
Asep benar-benar tidak menyangka akan ada anak kecil yang memeluk kakinya dengan erat, bahkan anak kecil itu dengan lantangnya memanggil dirinya dengan sebutan ayah.
Dia benar-benar sangat terkejut sekali, Asep bahkan lebih terkejut lagi ketika melihat reaksi dari Thomas dan juga Aksa.
Aksa terlihat menatap Asep dengan tatapan penuh pertanyaan, sedangkan Thomas terlihat menatap dirinya dengan tatapan tajamnya.
Hal itu membuat dirinya tidak nyaman, Asep berusaha untuk melepaskan pelukan dari bocah kecil itu.
Dia adalah pria lajang, sudah barang pasti sang ayah dan sahabat dari ayahnya tersebut akan menatap dirinya dengan tatapan penuh tanya.
Asep terlihat menghela napas panjang, kemudian dia menghembuskannya dengan perlahan. Dia mencoba untuk bersikap dengan setenang mungkin.
Lalu, dia terlihat berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan bocah tampan itu.
Saat Asep melihat wajah bocah tampan tersebut, dahinya terlihat mengerut dalam. Karena, bocah cilik yang terlihat begitu tampan itu adalah bocah yang tadi malam dia temui.
Bocah kecil yang begitu anteng main sendirian di depan toko kue, anak yatim yang begitu merindukan sosok ayahnya bisa hadir dalam kehidupan nyatanya.
"Hai, Boy! Kamu mau apa pagi-pagi ke sini? Terus kamu datang sama siapa?" tanya Asep.
Setelah mengatakan hal itu Asep terlihat mengedarkan pandangannya, dia terlihat mencari wanita cantik yang menjadi ibu dari anak tampan tersebut.
Sayangnya dia tidak menemukan sosok wanita itu, tidak lama kemudian Asep kembali menatap wajah bocah tampan itu kemudian dia berkata kembali.
"Kamu datang sama siapa, hem?" tanya Asep lagi.
Rasanya tidak mungkin bukan, jika bocah tampan itu datang sendirian. Apalagi ke Resto yang tempatnya lumayan jauh dari toko kue milik wanita itu.
"Hans datang sama Buna," jawab Hans dengan raut wajah yang menggemaskan.
Padahal Asep belum pernah dekat dengan wanita, dia belum pernah berpacaran bahkan belum pernah menikah. Namun, dia merasa begitu suka saat melihat bocah tampan itu.
"Buna-nya, mana, Sayang?" tanya Asep seraya mencubit gemas pipi Hans.
"Tuh!" tunjuk Hans dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Asep langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Hans, tidak lama kemudian senyum di bibir Asep terlihat mengembang, karena dia menangkap sosok wanita cantik yang tadi malam dia temui.
Wanita itu terlihat datang dengan langkah kaki yang tergera, lalu dia terlihat menghampiri Aksa dan memeluk pria itu dengan penuh kasih.
Kembali dahi Asep mengernyit ketika melihat wanita itu memeluk Aksa dengan erat, dia menatap kedua insan tersebut dengan tatapan penuh tanya.
"Ayah, maafkan aku. Aku telat datang," ucap perempuan itu.
Asep terlihat menatap Aksa dan juga wanita itu secara bergantian, jika wanita cantik itu memeluk Aksa dan menyebut Aksa dengan sebutan ayah, itu artinya wanita tersebut adalah anak dari sahabat daddynya.
Dengan seperti itu, artinya bocah tampan yang bernama Hans itu adapah cucu dari Aksa. Cucu dari teman daddynya.
Asep merasa semua ini terasa membingungkan, dari pada banyak berpikir, Asep malah berdiri dan menggendong Hans.
"Tidak apa, Sayang. Ehm! Tolong jelaskan kepada Ayah, kenapa Hans bisa memanggil Asep dengan sebutan Ayah!"
Aksa terlihat mengurai pelukannya, lalu dia menatap putrinya dengan tatapan penuh tanya. Putri dari Aksa itu terlihat mengernyitkan dahinya, lalu dia bertanya.
"Maksud Ayah apa? Aku tidak paham?" tanya wanita cantik itu.
