
Andini terlihat mengajak Ibu Ani beserta dengan Anastasya untuk masuk ke dalam ruang keluarga, mereka terlihat mengobrol dengan begitu akrab.
Andika terlihat duduk di atas sofa tidak jauh dari Andini yang sedang mengajak Anastasya bermain di atas karpet berbulu dekat televisi, dia memperhatikan istrinya.
Balita cantik itu terlihat begitu bersemangat bermain bersama dengan Andini, bahkan tidak henti-hentinya dia memanggil Andini dengan sebutan mama.
Hal itu membuat Andika menyadari satu hal, balita cantik itu begitu membutuhkan Andini. Bahkan, kini terbersit di benak Andika untuk menemui Aiden.
Aiden adalah cinta pertama dari Andini, dia percaya jika Aiden sampai saat ini masih mencintai istrinya tersebut.
Pasalnya, Andika beberapa kali melihat kedekatan antara Aiden dan juga Andini ketika bersama dengan putri cantiknya, Anastasya.
Tatapan mata Aiden tetap tidak berubah, penuh cinta dan juga kasih saat menatap Andini. Namun, mereka berdua sebisa mungkin menahannya agar tidak ada rasa hadir kembali.
Lebih tepatnya, Andini yang terlihat begitu menjaga jarak dengan Aiden. Karena Andini terlihat sedang menjaga hatinya agar tidak terluka.
Andika jadi berpikir, mungkin jika dirinya tidak bisa membahagiakan Andini dia bisa menitipkan Andini kepada orang yang tepat.
Andika terlihat tersenyum, lalu dia menghampiri Andini. Dia mensejajarkan tubuhnya dengan Andini lalu berkata.
"Aku akan pergi dulu, sepertinya akan pulang setelah makan siang. Kamu tidak usah menungguku, aku menitipkan Axel kepadamu," ucap Andika berpamitan.
Andini terlihat menatap Andika dengan heran, karena Andika tiba-tiba saja berpamitan kepada dirinya untuk pergi.
"Memangnya kamu mau ke mana, Mas? Katanya hari ini kamu tidak akan bekerja?" tanya Andini.
Andika tersenyum mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Andini, dia terlihat mengecup pipi Andini lalu berkata.
"Ya, semuanya sudah di handle sama Alif. Tapi, aku punya keperluan lain saat ini. Tolong jaga putraku," pinta Andika.
Andini memang tidak menyukai Axel, karena Axel terlahir dari kebohongan yang Andika ciptakan di belakangnya.
Jika saja Andika tidak berbohong, dia pasti akan menerima Axel sebagai putranya. Namun, sungguh dia begitu kecewa dengan Andika yang ternyata rela berbohong hanya untuk menutupi putranya Axel yang terlahir dari rahim Aulia.
Namun, kini nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak bisa mengedepankan egonya, karena kini yang harus dia pikirkan adalah bagaimana cara memperbaiki hubungannya dengan Andika.
Walaupun mereka akan berpisah, tapi tetap saja Andini ingin mereka mempunyai hubungan yang baik setelah perceraian nanti.
"Ya, pergilah. Aku pasti akan menjaganya," ucap Andini seraya tersenyum hangat kepada lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
Setelah mengatakan hal itu Andika juga berpamitan kepada Ibu Ani, dia bahkan menyempatkan diri untuk menyapa Anastasya.
"Aku pergi," ucap Andika yang langsung menunduk dan mengecup kening istrinya.
Tujuan Andika saat ini adalah pergi ke kantor di mana Aiden bekerja, dia sudah tidak sabar untuk menemui lelaki yang masih mencintai Andini dengan sangat dalam itu.
Sebelum dia berpisah dengan Andini, dia ingin memastikan jika Andini hidup dengan orang yang tepat.
Dia ingin memastikan jika Andini akan hidup bahagia di sisi laki-laki yang tepat, laki-laki yang benar-benar mencintai dirinya sangat dalam tidak seperti dirinya.
