Bocil Kontrak

Bocil Kontrak
Bab 18 : Bertemu Rinja


__ADS_3

Sore hari pun mereka sampai di rumah, Alva berpamitan pada nenek, tak lupa ia sangat berterima kasih pada nenek karena telah mengizinkan Qaisya ikut bersamanya. Qaisya merasa kelelahan, ia pun melanjutkan tidurnya setelah Alva pamit pulang.


___________________


Pukul 10 pagi, Qaisya tak datang ke rumah Alva, ia memilih bermain ke jalanan, ia sangat merindukan anak-anak di sana. Bagaimana pun ia tak akan lupa dengan teman-temannya yang ada di sana.


"Hai kak." Ucap salah satu dari mereka. Qaisya pun langsung berlari kecil ke arah mereka. Qaisya langsung merebut koran yang ada di tangan anak itu, ia ingin membantu mereka berjualan hari ini.


"Kakak bantu ya." Ucap Qaisya sambil tersenyum.


"Wah. . . makasih banyak kak." Ucap anak itu senang.


Cuaca yang panas tak menyurutkan semangat anak-anak di sana untuk mencari rezeki, mereka sudah terbiasa terkena panasnya matahari. Qaisya berjualan di lampu merah, menawarkan koran pada pengendara motor dan mobil.


"Kak beli koran." Ucap Qaisya menawarkan, kaca mobil itu pun langsung turun secara perlahan.


"Loh kamu?" ucap seorang wanita tampak kaget saat melihat Qaisya.


"Ada apa ya kak?" tanya Qaisya ikutan heran.


"Kamu pacarnya Alva kan? jadi kamu jualan koran?" ucap wanita itu menertawakan Qaisya.


"Kamu siapa?" tanya Qaisya tak tau siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku Rinja, bukan kah kamu hari itu datang ke acara pernikahan ku bersama Alva? hahahaha ternyata selera Alva anak tengik jalanan." Ucap Rinja tertawa mengejek. Qaisya langsung terdiam saat mengetahui orang itu adalah Rinja, Qaisya hanya menunduk menahan malu, setelah itu ia pun langsung pergi dari sana.


"Eh eh tunggu dulu, aku mau beli koran." Ucap rinja saat melihat Qaisya pergi dari sana. Langkah kaki Qaisya pun terhenti, ia pun kembali ke mobil Rinja, demi Anka jalanan ia harus menahan malu.


"Berapa korannya?" tanya Rinja.


"2 ribu saja." Ucap Qaisya pelan.


"Hahahhahhaha ternyata kamu orang miskin. Nih aku beli semuanya, lebihnya buat kamu saja anak jalanan tengik." Ucap Rinja tertawa riya'. Qaisya pun hanya bisa menunduk.


"Terima kasih." Ucap Qaisya yang langsung pergi sari sana. Qaisya langsung menemui anak jalanan yang ada di sana, ia memberikan uang kertas 100 ribu sebanyak dua lembar.

__ADS_1


"Wah banyak sekali uang nya kak." Ucap mereka kaget.


"Bawa saja, traktir kawan-kawan mu makan siang ini. Kakak harus pulang ada pekerjaan penting yang harus kakak selesaikan." Ucap Qaisya ingin pergi dari sana.


"Baik kak, makasi ya kak." Ucap mereka senang. Qaisya pun hanya tersenyum, ia langsung beranjak pergi dari sana.


Sesampainya di rumah ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia masih memikirkan tentang Rinja, bagaimana kalau Alva tau ia sering bermain dengan anak jalanan? pasti Alva akan marah karena tidak bisa menjaga nama baik Alva.


"Bagiamana ini? kenapa aku harus bertemu dengan wanita itu?" Qaisya masih tampak kesal.


__________________


"Hai Alva." Ucap seorang wanita, Alva pun langsung menoleh ke arah belakang, suara yang tak asing lagi baginya. Aldo yang tengah makan juga melihat ke arah sumber suara.


