Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Berpulang


__ADS_3

Aiden terlihat kebingungan mendengar permintaan dan pertanyaan dari Andika, setahunya rumah tangan Andika dengan Andini baik-baik saja.


Andini bahkan tidak pernah berkata hal apa pun tentang keretakan rumah tangganya, Andini juga tidak pernah bertingkah mencurigakan.


Andini terkesan bahagia dengan pernikahannya dengan Andika, makanya Aiden tidak pernah berani menyinggung kedekatan antara dirinya dan Andini.


Namun, kini Aiden jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa Andika malah terkesan memberitahu dirinya jika rumah tangganya dengan Andini tidak baik-baik saja.


"Maksud anda apa ya? Kenapa anda terkesan sedang menguji saya?" tanya Aiden.


Mendengar apa yang ditanyakan oleh Aiden, Andika terlihat menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak berniat untuk menguji Aiden, permintaan Andika benar-benar dari dasar hatinya.


"Aku dan Andini akan bercerai, tolong jaga Andini dengan baik. Bahagiakan dia, karena aku yakin kamu masih sangat mencintai dirinya." Andika meminta dengan sangat tulus.


Aiden terlihat begitu kaget, bisa-bisanya Andika berkata seperti itu padanya. Namun, ada rasa senang di dasar hatinya ketika mendengar Andini dan Andika akan bercerai.


Karena itu artinya, kesempatan untuk dirinya kembali kepada Andini sangat besar. Bahkan, dia berpikir jika Anastasya akan memiliki ibu sambung yang tidak lain adalah wanita yang begitu dia cintai sampai saat ini.


"Aku mohon, bahagiakan dia. Aku hanya lelaki yang tidak bisa membahagiakan Andini, makanya aku melepaskan wanita sesempurna Andini. Namun, tolong jangan pernah menyinggung satu hal," pinta Andika.


Dahi Aiden mengernyit dengan dalam saat Andika berkata seperti itu, Aiden menjadi penasaran sebenarnya ada apa lagi yang tidak dia tahu.


"Apa?" tanya Aiden.


Andika terlihat menghela napas berat, dia tahu jika ini adalah kekurangan istrinya. Namun, dia tidak bermaksud untuk menjelekkan wanita yang masih jadi istrinya.


"Andini tidak bisa mengandung, rahimnya sudah diangkat. Jika memang kamu mencintainya, aku yakin kamu akan menerima kekurangannya. Lagi pula kamu sudah punya Anastasya, tidak punya anak dari Andini juga tidak masalah bukan?" tanya Andika.


Aiden terlihat menghela napas berat, dia bingung harus senang atau harus sedih. Di satu sisi dia senang karena mendapatkan kesempatan untuk bisa mendapatkan cinta pertamanya.


Namun, di sisi lain dia merasa sedih karena Andini ternyata akan bercerai. Bahkan dia merasa sedih ketika mendengar jika Andini tidak bisa mengandung dan melahirkan.


Sudah pasti Andini akan merasa sangat kecewa dan sedih karena menjadi perempuan yang tidak sempurna, Aiden benar-benar merasa sangat sedih.


"Jangan diam saja, jawablah! Kumohon jaga Andini setelah bercerai dengan aku, kumohon menikahlah dengan Andini."


Bukan tidak ingin menikah dengan Andini, hanya saja semuanya terasa berat. Namun, masih ada masa idah selama tiga bulan sepuluh hari.


Kalau memang Andini akan bercerai dengan Andika, maka dia akan dengan serius mendekati wanita yang masih merajai hatinya itu.


"Akan aku pikirkan, aku memang masih sangat mencintai Andini. Namun, aku bukan orang yang suka memanfaatkan keadaan."

__ADS_1


Aiden terlihat berkata dengan gamang, dia begitu kebingungan. Di hati dan juga logikanya kini sedang berperang.


"Oh ya Tuhan, aku mohon. Aku akan merasa sangat berdosa karena tidak bisa membahagiakan Andini," pinta Andika.


Andika benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan Andini, tapi Andika juga tidak bisa menahan perasaannya saat kembali bertemu dengan Aulia.


Dia benar-benar bahagia saat bertemu dengan Aulia, dia bahkan berusaha untuk memutar otaknya agar bisa bersama dengan Aulia.


Tuhan seakan berpihak kepada dirinya, saat itu Aulia mengusulkan untuk dirinya menikah lagi. Karena tidak mau kehilangan kesempatan, akhirnya Andika pun memaksa Aulia untuk menjadi istri keduanya.


"Dengarkan aku, Tuan Andika. Jika memang kami berjodoh, maka kami akan bersatu dalam ikatan pernikahan. Anda tidak perlu khawatir," jawab Aiden pada akhirnya.


Andika hanya bisa menghalang napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh Aiden, padahal menurutnya apa susahnya Aiden menuruti permintaannya.


Bukan tanpa alasan Andika meminta hal itu kepada Aiden, karena dia bisa melihat dengan jelas jika Aiden masih begitu mencintai Andini, cintanya terlihat begitu besar.


Di lain tempat.


Aulia baru saja selesai menyusui putra pertamanya, setelah putra pertamanya itu tertertidur dengan lelap Aulia pun terlihat turun dari tempat tidurnya.


Dia ingin segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk ibu tercintanya, Aisyah.


