
Hari-hari segera berlalu dengan cepat, saat ini di Rumah Keluarga Smith, tengah diadakan sebuah acara besar, ini adalah Ulang Tahun dari Emelin Smith, Ibu dari Alexander Smith.
Tentu saja pesta itu dihadiri oleh begitu banyak orang.
Alex dan kedua adiknya, tentu saja sudah menyiapkan Pesta Besar ini dengan sangat baik, mereka sekarang sedang memberikan hadiah pada Mama mereka itu.
"Selamat Ulang Tahun, Mama, Aku tidak tahu apakah hadiah yang aku beli akan Mama sukai atau tidak," kata Alex dengan ceria, sambil memberikan sebuah kotak hadiah untuk Mamanya itu.
Emelin menerima kotak itu dengan senang lalu segera berkata,
"Apa? Untuk Mama, Keberadaanmu disini saja adalah sebuah hadiah terindah, Mama sangat bersyukur, kamu bisa selamat dari Kecelakaan itu, sungguh gak ada hadiah yang terbaik selain kamu sehat dan selamat,"
"Benar, Alex. Kamu ada disini, jelas hadiah terindah untuk Mamamu ini," kata Antony yang berada disana mendampingi Istrinya itu.
Alex yang mendengar itu, tentu saja juga merasa senang.
Berikutnya, Alena dan Julio juga secara bergiliran mulai memberikan hadiahnya.
Alex merasa senang melihat pemandangan hangat ini.
Tepat ketika mereka masih asik mengobrol, ada seseorang yang cukup familiar datang kearah mereka.
"Selamat Ulang Tahun, Tante Emelin, terima kasih telah mengundang ku pesta ini,"
"Pfff... Emma, kamu ini seperti siapa saja, sesudah saling kenal sejak kamu muda, kamu sering berkunjung ke rumah, kamu juga sudah Tante Anggap sebagai Keluarga sendiri,"
Mendengar kata-kata itu, Emma lalu tersenyum dan mulai menyerahkan hadiahnya.
"Semoga Tante Emelin suka,"
Setelahnya, Emma mulai mengobrol dengan si kembar, setelah itu dirinya menyapa Alex.
Alex juga merasa cukup senang ketika bertemu dengan teman masa kecilnya itu, walaupun rasanya sedikit aneh ketika menatap ke arahnya.
Apakah hatinya sudah berubah?
"Alex, kamu apa kabar? Kamu sudah lama tidak menghubungi ku, sejak Aku kembali ke Perusahaan Ayahku,"
"Begitulah sejak kejadian itu aku menjadi begitu sibuk untuk belajar kembali tentang hal-hal bisnis jadi aku belum sempat menghubungi mu lagi,"
"Pffff, memang benar. Tidak terasa bukan? Sudah hampir dua bulan sejak kamu kembali ke Rumah ini sejak Insiden itu,"
Memang, Alex juga merasa waktu berjalan begitu cepat ketika dirinya sibuk bekerja.
Dan selama beberapa bulan ini, dirinya masih hanya menatap Natasya dari kejauhan, dan melihat gadis itu baik-baik saja.
"Ya, waktu benar-benar terasa sangat cepat,"
Alena yang ada disamping Alex jelas menjadi bersemangat dan berbisik kearah Kakaknya ini,
"Cie, Kak Alex, bukankah ini saatnya Kakak mengungkapkan perasaan Kakak? Saka itu yang garis cup kalau sudah menyukai orang,"
__ADS_1
"Astaga, kamu ini mulai deh," kata Alex sambil mencubit pipi adiknya itu.
"Hey, apa yang kalian berdua bicarakan kenapa berbisik seperti itu?" Kata Emma yang penasaran.
"Pfff... Tidak ada apa-apa, Kok Kak. Aku hanya merasa jika Kakakku Alex ini sangat Tampan, benar bukan Kak Emma?"
Emma juga lalu tersenyum dan menatap Alex dari bawah ke atas, lalu segera mengacungkan jempolnya dan berkata,
"Ya, Kakakmu Alex memang sangat tampan,"
Alena yang mendengar itu, segera menyenggol Alex, sambil mengedipkan matanya, seolah-olah memberikan kode agar Kakaknya itu segera sigap.
Alex tidak tahu harus mengatakan apa, yah karena adik-adiknya memang hanya tahu jika dirinya menyukai Emma sejak lama.
Namun, rasanya sekarang dirinya tidak tahu apakah masih menyukainya atau tidak.
