
Hari ini aku benar-benar menghabiskan waktu seharian bersama dengan Andika, lebih tepatnya menghabiskan waktu untuk bercinta.
Andika benar-benar meminta haknya tanpa henti, mentang-mentang dia berkata jika dirinya akan pergi ke luar kota, dia seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Andika berkata jika setelah pulang dari pantai dia akan mengantarkan aku pulang, tapi nyatanya dia malah mengajak aku menginap di sebuah penginapan yang tidak jauh dari pantai.
Andika benar-benar mewujudkan keinginannya, bercinta sesuai dengan keinginannya. Aku bahkan sampai susah berjalan saat bangun tidur, Andika sampai meminta maaf berkali-kali.
"Kalau seperti ini aku tidak bisa bekerja," rajukku.
Aku memeluk Andika seraya menyandarkan kepalaku pada dada Andika, rasanya sangat nyaman.
"Maaf, aku pasti akan bertanggung jawab," ucapnya.
Dalam hati aku ingin tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Andika, dia bilang akan bertanggung jawab. Memangnya kami sepasang kekasih yang baru saja khilaf yang awalnya meraba-raba sehingga berakhir di atas tempat tidur, gitu.
Walaupun aku hanya istri kedua, tapi aku adalah istrinya juga. Dia melakukan hal yang pantas dia lakukan terhadap istrinya, hanya saja jangan keterlaluan.
"Maksudnya?" tanyaku.
Andika terlihat berpikir, tapi tangannya tetap saja membelai puncak kepalaku dengan sangat lembut.
"Kita akan pergi ke Rumah Sakit sebelum aku pergi ke luar kota," kata Andika.
Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku, rasanya akan begitu malu jika aku harus ke Rumah Sakit dan memeriksakan kondisi area intiku.
"Ngga mau!" tolakku.
Mendengar apa yang aku katakan, Andika langsung menunduk. Dia memperhatikan raut wajahku dengan penuh tanya.
"Tapi--"
Dia seakan hendak melayangkan protesnya, tapi dengan cepat aku memotong ucapan dari Andika, suamiku.
"Malu, anterin aku pulang aja," pintaku.
Bagaimana coba aku menjawab pertanyaan dari dokter nanti, malu banget rasanya jika harus membicarakan masalah peribadi.
Andika terlihat menatapku dengan tatapan penuh protes, tapi aku berusaha untuk memberikan pengertian kepada dirinya jika aku baik-baik saja.
"Baiklah, tapi kamu harus beristirahat. Jangan bekerja dulu," pinta Andika.
Raut wajah penuh khawatir begitu jelas tergurat di wajahnya, entah kenapa setelah menikah dengan Andika aku merasa dia benar-benar menjadi suamiku.
Tidak ada lagi Andika yang seperti dulu, Andika yang sering konyol. Andika benar-benar terlihat seperti lelaki yang bertanggung jawab terhadap istrinya.
"Iya," jawabku karena tidak mau lagi berdebat dengan suamiku itu.
"Ayo aku antar pulang," kata Andika seraya menggendongku dan mendudukanku di atas bangku yang ada di samping kemudi.
__ADS_1
"Iya," jawabku.
Akhirnya Andika pun mengantarkan aku pulang ke apartemen mewah yang sudah dia berikan untukku, selama di perjalanan menuju ke apartemen, Andika terus saja memintaku untuk memeluknya.
Tentu saja aku menurutinya, aku memeluknya dengan erat dan menyadarkan kepalaku di pundaknya.
Hari ini rasanya aku merasa begitu dekat dengan suamiku, walaupun hanya sehari saja. Namun, rasanya sangat berarti bagiku.
Saat tiba di lobi apartemen, Andika tidak segera membukakan pintu mobilnya. Dia tetap saja mengunci pintu mobilnya, aku tidak bisa keluar.
Karena takut dia akan telat untuk pergi keluar kota, akhirnya aku pun meminta Andika untuk membukakan pintu mobilnya.
"Ka, sono berangkat ih. Aku mau turun," pintaku.
Tatapan mata Andika tetap lurus ke depan, dia seolah enggan untuk menatapku. Namun, dia menyahuti apa yang aku ucapkan.
"Turunlah," kata Andika seraya mengecup keningku.
Aku langsung mencebikan bibirku, bagaimana aku bisa turun jika Andika terus saja mengunci pintu mobilnya dari dalam.
"Turunnya bagaimana? Pintu mobilnya aja kamu kunci!" ucapku dengan nada protes.
"Maaf, Pimoy. Rasanya aku belum ikhlas untuk pisah sama kamu," kata Andika.
