Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Lebih Tenang


__ADS_3

Ani merasa tidak percaya karena setelah tiga tahun tidak bertemu dengan Andini, kini dia kembali bertemu dengan wanita yang hampir menjadi menantunya itu.


Dia terlihat seperti ingin menangis karena memang dulu Andini begitu baik terhadap dirinya, sayangnya Andini malah memutuskan untuk berpisah dengan putranya.


Hal itu Andini lakukan atas keinginan dari orang tua Andini sendiri, alasannya sederhana. Ayah Andini harus membalas budi kepada ayah dari Andika.


Bukan hanya dengan memberikan sokongan dana saja kepada Alika, tapi ayahnya Andini juga harus menikahkan putrinya dengan anak dari putranya sahabatnya.


Ani dulu bisa melihat bagaimana sakitnya Aiden saat ditinggalkan oleh Andini, bahkan dia rela bekerja di luar kota agar tidak bertemu dengan Andini kembali.


Ani bahkan masih sangat mengingat kala ada wanita cantik yang mendekati Aiden kala itu, Aiden bertekad menerima Arini sebagai istrinya. Dia berharap dengan seperti itu bisa melupakan Andini, cinta pertamanya.


Di saat Aiden baru saja mencintai Arini, Tuhan berkehendak lain. Arini meninggal saat melahirkan putrinya Anastasya, bahkan belum sempat wanita itu menyusui putrinya.


Arini mengalami pendarahan hebat, hal itu membuat nyawanya tidak terselamatkan. Beruntung Anastasya kala itu terlahir dengan sempurna dan sehat.


Setidaknya ada Anastasya yang bisa mengobati luka hati Aiden saat itu, sehingga Aiden tidak terlalu terpuruk atas meninggalnya Arini karena masih ada bayi cantik dan mungil yang membutuhkan perhatiannya.


"Ibu apa kabar?" tanya Andini dengan bibir bergetar menahan tangis.


Dulu dia begitu dekat dengan wanita paruh baya itu, bahkan jika ada apa-apa pun Andini selalu mencurahkan isi hatinya kepada Ibu dari Aiden tersebut.


Bahkan, ketika Aiden merasa kurang perhatian pun Andini akan mencurahkan isi hatinya kepada Ani.


Sayangnya, kebersamaan mereka harus berakhir ketika dirinya menikah dengan Andika, lelaki yang sama sekali dia tidak kenal.


"Ibu baik," jawab Ani dengan tatapan matanya yang tidak teralihkan dari Andini.


Wanita muda di hadapannya itu terlihat begitu cantik, begitu manis dan tetap perhatian. Pantas saja jika putranya tidak bisa membuka diri, pikirnya.


"Bolehkan aku menggendong Anastasya?" tanya Andini.


Ani tidak menjawab pertanyaan dari Andini, dia malah menatap wanita yang berada di hadapannya itu dengan lekat.


"Ibu, Anastasya menangis terus. Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Andini lagi karena Ani tetap bergeming.


Aiden yang melihat ibunya terdiam langsung mengelus lembut pundak ibunya tersebut, lalu Aiden berkata.


"Andini mau menggendong Anastasya, boleh kan, Bu?" tanya Aiden.


Ani yang terlihat sedang fokus dalam lamunannya, kini seakan tertarik ke alam nyata. Dia tersenyum, lalu dia pun berkata.

__ADS_1


"Ah, iya boleh," jawab Ani seraya menyerahkan Anastasya ke dalam gendongan Andini.


Hati Andini merasa sakit ketika melihat Anastasya menangis, dengan cepat Andini mendekap bayi mungil itu lalu menyadarkannya di dadanya.


Andini dengan penuh kasih mengelus lembut punggung Anastasya, sehingga dengan cepat bayi mungil itu terlihat lebih tenang. Bahkan, tidak ada suara tangisan yang keluar dari bibirnya.


Baik Aiden, Ani dan juga Andini terlihat bernapas dengan lega. Mereka begitu tenang karena akhirnya Anastasya bisa terdiam.


"Jangan menangis lagi ya, Sayang. Kamu mau apa? Biar Tante kasih,'' kata Andini dengan lembut.


Ani dan juga Aiden terlihat saling tatap, mereka merasa bersyukur karena dengan adanya Andini, Anastasya terlihat bisa lebih tenang.


"Sepertinya dia begitu mengantuk, hanya saja dia begitu enggan untuk tidur bersama dengan ibu," praduga Ani.


"Kalau begitu mana botol susunya? Biar aku yang mencoba untuk menidurkannya," usul Andini.


"Kalau begitu kamu memberikan susunya di dalam saja, kalau misalkan dia tertidur akan lebih gampang," usul Ani.


"Baiklah," jawab Andini.