__ADS_1
Hidup bersama dengan Andini selama empat tahun bukan karena cinta, selain karena kasihan Andika juga patut berterima kasih karena berkat Andini perusahaan Wijaya kini berkembang dengan sangat pesat.
Jika ada pepatah yang berkata bahwa seorang lelaki bisa tidur dengan wanita yang tidak dia cintai sekalipun, ternyata Andika merasakan hal itu.
Dia melakukan semua kegiatan ranjang yang begitu dia gemari itu bersama dengan Andini, bukan karena cinta. Namun, karena kebutuhan. Bukan karena cinta dia melakukan hal itu, tapi karena ingin memuaskan.
Berbeda dengan Andini yang mencintai Andika, setelah beberapa bulan dia menikah dengan pria itu, sikap Andika yang begitu manis membuat Andini begitu mudah untuk mencintai sosok pria asing yang menikah dengannya itu.
"Aku benar-benar harus melakukannya," kata Andika.
Saat tiba di kantor tempat Aiden bekerja, banyak para karyawan yang memperhatikan penampilan Andika yang datang dengan memakai baju santai.
Andika terlihat memakai kaos panjang berwarna navy dipadupadankan dengan celana jeans berwarna senada, Andika terlihat sangat tampan.
Banyak para karyawan wanita yang menatap Andika dengan tatapan lapar, dia terlihat lebih muda dari usia sebenarnya
Sebelum Andika menghampiri meja resepsionis, bahkan seorang wanita muda yang bekerja di balik meja resepsionis itu sudah menghampiri Andika terlebih dahulu.
"Selamat siang, Kak. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis muda itu. Dia terlihat begitu mengagumi ketampanan Andika, dia begitu mengagumi kharisma Andika.
"Saya mau bertemu dengan tuan Aiden," jawab Andika santai.
"Oh, tuan Aiden ya? Sebentar, anda bisa duduk dulu di atas sofa tunggu. Saya akan menghubungi tuan Aiden terlebih dahulu," ucap resepsionis muda itu.
"Oh, oke!" jawab Andika.
Resepsionis muda itu terlihat hendak melangkahkan kakinya untuk menuju tempat kerjanya, tapi langkahnya berhenti karena dia langsung menolehkan wajahnya ke arah Andika.
"Andika, nama saya Andika," jawaban Andika.
"Oh, oke!" ucap resepsionis muda itu.
"Hem," ucap Andika.
Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat melangkahkan kakinya untuk duduk di atas sofa yang berada di ruang tunggu. Sedangkan resepsionis muda itu terlihat kembali ke meja kerjanya.
Wanita muda yang berprofesi sebagai resepsionis tersebut terlihat menelpon Aiden, pria yang berprofesi sebagai asisten pribadi dari sang pemilik perusahaan.
Selama menelpon Aiden, wanita itu terlihat terus saja menatap wajah Andika. Bukan hanya wanita itu saja yang terlihat memandang kagum ke arah Andika, tapi banyak juga karyawan wanita lainnya.
Tidak lama kemudian, Aiden nampak turun dengan wajah gugup setelah mendengar resepsionis yang bekerja di perusahaannya mengatakan nama Andika. Dia benar-benar merasa takut.
Sudah beberapa bulan ini Aiden dekat kembali dengan Andini, walaupun memang tujuan Andini adalah datang untuk menemui putrinya.
Namun, tetap saja dengan kedatangan Andini yang sering ke rumahnya, hal itu membuat dirinya dengan mudah kembali mencintai wanita yang pernah menjadi mantannya itu.
Apalagi setelah melihat kedekatan Anastasya dan juga Andini, hal itu membuat Aiden berharap lebih. Dia berharap bisa menjadi suami dari Andini.
Walaupun pada kenyataannya itu sangat mustahil untuk Aiden, karena Andini memang sudah menikah dengan Andika selama empat tahun lamanya.
__ADS_1
Aiden sangat yakin jika Andini mencintai Andika, karena tatapan matanya saat beradu pandang dengannya terlihat begitu lain. Tidak seperti dulu lagi.
