
💞Teruntuk Suamiku Tersayang💞
Tahukah kamu Andika, Sayang? Aku sudah mencintai kamu sejak usiaku lima belas tahun, aku menyukai seorang Andika Wijaya dengan tidak tahu dirinya.
Kebersamaan kita, canda tawa kita. Kebaikan kamu, perhatian kamu dan bahkan semua yang ada pada diri kamu membuat aku jatuh cinta.
Berawal dari kata sahabat, berubah menjadi rasa ketergantungan seperti obat psikotropika. Lama-kelamaan rasa itu menjadi sebuah rasa rindu dan juga cinta.
Sudah terlalu lama aku mau mendam rasa ini kepadamu, Andika, Sayang. Mungkin saat inilah aku menyatakannya, aku mencintai kamu.
Dulu, aku bahkan tidak pernah menolehkan wajahku ketika ada pria yang mendekati. Karena hatiku hanya untukmu, hatiku sudah terpaut dengan kamu.
Walaupun kamu tidak pernah membalas perasaanku, aku sangat senang karena selalu bisa berada di samping kamu.
Ketika aku mendengar dirimu mengatakan bahwa kamu akan menikah dengan Andini karena perjodohan, hatiku benar-benar sakit. Jiwaku terasa hancur lembur terbawa angin pilu.
Setelah pertemuan kita hari itu, aku langsung menghilang. Aku ingin menghindarimu, aku ingin jauh darimu. Dengan seperti itu aku berharap bisa secepatnya melupakan kamu, Sayang.
Namun, takdir seolah mempermainkan diriku. Di saat aku kembali datang karena ibuku sakit, di saat itu juga aku bertemu denganmu kembali.
Hal yang tidak pernah terduga juga kamu katakan kepadaku, kamu memintaku untuk menjadi istrimu. Kamu memintaku untuk melahirkan keturunan untukmu.
Awalnya aku ragu untuk menurutinya, karena aku tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga kamu. Namun, karena rasa cintaku terlalu besar kepadamu, aku pun mau menikah denganmu.
Maaf karena aku tidak berkata jujur jika aku mengandung bayi kembar, tentu saja hal itu aku lakukan karena aku takut jika harus berpisah dengan kedua bayi kembarku.
Setidaknya ada satu dari bagian dirimu yang aku bawa pergi, aku membawa si sulung bersamaku karena memang keadaannya kurang baik. Dia membutuhkan perawatanku, dia membutuhkan asiku.
Aku tinggalkan si bungsu bersamamu, rawatlah dia dengan baik. Jagalah dia dengan sepenuh jiwamu, aku mencintaimu. Selalu mencintaimu.
Berbahagialah dengan istrimu, karena kini kalian sudah mempunyai keturunan untuk keluarga Wijaya. Kamu jangan berselingkuh lagi, jangan melirik wanita lain lagi
Jika suatu saat kamu berselingkuh atau menikah kembali dengan wanita lain, aku akan datang untuk mengambil putra kita.
Semoga kamu sehat selalu, semoga kamu bahagia selalu. Aku sangat mencintaimu dari dulu sampai saat ini, aku tetap mencintaimu.
Bahkan, rasa cintaku semakin besar setelah kamu memberikan bayi kembar kepadaku. Terima kasih karena kamu sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi istrimu, ini sangat berharga bagiku.
Walaupun waktunya begitu singkat, tepatnya hanya satu tahun saja. Tapi ini sangat berarti untukku, jangan nakal lagi. Berbahagialah dengan Andini, istrimu.
Aku mencintaimu, jaga buah hati dariku untukmu dengan baik. Aku mencintaimu, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, sangat.
__ADS_1
Oiya, Andika, Sayang. Aku memberi nama pada putra pertama kita Alex, aku harap kamu mau memberikan nama Axel untuk putra kedua kita.
💞Salam sayang selalu dari wanita yang selalu mencintaimu💞
Andika langsung menangis sesenggukan membaca surat yang ditinggalkan oleh Aulia, dia benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya itu begitu mencintai dirinya.
Andika memang sering melihat tatapan yang berbeda dari Aulia, tapi dia tidak menyangka jika perasaan Aulia begitu dalam untuk dirinya.
Melihat putranya yang menangis tersedu-sedu, Alika terlihat menghampiri Andika. Lalu, dia menepuk punggung putranya tersebut dengan lembut.
"Ini adalah jalan yang kamu pilih, Sayang. Sekarang kamu mau apa lagi? Bukankah kamu yang meminta Aulia untuk menikah dan memberikan turunan kepadamu?" tanya Alika.
Andika terlihat menganggukkan kepalanya, dia memang meminta Aulia untuk menikah dengannya dan memberikan keturunan kepadanya.
Namun, di saat Aulia pergi bersama dengan putra pertamanya, rasanya Andika merasa sangat sakit. Dia begitu sulit untuk menerima kenyataan ini, dia merasa lemah.
