
Sore itu, Alex dan Natasya memutuskan untuk pergi ke AX Entertainment sambil membawa proposal mereka berencana untuk merekrut, Aktor Populer ini.
Saat memasuki gedung itu, Alex merasa tempat ini cukup familiar, dulu ketika dirinya masih kecil dirinya sering berkunjung ke tempat ini.
Pelan-pelan ingatannya semakin kembali.
Dirinya ingat, itu dirinya berhenti dari Dunia Hiburan setelah lulus Sekolah Dasar, jadinya tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat ini lagi.
Jadi, kemungkinan besar tidak ada orang yang mengenalinya.
Karena memang Keluarganya, lebih suka menjaga privasi, hingga seluruh Identitas Keluarga jarang untuk diketahui oleh publik.
"Nona Natasya tunggu di Mobil saja, biar saya saja yang masuk,"
Natasya awalnya hendak turun dari mobil itu jelas langsung menatap Alex dengan ekpersi heran.
"Kenapa? Aku kira kita akan ke sana berdua,"
"Tidak apa-apa, Apakah Nona tidak yakin dengan kemampuanku?"
Mendengar itu, Natasya lalu menghelat nafas, kembali duduk di kursi mobil dan segera menyerahkan proposal di tangannya ke Alex.
"Baiklah-baiklah, kamu yang maju, Aku akan menunggumu di sini,"
"Terimakasih, Nona," kata Alex sambil mengambil dokumen itu, kemudian hendak pergi namun langsung dicegah Natasya.
"Alex, tunggu dulu. Ada yang terlupa,"
Alex segera berbalik dan menatap Natasya, lalu segera bertanya,
"Apa itu?"
Natasya lalu segera mengelus rambut Alex, dan berkata,
"Aku yakin Alex bisa, semagat ya,"
Dengan gerakan sederhana yang tiba-tiba itu, telinga Alex benar-benar memerah, juga jantungnya langsung berdebar-debar cukup kencang.
Tidakan intim ini benar-benar membuat Alex merasa tersentuh.
"Ya, terima kasih atas dukungannya,"
Baru setelah itu, Alex pergi mencoba menormalkan kembali detak jantungnya yang tidak karuan itu.
Astaga, Nona Natasya terkadang selalu bisa membuat dirinya terkejut.
Alex lalu mulai mengusap rambutnya, yang tadi di di pegang Natasya.
Ahhh...
Rasanya sangat luar biasa...
Ukhh, apakah dirinya juga memiliki kebiasaan semacam ini di masa lalu?
Ah, sepertinya Mamanya sangat suka mengelusnya seperti ini.
Tidak lama, sampai Alex tiba di pintu masuk gedung.
Dia menarik nafas dalam-dalam, dan segera bertanya ke Resepsonis, soal dimana Leo berada.
"Saat ini, Tuan Leo sedang berada di ruangan Pribadinya di Lantai 10 bersama Managernya,"
Mendengar itu, Alex segera menuju ke lantai atas, tempat Leo berada.
Dan tentu saja, dirinya langsung di hadang oleh beberapa orang yang sepertinya seorang pengawal, yang mengawal pintu ruangan itu.
"Saya ingin bertemu dengan, Leo Cartwright,"
"Apakah kamu sudah punya janji?"
"Belum,"
"Kalau begitu kamu tidak bisa bertemu dengannya dia saat ini sedang sibuk,"
Alex tahu jika akhirnya akan menjadi seperti ini, lalu segera berkata pada pengawal itu,
"Bilang padanya, Temannya yang bernama Alex ingin bertemu dengannya,"
__ADS_1
Sang Pengawal itu, segera saling menatap satu sama lain, mereka adalah Pengawal baru, dan tidak begitu mengenal teman-teman dari Majikan mereka.
Salah satu pengawal segera mengaguk, dan masuk kedalam untuk bilang pada Leo.
Leo di dalam awalnya sedang membaca Naskah Drama yang di bintanginya itu, sambil memakan camilan.
