks. . . hiks. . . kamu dari mana saja? aku menghubungi mu sedari tadi, tapi kenapa kamu tidak aktif." Ucap Rinja sambil menangis.


"Ya sudah sekarang katakan apa mau mu?" tanya Alva.


"Aku mau kamu ke sini, aku sangat merindukanmu." Ucap Rinja yang ingin di temani oleh Alva.


"Baik, aku ke sana." Ucap Alva yang langsung mematikan ponselnya. Entah kenapa Alva kurang menyukai sikap Rinja yang menurutnya aneh, bagaimana tidak Rinja yang mungkin baru berpisah dengan suaminya langsung tiba-tiba mengatakan rindu pada Alva. Menurut Alva sendiri jika mendapat masalah seperti Rinja pasti setiap orang tidak akan bertemu dengan siapa pun, kenapa? karena hatinya pasti sedang tidak baik-baik saja, tapi berbeda dengan Rinja yang sangat mudah langsung mendekati Alva lagi.


Tak lama kemudian Alva sampai di rumah sakit, ia langsung ke ruangan di mana Rinja di rawat, di sana ada ayah Rinja saja, Alva langsung masuk saat itu.


"Kamu dari mana saja Alva, sedari tadi Rinja menunggu mu." Ucap ayah Rinja.


"Maaf om, saya banyak urusan tadi." Ucap Alva berbohong.


"Oooo baiklah, Alva bolehkah om minta tolong untuk menjaga Rinja sebentar, om ada urusan mendadak." Ucap ayah Rinja minta tolong. Alva pun hanya mengangguk saja.


"Terima kasih ya." Ucap ayah Rinja, setelah itu ia langsung pergi dari sana. Tinggallah Rinja dan Alva saja di sana.


"Kamu dari mana saja?" ucap Rinja saat Alva sudah duduk dekat rinja.


"Bukan urusan mu." Ucap Alva.


"Kenapa kamu seperti itu, dulu kamu sangat baik padaku." Ucap Rinja merasa heran.


"Mungkin aku sudah berbeda. Oh ya, bagaimana apa kamu akan melaporkan Farid ke pihak berwajib?" tanya Alva sangat penasaran.


"Iya, aku akan melaporkan dia, dia sudah sangat jahat padaku." Ucap Rinja ingin Farid segera di hukum, apalagi di tambah dengan kasus barang haram bisa jadi ia di penjara seumur hidup.

__ADS_1


"Kau tau dia selalu saja memukuli ku." Ucap rinja mulai bercerita.


"Sejak kapan?" tanya Alva pun penasaran.


"Semenjak menikah, waktu masih pacaran dia tidak pernah memukuli ku, bahkan dia selalu baik padaku." Ucap Rinja merasa sedih.


"Sejak kapan kamu pacaran?" tanya Alva.


"Selama tujuh bulan lebih, bahkan dia selalu meratukan ku, aku juga tak menyangka dia bisa menyakiti ku sampai seperti ini." Ucap Rinja melihati tangannya yang di penuhi luka lebam.


Alva hanya terdiam, tebakannya selama ini benar, Rinja berselingkuh di belakangnya, padahal tujuh bulan kebelakang Alva masih berpacaran dengan Rinja, Alva mulai tau bagaimana sisi buruk Rinja.


"Kamu mau kan temani aku sampai sembuh?" ucap Rinja dengan senyuman.


"Aku tidak jamin, banyak hal yang harus ku kerjakan." Ucap Alva.


"Biasanya kamu selalu mengutamakan aku dari pada pekerjaan mu, tapi sekarang kamu malah jadi gini sih." Ucap rinja yang mulai bete.


"Ya seharusnya gitu, aku tau kok di hati kamu cuma ada aku, dan aku yakin cewe kotor itu pasti cuma pelampiasan kan?" ucap Rinja langsung tertawa mengejek.


"Cewe kotor, apa maksud mu?" tanya Alva dengan tatapan tajam.


"Lihat dia anak jalanan, jualan koran, pasti dia juga cewe yang miskin." Ucap Rinja menjelek-jelekkan Qaisya. Alva langsung mengepal tangannya, entah kenapa ingin sekali satu pukulan mendarat di mulut Rinja, tapi Alva langsung mengucap dalam hati, Rinja sedang sakit mana mungkin ia akan memukulinya lagi.


"Menurut mu dia kotor, tapi menurut ku dia adalah berlian. Terserah pada mu mau bilang dia apa pun, tapi lihatlah suatu hari nanti, dia akan menjadi gadis yang sukses." Ucap Alva dengan suara yang tegas.


"Kenapa kamu malah membela dia, seharusnya kamu membela aku, kan betul apa yang ku katakan." Ucap Rinja protes. Alva pun langsung bangkit. dari duduknya, emosinya mulai memuncak, ia tak ingin melampiaskan itu pada Rinja, Alva pun langsung keluar dari ruangan itu.


"Kamu mau kemana Alva?" ucap Rinja saat melihat Alva pergi. Alva tak menjawab bahkan ia menutup pintu itu dengan keras, Rinja langsung terkejut sepertinya Alva sedang marah.


Alva kembali ke dalan mobilnya, ia memenangkan diri di sana, sungguh perkataan Rinja membuat dirinya naik emosi. Alva langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Qaisya saat itu juga.


"Halo sayangku." Ucap Alva dengan suara yang lembut, entah kenapa kata-kata itu masih membuat Qaisya deg-degan, padahal ia sudah sering mendengar Alva memanggil dirinya dengan kata yang romantis.

__ADS_1


"Ada apa kak?" tanya Qaisya dari seberang sana.


"Tidak ada, aku hanya merindukan mu." Ucap Alva dengan suara yang lembut.


"Kak kita baru jumpa beberapa jam lalu, kenapa malah rindu lagi sih." Ucap Qaisya merasa heran. Alva pun langsung terkekeh.


"Ya karena kamu memang ngangenin banget." Ucap Alva yang selalu ingin merayu Qaisya.


"Ah terserah pada mu kak." Ucap Qaisya tak peduli.


"Jangan gitu dong, oh ya besok pulang les kakak jemput ya." Ucap Alva.


"Hore. . . di jemput." Ucap Qaisya senang.


"Mau di bawain apa?" tanya Alva.


"Coklat." Ucap Qaisya sangat suka coklat.


"Baiklah sayang ku. Ya sudah kamu tidur ya." Ucap Alva ingin pulang saat itu.


"Baik kak, kakak juga tidur ya." Ucap Qaisya tak tau kalau Alva masih berada di rumah sakit.


"Pasti, selamat malam sayangku." Ucap Alva dengan suara yang lembut.


"Selamat malam juga sa-ya-ng." Ucap Qaisya yang masih kaku, ia pun langsung mematikan ponsel itu, jujur ia sangat malu jika mengatakan sayang ke Alva.


Alva terkekeh saat melihat ponsel itu sudah di matikan oleh Qaisya, ia merasa lucu dengan tingkah Qaisya yang selalu takut jika ingin mengatakan hal romantis pada Alva. Alva senyum-senyum sendiri di dalam mob, Qaisya mampu membuat emosi Alva mereda seketika. Alva pun langsung menghidupkan mobilnya, ia ingin pulang saat itu, ia tak peduli lagi dengan Rinja yang tinggal sendirian di dalam ruangan itu.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2