"Aulia sudah menuruti apa yang kamu inginkan, sekarang ayo kita pulang. Kamu ingin pulang ke rumah Andini atau ke rumah Mom?" tanya Alika lagi.
"Aku mau pulang ke rumah Andini, tapi Mom harus ikut menemani. Bantu aku merawat putraku," ucap Andika dengan sedih.
"Baiklah, ayo kita pulang." Alika ingin segera pulang dan melihat reaksi dari Andini.
Alika ingin tahu apakah Andika akan jujur terhadap istrinya atau tidak, dia benar-benar tidak paham untuk jalan pikiran putranya saat ini.
Satu hal yang Alika pasti akan lakukan, dia ingin menyelidiki kemana kepergian dari Aulia karena walau bagaimanapun juga Aulia membawa cucu sulungnya.
Apalagi Aulia mengatakan jika putra pertamanya itu kondisi kesehatannya kurang baik, tentu saja Alika merasa sangat khawatir mendengar akan hal itu.
"Sus, apakah pembayaran untuk biaya melahirkannya sudah beres?" tanya Alika pada suster.
"Sudah," jawab suster.
"Oh, dengan siapa Aulia datang saat dia akan melahirkan?" tanya Alika lagi.
"Sendiri," jawab suster.
Mendengar jawaban dari suster hati Alika terasa mencelos, dia tidak menyangka jika Aulia benar-benar merencanakan semuanya dengan matang dan hanya sendirian.
"Ya Tuhan kasihan sekali Aulia melahirkan sendirian, pasti dia sangat sedih," ucap Alika dengan mata yang berkaca-kaca.
Begitupun dengan Andika, dia merasa sangat sedih. Sakit hati, dia juga merasa bersalah terhadap Aulia. Semua rasa campur aduk menjadi satu.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang, Mom," ajak Andika yang tidak mau berlama-lama lagi berada di sana.
"Hem," jawab Alika.
Pada akhirnya Alika dan juga Andika terlihat membawa bayi tampan itu pulang ke kediaman Andini, tentu saja hal itu Andika lakukan sesuai dengan kesepakatan yang bersama dengan Andini.
Saat pertama mereka menikah, Andini memang meminta agar mereka tinggal di kediaman Andini karena rumah itu adalah satu-satunya peninggalan dari orang tuanya.
Rumah itu mempunyai kenangan yang begitu manis untuk Andini bersama dengan keluarganya, tentu saja Andika menuruti.
Karena walau bagaimanapun juga, saat itu Andini adalah penyelamat bagi keluarganya. Jika tidak ada sokongan dana dari perusahaan milik ayah Andini, entah seperti apa kondisi perusahaan Wijaya kala itu.
Saat tiba di kediaman Andini, Alika terlihat menggendong cucu keduanya dengan penuh kasih. Sedangkan Andika terlihat berjalan di samping ibunya tersebut.
Saat Andika san Alika masuk ke dalam rumah, Andini terlihat kaget karena melihat bayi yang digendong oleh Alika.
"Mas sama Mom bawa siapa?" tanya Andini.
"Aku membawa putra tampan untuk kamu urus, jadikan dia penerus keluarga Wijaya. Mom yakin kamu bisa mengurusnya," jawab Alika.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, Andini terlihat tersenyum. Dia begitu senang karena mertuanya itu tidak mempermasalahkan keturunan dari dirinya.
"Oh, gitu ya, Mom. Boleh aku menggendongnya?" tanya Andini dengan antusias.
"Tentu saja, ini putra kalian. Tentu saja kamu boleh menggendongnya," kata Alika seraya memberikan bayi yang masih berwarna merah itu ke dalam gendongan Andini.
Andini terlihat begitu bahagia sekali saat menggendong putra tampan itu, dia bahkan terlihat menunduk untuk mengecup kening bayi itu.
Namun, saat dia menatap wajah putra tampan itu, dahinya terlihat mengernyit dalam. Dia begitu heran karena wajah dari bayi tersebut begitu mirip dengan Andika.
"Ini anak siapa, Mas?" tanya Andini.
Untuk sesaat Andika terdiam ketika mendapatkan pertanyaan seperti dari Andini, dia bahkan terlihat menolehkan wajahnya ke arah Alika. Dia seolah sedang meminta pertolongan kepada Alika.
Melihat raut wajah putranya yang begitu gelisah, Alika terlihat tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Dia seolah percaya dengan apa yang akan dikatakan oleh Andika kepada Andini.
Andika terlihat membalas senyuman ibu, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Andini lalu berkata.
"Dia putra sahabatku, aku harap dia mendapatkan kasih sayang yang sempurna dari kamu," jawab Andika tanpa berani menatap wajah Andini.
"Oh," jawab Andini dengan raut wajah tidak percaya.
__ADS_1