Sampai akhirnya Pengawalnya datang memberikan Informasi yang tidak bisa dipercaya.
"Apa kamu bilang? Alex? Seseorang yang mengaku temanku bernama Alex ada di depan dan ingin bertemu denganku?"
Leo ketika mendengar nama itu, jelas merasa sedih, temannya yang berharga yang meninggal dalam kecelakaan Tragis.
Leo menjadi marah ketika memikirkan ada orang demi kepentingannya sendiri sampai mengaku-ngaku temannya bernama Alex, Leo yang marah itu segera berkata,
"Suruh dia masuk,"
Ya, Leo jelas ingin memarahi sendiri orang itu.
Berani-beraninya ada yang mengaku-ngaku sebagai Sahabatnya Alex!!
Sungguh tidak bisa dipercaya!
Namun ekpersi Leo gerak berubah menjadi pucat ketika melihat Alex masuk ke Ruangan itu.
"Ha... Hantu!!"
Leo berteriak dengan panik bahkan sampai naik ke atas lupa saking paniknya melihat wajah Alex.
Alex udah menduga sahabatnya itu akan berperilaku semacam itu.
"Leo, ini Aku Alexander Smith, Aku bukan hantu, Aku masih Hidup!!"
Leo tidak mempercayai dengan apa yang didengarnya.
"Kamu benar-benar, Alex? Kamu... Kamu masih hidup? Ini bukan hantu?"
Melihat temannya panik itu, Alex lalu memegang tangan Leo, membuat Leo sekali lagi kaget.
"Ini.... Ini Benar-benar Alex?"
"Ya, ini Aku Alex,"
"Astaga... Kamu benar-benar masih hidup, Aku kira kamu sudah meninggal.... Aku begitu syok dan sedih setelah mendengar berita kematianmu...."
"Ya, aku masih hidup aku selamat dari kecelakaan itu,"
"Namun Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"
"Mari duduk dulu, aku akan menceritakan sekilas tentang apa yang terjadi padaku,"
Pelukan itu segera dilepaskan, lalu keduanya duduk di Sofa.
Alex mulai menceritakan soal Kecelakaan yang dialami dirinya, dan tentang seorang yang mencoba mencelakakannya.
Dan bagaimana saat itu dirinya di tolong oleh Natasya, dan dirinya yang mulai menyembuyikan diri ketika pemilihan, takut-takut jika dirinya kembali ke keluarganya musuh yang mengincarnya akan muncul.
Alex tidak menceritakan tentang bagaimana dirinya hilang ingatan.
Dirinya hanya tidak ingin membuat temannya itu cemas lagi pula perlahan-lahan ingatannya juga sudah kembali.
"Aku memintamu merahasiakan semua ini dari siapapun termasuk Keluargaku, ataupun adikku," kata Alex setelah mengakhiri ceritanya.
"Aku mengerti, Aku akan merahasiakan semua ini,"
Lalu baru setelah itulah, Alex menyerahkan dokumen yang dirinya bahwa, membuat Leo bertanya-tanya.
"Aku ke sini untuk meminta beberapa bantuan darimu,"
Leo binggung, namun tanpa banyak berpikir segera menjawab,
"Apapun yang kamu minta jika aku sanggup melakukannya Aku akan membantumu,"
Alex mulai menjelaskan soal seseorang yang menolongnya mengalami beberapa masalah, dan membutuhkan seorang Brand Ambasador untuk Produk Perusahaannya.
"Aku ingin membalas budi padanya dengan memberikan seberapa pertolongan, kuharap kamu membantuku,"
Mendengar kata-kata menyakinkan dari Alex itu, Leo segera tertawa,
__ADS_1
"Astaga, apakah yang menolongmu itu seorang gadis? Apakah dia cantik?"
Melihat Leo tidak fokus dengan kata-katanya malah fokus pada seorang yang menolongnya itu membuat Alex sedikit kesal.
"Jangan coba-coba mendekatinya,"
Mendengar kata-kata dingin itu, Leo sekali lagi tertawa dan berniat mengoda Alex.