Saat tiba di ruang tunggu, Aiden terlihat berdehem beberapa kali. Lalu, dia memasang senyum terbaiknya dan segera mengulurkan tangannya.
"Selamat siang, Tuan Andika. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Aiden berusaha berbicara dengan tegas.
Andika yang sedang duduk seraya memainkan ponselnya terlihat bangun, lalu dia membalas uluran tangan dari Aiden.
"Oh ya, selamat siang Tuan Aiden. Saya ingin berbicara dengan anda, tapi tidak di sini. Bisakah kita pergi ke tempat lain? Hanya sebentar, saya tidak akan lama," pinta Andika.
Mendengar permintaan dari Andika, Aiden terlihat melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.25 Aiden tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, karena kebetulan waktu istirahat juga akan segera tiba. Bagaimana kalau kita pergi ke Resto saja? Sekalian kita melaksanakan makan siang," ajak Aiden.
Andika terlihat mengangguk setuju dengan apa yang diusulkan oleh Aiden, apalagi tadi pagi dia tidak sempat sarapan karena sibuk mencari Andini.
Akhirnya kedua pria tampan itu terlihat pergi dari perusahaan menuju Resto yang dipilihkan oleh Aiden, tentunya Resto yang tidak jauh dari perusahaan tempat dia bekerja.
Hal itu dia lakukan agar saat jam kantor tiba, dia bisa langsung bekerja kembali dengan tidak menghabiskan waktu yang banyak.
Mungkin bagi Andika menghabiskan waktu di luaran di jam kerja merupakan hal yang wajar, tapi itu tidak berlaku untuk Aiden yang hanya bekerja di perusahaan orang lain saja.
"Silakan duduk, Tuan Andika. Mau makan apa?" tanya Aiden.
Andika terlihat mengambil buku menu, begitupun dengan Aiden. Mereka terlihat mau memesan beberapa makanan kesukaan mereka.
Setelah menentukan pesanan, seorang pelayan terlihat begitu sigap melayani pesanan dari kedua pria matang itu.
Untuk sesaat Andika dan juga Aiden nampak terdiam, mereka seolah sedang memilah-milah kata apa yang tepat untuk dikeluarkan dan tidak saling menyakiti.
"Oh ya, Tuan Andika. Apa tujuan anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Aiden dengan ragu.
Padahal di dalam hatinya dia sangat takut jika Andika akan marah kepada dirinya, karena dia sudah sering pergi bersama dengan Andini.
Walaupun Andini sering berkata jika dia sudah tidak memiliki perasaan apa pun kepada Aiden, karena cintanya sudah beralih kepada Andika. Namun, tetap saja mereka sering jalan bersama. Karena di antara mereka ada Anastasya.
"Ini tentang Andini, aku--"
Belum selesai Andika mengutarakan pendapatnya, seorang pelayan datang membawa pesanan kedua pria dewasa itu.
"Silakan dinikmati, Tuan," ucap pelayan itu setelah menata pesanan dari Andika dan juga Aiden.
"Iya, terima kasih Nona," ucap Andika dan juga Aiden secara bersamaan.
Karena keduanya memang sedang lapar, akhirnya kedua pria dewasa itu memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.
Lima belas menit kemudian perut mereka pun sudah terisi, Andika terlihat menegakkan tubuhnya dengan tangan kanannya yang terus saja memainkan sedotan di atas gelas minumannya.
Tidak lama kemudian, pria yang masih berstatus sebagai suami Andini itu mulai berdehem beberapa kali dan dia pun mulai mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Tuan Aidan, bisakah anda menjaga Andini? Bisakah anda menikahi Andini dan membahagiakannya? Bisakah anda tidak menyakitinya seperti saya?" tanya Andika to the poin.
Mendengar pertanyaan dari Andika, Aiden langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Dia tidak percaya dengan apa yang Andika tanyakan saat ini kepada dirinya.