Dia terlihat begitu berat untuk pergi dan melepaskan diriku dari dekapannya, aku pun sebenarnya merasa berat. Namun, kami harus berpisah.
"Pergilah, kalau sudah sampai jangan lupa mengabari," ucapku.
"Ya," jawabnya dengan enggan.
Andika terlihat mengambil sebuah paper bag, lalu dia memberikannya kepadaku. Aku ingin bertanya apa isinya, tapi malu untuk berucap.
"Ambillah, bukanya nanti kalau sudah di dalam kamar kita," kata Andika.
"Ya," jawabku.
"Love you, Pimoy!" katanya seraya mengecup keningku dengan penuh kasih.
Setelah mengatakan hal itu, Andika akhirnya membukakan pintu mobilnya. Aku melerai pelukanku dengan Andika, lalu aku memberikan senyuman termanisku kepadanya.
Aku juga memberikan sebuah kecupan manis di bibirnya, setelah itu aku segera turun dari mobilnya.
Tentu saja hal itu aku lakukan agar Andika tidak terpancing kembali, karena kini aku baru tahu jika gairahnya dalam bercinta sangatlah besar.
Sekilas aku melihat Andika tertawa, tidak lama kemudian dia terlihat melambaikan tangannya, lalu menutup pintu mobilnya dan segera pergi.
Aku tersenyum melihat kepergiannya, lalu aku segera melangkahkan kakiku untuk segera masuk ke dalam apartemen yang sudah dua minggu ini aku tempati.
"Assalamualaikum, Bu," sapaku saat kubuka pintu.
__ADS_1
Ibu yang sedang duduk anteng seraya menonton tv, langsung menolehkan wajahnya ke arahku.
Dia tersenyum, lalu merentangkan kedua tangannya. Aku sempat tersenyum melihat kelakuan ibu, karena dia seperti menganggap diriku anak kecil.
Aku membalas senyumannya, kemudian aku pun langsung menghampiri ibu dan memeluknya dengan sangat erat.
"Dari mana saja? Kenapa malem ngga pulang? Terus ngga ngasih kabar juga, kenapa?" tanya Ibu.
"Pergi sama Andika," ucapku.
"Ibu paham, tapi lain kali jangan sampai lupa waktu dan lupa untuk memberi kabar," kata Ibu.
"Maaf," ucapku.
"Tidak apa-apa, sekarang beristirahatlah." Ibu melerai pelukan kami.
"Ya," jawabku.
Setelah berpamitan kepada ibu, akhirnya aku pun pergi ke dalam kamar. Tiba di kamar aku langsung merebahkan tubuhku yang terasa begitu lelah, bahkan rasanya tubuhku seakan remuk redam karena ulah Andika.
"Semoga kamu selamat sampai tujuan," ucapku sebelum mata ini terpejam.
Sebenarnya ini masih sangat pagi, tapi rasa lelah dan juga rasa kantuk begitu mendera. Akhirnya aku putuskan untuk tidur saja, aku ingin mengistirahatkan tubuhku.
----
POV Author.
Andika terlihat melajukan mobilnya dengan cepat menuju kediaman Andini, dia hanya beralasan saja kepada Aulia jika dirinya akan pergi ke luar kota.
Padahal, dirinya hanya akan mengurus Andini dan juga perusahaan yang kini sedang dia rilis. Dia sengaja merilis usaha miliknya sendiri, tentunya selain itu dia masih mengurus perusahaan gabungan dari perusahaan milik Alika dan juga Andini.
Hal itu dia lakukan agar suatu saat nanti, dia bisa memberikan sesuatu hal yang berharga untuk Aulia.
Dia ingin berusaha mengembangkan usahanya yang baru, dia berharap agar suatu saat nanti dia bisa hidup bahagia dengan Aulia, semoga itu bisa terlaksana. Itulah keinginan Andika.
"Aku pulang," kata Andika.
"Hem, masuklah. Terima kasih sudah pulang dan mau mengurusku dengan baik, padahal kamu bisa menyewa perawat," kata Andini.
"Sudahlah, jangan bicara seperti itu lagi." Andika menghampiri Andini dan. mengecup keningnya dengan lembut.
"Ehm, Mas. Kamu ganti parfum?" tanya Andini.
"Hah?" Tanya Andika seraya menjauhkan tubuhnya dari Andini.
****
Selamat malam, Ayang. Satu bab menemani malam kalian semua, terima kasih atas dukungannya. Loves sekebon Nangka, kalian selalu luar biasa.
__ADS_1