Ani terlihat melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar miliknya, tentu saja Anastasya ingin dia ajak tidur bersama dengan dirinya, satu kamar dengan dirinya.


Bukannya takut Aiden tidak bisa mengurus Anastasya, hanya saja Aiden siangnya harus bekerja. Tidak mungkin jika malam tiba Aiden harus begadang untuk membuatkan susu.


"Kamu tiduran saja sama Anastasya, biar enak ngasih susunya," kata Ani seraya memberikan botol susu milik Anastasya.


Tanpa banyak bicara Andini terlihat menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun merebahkan tubuh mungil Anastasya yang kini sudah tidak menangis lagi.


Andini juga terlihat ikut merebahkan tubuhnya seraya mengelusi punggung Anastasia dengan lembut, sedangkan Anastasya mulai menghisap susu dengan kedua tangannya yang menggenggam erat botol susunya.


"Kamu tuh manis sekali, Sayang. Baru tiga bulan sudah bisa pegang botol susu sendiri," gumam Andini.


Ani tersenyum melihat kedekatan antara Andini dan juga Anastasya, dia terlihat tersenyum bahagia.


"Ternyata kamu sangat kehausan," kata Andini saat melihat Anastasya menghisap susu dari botol tersebut dengan sangat cepat.


"Ibu sangat bersyukur karena ada kamu, dari tadi dia tidak mau minum susu. Tapi setelah ada kamu dia mau meminumnya," ucap Ani dengan senang.


"Syukurlah, Bu. Sepertinya sebentar lagi dia akan tidur, dia akan beristirahat dan tidak akan lelah lagi," kata Andini.


***

__ADS_1


Di lain tempat.


Sesuai dengan apa yang Andika katakan, seharian ini dia menemani Aulia. Dia menuruti apa pun yang diinginkan oleh istri keduanya tersebut.


Andika bahkan malam ini menginap di apartemen mewah yang sudah dia berikan kepada Aulia, dia memang sering meluangkan waktu untuk istri keduanya itu setelah Aulia hamil.


Dia bahkan selalu berbohong kepada Andini jika dirinya pergi ke luar kota, atau pun sedang mengurusi kantornya karena banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.


Beruntung Andini adalah wanita yang tidak pernah banyak bicara, dia selalu mengiyakan walaupun hatinya sakit dan selalu bertanya-tanya.


Setelah makan malam, Aulia dan juga Andika menonton serial drama Korea sampai Aulia tertidur di dalam dekapan hangatnya.


"Tidurlah, Sayang. Maaf aku membawa kamu ke dalam rumitnya hidupku," kata Andika setelah merebahkan istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya.


Keesokan harinya.


Setelah sarapan pagi Andika terlihat pergi ke kantornya, karena hari ini ada meeting penting yang harus dia lakukan.


Selepas kepergian Andika, Aulia pun telah bersiap untuk memeriksakan kandungannya. Sengaja dia memeriksakan kandungan tanpa Andika, selain takut ada yang melihat kebersamaan mereka, dia juga tidak ingin Andika tahu jika bayi yang dia kandung adalah bayi kembar.


Wajah Aulia berbinar ketika dokter berkata jika kedua bayi Mereka begitu sehat dan sudah mulai aktif bergerak, Aulia begitu senang karena memang beberapa kali dia merasakan gerakan di dalam perutnya.


Walaupun memang gerakan itu masih sangat pelan, karena memang usia kandungannya baru delapan belas minggu.


"Sehat-sehat ya kalian di dalam Bunda," kata Aulia seraya mengelus perutnya yang memang sudah membuncit.


setelah memeriksakan kandungannya, Aulia memutuskan untuk pergi ke kedai soto yang dulu biasa dia singgahi bersama dengan Andika.


Entah kenapa dia begitu ingin makan soto itu, mulutnya seakan berliur ketika membayangkan rasa gurih dan juga asam dari kuah soto tersebut.


Mungkin inilah yang dinamakan dengan ngidam, Aulia merasa senang bisa merasakan hamil dan juga ngidam yang sering diobrolkan oleh ibu-ibu.


Setidaknya jika nanti dia tidak menikah lagi, dia sudah pernah merasakan hamil dan juga melahirkan.


Ya, Aulia sudah memutuskan tidak akan menikah lagi jika dia berpisah dengan Andika. Cukup Andika yang pernah menikahinya, cukup Andika yang pernah menyentuh dan menggaulinya.


"Pimoy, Sayang. Kamu di sini? Kamu sendiri? Kamu kok perutnya--"


Aulia yang sedang menikmati soto yang sangat ia inginkan, langsung terdiam seribu bahasa kala dirinya bertemu dengan Alika yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.


Wanita paruh baya itu terlihat menatap perut Aulia dengan tatapan tidak percaya, dia terlihat begitu kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2