Mereka sedang makan siang di sebuah restoran, restoran favorit Alva dan juga Rinja saat mereka masih bersama. Rinja tau di mana Alva jika di siang hari, ia bisa menebak pasti alva masih mencintainya saat ini.


"Hai Alva." Ucap Farid menyapa Alva. Alva dan Aldo pun hanya tersenyum ke arah Farid. Rinja sengaja mengajak Farid makan di restoran itu, karena ia ingin melihat Alva di sana.


Mereka duduk berdekatan, kedatangan mereka membuat Aldo dan Alva tak nyaman. Tapi bagaimana pun mereka tetap melanjutkan makannya.


"Apa sayang?" tanya Farid antusias.


"Tadi sekitar jam 10 aku jumpa cewek di jalanan, lagi jualan koran. Dan kamu tau sayang, ternyata yang jualan koran itu pacarnya Alva hahahhahhaha." Rinja tertawa mengejek, Farid pun langsung ikut tertawa saat itu.


Alva yang mendengar itu pun langsung kaget, bukan kaget karena Qaisya menjual koran tapi kaget Rinja menertawakan Qaisya jualan koran.


"Masak sih seorang CEO pengusaha terkenal memiliki pacar anak jalanan yang tengik hahahha dasar laki-laki bodoh gak pinter cari jodoh." Rinja tertawa lagi diikuti oleh Farid yang terus mendukung istrinya.


"Heh kalian bisa diam? ini bukan tempat umum bukan rumah kalian!!" ucap Aldo dengan suara yang sedikit meninggi.


"Idih, kok malah Lo sewot sih." Ucap Rinja tak suka melihat Aldo.


"Sudah do, biarin aja." Ucap Alva yang tak ingin memperpanjang masalah itu.


"Tapi. . . "

__ADS_1


"Sudah ayo pulang." Ucap Alva langsung bangkit dari duduknya.


"Alva Alva, kau benar-benar tak bisa move on dari ku? bahkan makan saja harus di sini." Ucap Rinja tertawa lagi.


"Apa? kau tak tau kalau. . . . " suara Aldo pun terputus saat Alva menutup mulut Aldo, ia langsung membawa Aldo dari sana.


"Lo kenapa sih?" ucap Aldo kesal saat mereka sudah berada di luar restoran itu.


"Gak usah memperpanjang masalah dengannya." Ucap Alva.


"Dia bilang Lo gak bisa move on hanya gara-gara Lo makan di sini, apa dia gak tau restoran ini milikmu?" ucap Aldo yang masih di selimuti rasa emosi.


"Dia tidak tau restoran ini milik ku, jadi biarkan saja dia mengejek ku." Ucap Alva dengan suara yang datar.


"Tumben Lo gak marah-marah." Ucap Aldo heran, karena biasanya Alva akan cepat marah walaupun masalah itu hanya sepele.


"Sudah lah, kau kembali pulang ke kantor. Aku masih ada urusan, aku menaiki taksi saja." Ucap Alva yang langsung pergi saat itu. Aldo hanya diam terpaku melihat Alva yang pergi meninggalkannya di sana.


________________


"Haloo?" ucap seorang pria dari sebrang sana. Jantung Qaisya berdetak lebih kencang dari biasanya, hal yang ia takuti dari tadi malah menelpon dirinya, ia sangat takut jika Alva akan memarahi dirinya.


"Ha. . . halo kak." Ucap Qaisya gugup.


"Kamu di mana?" tanya Alva.


"Di rumah kak." Ucap Qaisya takut.


"Datang ke taman kanak-kanak dekat rumah mu ya, aku sudah hampir sampai. Cepat datang ke sana tidak ada alasan apapun. Cepat ke sana." Ucap Alva yang langsung mematikan teleponnya. Jantung Qaisya semakin berdebar kencang, ia yakin pasti akan di marahi Alva habis-habisan. Kalau dia tak pergi ke sana pasti Alva akan datang ke rumah dan nenek akan tau permasalahan ini, tapi kalau Qaisya pergi ke sana ia tak siap di marahi Alva.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2