"Ada apa Asep? Apa yang terjadi dengan ibu?" tanya Aulia dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Keadaan Ibu Aisyah drop, aku akan membawanya ke Rumah Sakit. Kamu mau ikut atau tidak?" tanya Asep dengan tergesa.


Tentu saja Aulia ingin mendampingi ibunya, Aulia ingin menemani ibunya untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Aulia akhirnya meminta bibi untuk menjaga Alex, karena bayinya itu tidak mungkin dia bawa ke Rumah Sakit.


"Titip Alex, kalau ada apa-apa telpon aku," pinta Aulia.


"Iya, Nyonya!" jawab Bibi.


Setelah menitipkan putranya kepada bibi, akhirnya Aulia segera pergi menyusul Asep untuk membawa ibunya tersebut pergi ke Rumah Sakit.


Aulia terlihat begitu sedih sekali, bahkan selama perjalanan menuju Rumah Sakit dia terus saja memeluk tubuh lemah ibunya.


Saat tiba di Rumah Sakit, Asep dengan tergesa turun menggendong tubuh lemah Aisyah menuju ruang IGD. Aulia menerobos masuk karena ingin melihat kondisi ibunya.


Sayangnya, dokter tidak mengizinkan. Karena pasien akan diperiksa, jika ada keluarga pasien yang ikut masuk takutnya malah akan mengganggu dokter dalam memeriksa kondisi kesehatan dari Aisyah.


Akhirnya Aulia mengalah, dia duduk berdua di bangku tunggu yang ada di depan ruang IGD. Aulia dan juga Asep terlihat begitu khawatir.

__ADS_1


Asep memang baru saja satu hari tinggal bersama dengan Aisyah, tapi dia merasa jika dirinya begitu dekat dengan wanita paruh baya itu.


Menurut Asep, Aisyah begitu baik. Aisyah begitu ramah dan gampang berbicara dengan siapa pun, bahkan Asep yang jarang ngobrol dengan orang lain pun terlihat begitu dekat dengan Aisyah.


Di saat Aulia sedang memikirkan keadaan ibunya, pintu ruang IGD nampak terbuka. Dengan tergesa Aulia bangun dan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Aulia dengan khawatir.


Dokter tersebut nampak menggelengkan kepalanya, dia terlihat begitu prihatin saat memandang wajah Aulia.


Melihat reaksi dari dokter, Aulia pun jadi berprasangka buruk. Dia jadi merasa jika kini ibunya tidak baik-baik saja.


"Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan Ibu saya? Jangan membuat saya khawatir," pinta Aulia dengan air matanya yang sudah berurai di kedua pipinya.


"Maaf, Nyonya. Mungkin anda begitu menyayangi ibu anda, tapi ternyata Tuhan lebih menyayangi Ibu Aisyah," ucap dokter dengan penuh penyesalan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, tubuh Aulia langsung luruh ke atas lantai. Dia benar-benar merasa sangat sedih karena wanita terhebat yang dia miliki kini telah berpulang kepada Sang Khalik.


Dia sangat tahu jika keadaan Aisyah sangatlah buruk, dia tahu jika Aisyah tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Karena dokter pun sudah mengatakan hal seperti itu.


Aisyah mengalami kanker otak stadium empat, sudah dapat dipastikan jika usianya tidak akan lama lagi. Segala macam pengobatan yang dilakukan hanya mengurangi rasa sakitnya saja, tapi tidak bisa menyembuhkannya.


Melihat Aulia yang begitu lemah, Asep terlihat membantu Aulia untuk duduk di atas bangku tunggu, Asep tahu jika kini Aulia sedang merasa kehilangan.


"Sabar ya, Kak? Aku tahu kakak pasti sedih," ucap Asep berusaha menenangkan.


Aulia yang begitu sedih langsung menghambur ke dalam pelukan Asep, dia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Asep.


Dia benar-benar tidak menyangka jika kesedihan akan datang bertubi-tubi di dalam hidupnya, semuanya terasa terlalu cepat.


"Ibu, maafkan Aulia. Karena Aulia belum bisa menjadi anak yang berbakti sampai akhir hayatmu," ucap Aulia saraya menangis sesenggukan.


Aulia terlihat terus saja menumpahkan kesedihannya di dalam pelukan Asep, sedangkan Asep terlihat mengambil ponselnya dan meminta Albert dan juga Adisha untuk datang.


Ibu Aisyah harus segera dimakamkan, sedangkan dirinya harus berusaha untuk menenangkan Aulia. Maka dari itu dia meminta Albert dan juga Adisha untuk datang agar proses pemakaman cepat dilaksanakan.


Lagi pula Adisha adalah putri kedua dari Aisyah, dia harus tahu jika ibunya sudah meninggal. Karena pasti Adisha ingin melihat wajah ibunya sebelum dimakamkan.


"Sabar ya, Kak. Aku yakin Kakak pasti kuat, aku yakin Kakak pasti bisa menghadapi semua ini dengan lapang dada," ucap Asep terus mencoba menenangkan Aulia.


Aulia hanya bisa mengganggukan kepalanya di dalam pelukan Asep, dia begitu susah untuk berkata-kata. Bahkan, untuk bergerak pun seakan lemah tidak berdaya. Seluruh tulangnya seakan copot dari tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2