"Astaga... jangan bilang kamu memiliki perasaan pada gadis ini situlah alasan kenapa kamu menolongnya? Kamu ini dasarnya, lupakan soal balas budi atau alasan-alasan lainnya, aku yakin kamu masih tetap disamping gadis ini dan tidak ingin kembali, karena kamu masih ingin menggoda dengan gadis ini bener bukan?"
Wajah Alex jadi sedikit memerah karena malu melihat temannya itu benar-benar menebak sebagian besar secara benar.
"Diamlah. Kamu mau membantuku atau tidak?"
Mendengar kata-kata dingin itu, Leo segera mengalah.
"Pffff... Baik-baik, Aku akan membantumu,"
Lalu setelahnya, Leo meminta jatwal lengkap dan surat perjanjian itu.
Melihat jatwalnya sebenanya cukup kosong, Leo tanpa pikir panjang langsung tanda tangan surat perjanjian, nanti soal masalah kontrak akan diurus di perusahaan setelahnya.
Alex yang melihat itu tentu saja merasa senang.
"Terimakasih, Leo. Kita akan bertemu lagi nanti aku pergi dulu,"
Leo hanya bisa meng geleng-geleng kan kepalanya melihat Alex pergi.
"Baik-baik, dasar sedang di mabuk cinta, sana pergi temui Dewimu itu, nanti telepon Aku lagi kalau sempat,"
Mereka juga sudah bertukar nomor ponsel.
"Tentu saja," kata Alex lalu pergi.
Baru setelah itu, Leo sadar sesuatu.
Tunggu, bukankah Alex itu sudah memiliki orang yang dia suka?
Apakah hatinya tiba-tiba berubah atau semacamnya?
Sudahlah, itu bukan urusannya pula.
####
Alex hati ini berjalan memasuki Lift, rasa sangat senang karena rencananya berhasil.
Namun tiba-tiba dirinya sakit perut dan ingin segera ke kamar mandi.
Alex segera berhenti di lantai acak untuk mencari kamar mandi.
Cukup lama ketika Alex berada di kamar mandi, tepat setelah dirinya selesai, Alex keluar dari kamar mandi namun betapa terkejutnya dia ketika bertemu dengan wajah yang familiar.
"Papa...."
Antony awalnya hendak masuk ke kamar mandi namun tidak mengira jika di depan pintu kamar mandi dirinya akan bertemu wajah familiar yang sangat dirinya rindukan.
Putra Kesayangannya, yang dirinya kira sudah meninggal.
"Alex? Inikah kamu? Kamu masih hidup?"
Tanpa banyak kata-kata, Antony lalu memeluk Alex.
Alex juga tidak tahu harus merespon seperti apa, dirinya tidak akan pernah mengira jika dirinya akan bertemu dengan Ayahnya.
Namun memikirkannya, ini mungkin adalah sebuah ide yang bagus untuk bertemu Ayahnya.
Awalnya, dirinya masih sedikit bingung harus menyelidiki Bagaimana soal insiden yang menimpanya.
Jika bertemu Mamanya atau Adik-adiknya, mereka pasti akan panik dan begitu sedih, dan Alex masih takut membahayakan mereka.
Namun Ayahnya berbeda, Ayahnya adalah seseorang yang hebat, seseorang yang selalu menjadi panutannya.
Mungkin, dirinya bisa meminta bantuan dari Ayahnya?
Alex yakin, Ayahnya akan bisa membantu menyelesaikan masalahnya saat ini, dan bisa merahasiakan keberadaannya saat ini, seorang Ayah yang sangat bisa dirinya andalkan.
"Ya, Papa, ini Alex. Alex masih hidup...."
__ADS_1
Rasanya seolah dirinya bisa merasa sangat lega setelah bertemu dengan Ayahnya, Ayah yang juga sangat dirinya rindukan.
Alex hanya bisa berharap keputusan yang dirinya ambil saat ini cukup tepat untuk meminta bantuan Ayahnya ini.