Aksa terlihat menatap wajah putrinya, lalu dia juga terlihat menolehkan wajahnya ke arah Asep dan berkata.
Wanita cantik itu langsung menolehkan wajahnya ke arah Asep yang terlihat sedang menggendong putranya.
Sungguh dia merasa tidak enak hati karena ini adalah kali kedua putranya terlihat begitu dekat dengan seorang pria, tadi malam dan pagi ini.
"Oh ya ampun, Hans, Sayang. Buna sudah bilang, Abi sudah tiada. Kamu tidak boleh memanggil Om-nya dengan sebutan Ayah," ucap wanita itu.
Suara wanita itu terdengar lembut, tapi penuh dengan penekanan. Hal itu membuat Hans takut, karena bunanya sudah dua kali menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
"Sorry, Buna. Hans hanya merasa jika"--Hans terlihat menundukkan kepalanya dengan dalam--"Om-nya mirip dengan Abi."
Hans memeluk Asep dengan erat, dia bahkan terlihat menyembunyikan wajahnya di dada bidang Asep.
Hans terlihat ketakutan, dia takut jika ibunya akan marah terhadap dirinya. Wanita itu terlihat menghela napas berat, sekilas bahkan wanita itu terlihat memperhatikan wajah Asep.
__ADS_1
Bentuk mata Asep memang terlihat sama dengan almarhum suaminya, hanya saja. warna matanya nampak berbeda.
Asep memiliki warna mata coklat kehijauan, sedangkan almarhum suaminya mempunyai warna mata coklat keemasan.
Mungkin Hans menyebut Asep dengan sebutan ayah karena tatapan mata mereka yang terlihat sama dalam menatap, itulah yang wanita itu bisa tebak.
"Tapi, Sayang. Kamu tidak boleh seperti itu, bagaimana kalau nanti ada orang yang salah paham," ucap wanita itu dengan tidak enak hati.
Asep merasa, jika wanita yang berada di hadapannya itu terlihat begitu keras dalam menolak keinginan dari putranya.
Menurut Asep putranya itu begitu ingin mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, apa salahnya jika wanita itu menikah lagi, pikinya.
Toh wanita yang ada di hadapannya itu masih terlihat sangat muda, dia bisa menebak jika wanita itu terlihat seusia dengan Aulia.
Pasti di luar sana ada banyak pria yang ingin menikahinya, terlebih lagi wanita itu terlihat sangat cantik walaupun sudah memiliki seorang putra.
Satu hal lagi yang terpenting, setelah Asep perhatikan tenyata teman dari ayahnya itu adalah pengusaha sukses dan hebat bernama Aksara Pramudiya.
Sudah pasti banyak pria yang ingin menjadi pasangan hidup dari wanita itu, karena menikah dengan seorang janda seperti ibu dari Hans itu pasti akan mendatangkan banyak keuntungan.
"Sudahlah, jangan bicara lagi. Kasian Hans, aku tidak keberatan dia memanggil aku Ayah atau Om. Lagi pula aku tidak punya kekasih, kamu tidak perlu takut akan ada wanita yang salah paham," jelas Asep.
"Tapi--"
"Aku tidak datang untuk berdebat," pungkas Asep.
"Oke, maaf. Karena akhir-akhir ini dia memang sering merajuk masalah ayah, mungkin karena sering melihat teman-temannya yang suka bermain dengan ayahnya," ucap wanita itu.
"Tidak apa," jawab Asep.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Asep, Thomas benar-benar merasa tidak percaya karena putra bungsunya yang biasanya manja dan susah diatur itu bisa berkata dengan bijak.
"Ehm! Bagaimana kalau kita lanjutkan saja obrolan kita di salah satu ruangan yang ada di sana saja," tawar Aksa.
"Hem, itu lebih baik." Thomas terlihat menolehkan wajahnya ke arah ruangan berdinding kaca yang ada di Resto tersebut.
__ADS_1
"Hans, Sayang. Sini gendong sama Buna," ucap wanita itu seraya mengulurkan kedua tangannya.
"No, Buna!" tolak Hans semakin mengeratkan pelukannya kepada Asep.