Bersama dengan gadis itu, rasanya cukup nyaman, namun entah kenapa dirinya masih selalu memikirkan soal Natasya, tentang bagaimana Emma ini memiliki sikap yang cukup mirip dengan Natasya.
Ini membuat Alex semakin binggung, apakah dirinya merasa nyaman sebelumnya bersama dengan Natasya, karena sikap Natasya cukup mirip dengan Emma?
Karena kemiripan ini juga, perasaannya pada Natasya menjadi seperti itu?
Hanya memikirkan hal ini membuat dirinya cukup rumit.
Cinta benar-benar sesuatu yang tidak bisa ditebak.
Apakah dirinya menyukai Natasya karena mirip Emma?
Namun...
Soal Emma sekarang...
Ketika Alex sibuk berpikir itu, tiba-tiba seorang Pria datang.
Ini adalah seorang Pria yang tidak pernah Alex lihat, Pria itu mendekati Emma.
Alena juga kaget dengan kedatangan Pria itu tiba-tiba.
"Ah, benar Aku sempat lupa memperkenalkan dia pada kalian, Ini adalah Brian Kekasihku," kata Emma tiba-tiba.
Hal ini jelas membuat Alena yang berada disana menjadi kaget, begitu pula dengan Alex.
"Kekasih Kak Emma? Tapi sejak kapan?" Tanya Alena kaget, sambil menatap dengan tiga nyaman ke arah Kakaknya.
Emma sekarang memiliki wajah memerah karena malu, dan berkata,
"Ahahaha... Namanya juga cinta, kadang-kadang datang dengan cepat,"
Pria bernama Brian itu lalu segera berkata,
"Ya, begitulah. Kami berdua belum lama ini ke mana di sarah satu kencan buta, dan dia kami pikir kamu cukup cocok satu sama lain, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini,"
__ADS_1
"Sebuah kencan buta?"
Mendengar pertanyaan Alena itu, Emma sedikit malu,
"Yah, begitulah. Dia anak dari Teman Ayahku, orang tua kami yang memperkenalkan kami,"
Alena mendengar itu hanya bisa memberikan ekspresi canggung.
"Ah, begitu. Ahahaha... Aku hanya sedikit terkejut Kak Emma tiba-tiba memiliki Kekasih,"
"Ahahaha... begitulah orang tuaku sudah dingin melihat aku menikah dan mereka juga ingin segera melihat cucu mereka,"
Alena lalu melihat bagaimana Brian itu mulai mengandeng tangan Emma.
Melihat pemandangan itu, Alena menatap kearah Kakaknya Alex yang saat ini memiliki wajah tanpa ekspresi.
Sungguh, Alena merasa tidak enak dengan Kakaknya, lalu negara mencoba mengajak Kakaknya itu pergi dari sana.
Alex menatap pasangan itu, yang terlihat sangat mesra, entah kenapa kehilangan kata-kata.
Dirinya yang mencoba bilang jika dirinya tidak begitu memiliki perasaan pada gadis itu, namun sekarang ketika melihat dia bersama dengan orang lain, kenapa hatinya begitu sakit?
Kemudian sebuah ingatan lama mulai muncul...
Ingatan terlupakan, tentang bagaimana dirinya bisa jatuh cinta pada Emma.
Sebuah senyuman hangat yang selalu ada di sininya...
"Kak Alex apakah tidak apa-apa?"
Mendengar adiknya khawatir itu, Alex hanya tersenyum,
"Aku tidak tahu,"
"Kak Alex jangan menjadi terlalu depresi, semua akan baik-baik saja. Aku yakin Kak Alex akan menemukan orang yang lebih baik, mungkin Kak Emma memang bukan jodoh Kakak,"
Melihat ekpersi khawatir dari adiknya itu, Alex mencoba menjaga ekspresinya lalu tersenyum.
"Ya, semua akan baik-baik saja..."
Alex lalu mulai menuju ke dalam rumah, ingin menenangkan pikiran dan hatinya.
Sebuah ingatan bisa hilang, namun harusnya perasaan masih tetap di hati.
Jadi apakah kebaikan Natasya padanya selama ini, membuat hatinya merasa Natasya mirip dengan gadis yang dirinya sukai?
Jadi dirinya mengagap Natasya sebagai pengganti?
Memikirkan soal hatinya ini, membuat Alex merasa semakin takut untuk bertemu lagi dengan Natasya.
Apakah dirinya memiliki keberanian untuk bertemu dengannya lagi?
__ADS_1