Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Merayu


__ADS_3

Kebahagiaan kini sedang menyelimuti hati Andika, karena setelah berbicara panjang lebar dengan Aulia kini dia diperbolehkan untuk makan malam bersama dengan wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.


Dia benar-benar bahagia karena walaupun Aulia bersikap ketus terhadap dirinya, tapi saat makan malam tiba pun Andika dilayani dengan sangat baik.


Andika bahkan merasa nyaman tinggal di apartemen Albert, karena Albert, Adisha dan juga Asep terlihat bersikap biasa saja kepada Andika.


Mereka terkesan tidak ingin ikut campur antara hubungan yang terjadi antara Aulia dan juga dirinya, dia merasa senang.


"Makanlah! Jangan terus menatapku, karena makanan itu tidak akan langsung masuk dengan sendiri ke dalam perutmu." Aulia berkata seraya memberikan piring berisikan nasi beserta lauknya kepada Andika.


"Ah, iya, Sayang." Andika langsung mengambil sendok dan terlihat melaksanakan ritual makan malamnya.


Tatapan mata Andika terus saja tertuju kepada istrinya tersebut, karena dia begitu merindukannya. Rasanya dia ingin terus berlama-lama dengan istrinya tersebut.


Aulia terlihat duduk tidak jauh dari Andika, kemudian dia mengendok nasi dan hendak memakannya.


Namun, belum ada satu suapan pun yang masuk ke dalam mulutnya, dia mendengar suara tangisan dari putra pertamanya.


Aulia terlihat menghela napas panjang, kemudian dia pun pergi ke dalam kamarnya untuk menyusui Alex.


Karena sudah dapat dipastikan jika anak pertamanya itu kini sedang kehausan, dia pasti sedang mencari sumber makanannya.


Melihat akan hal itu Andika terlihat makan dengan tergesa, bahkan dia sampai tersedak karena terlalu cepat dalam menyuapkan makanannya.


Adisha yang melihat akan hal itu langsung menyodorkan segelas air putih kepada Andika, karena dia merasa tidak tega saat melihat wajah Andika yang terlihat sedang menahan rasa sesak di dadanya.


"Makanlah dengan pelan, tidak akan ada yang meminta jatah makananmu," ucap Adisha.


Andika terlihat menyimpan gelas kosong di samping kirinya, kemudian dia menatap Adisha dan berkata.


"Aku harus segera menghabiskan makananku agar aku bisa menyuapi Aulia, karena dia pasti akan lama menyusui putraku," jelas Andika.


Dalam hati Adisha tersenyum senang, karena ternyata Andika memang perhatian terhadap kakaknya tersebut.


Hanya saja, tetap ada rasa kesal di hatinya ketika melihat Andika yang menjadikan kakaknya sebagai istri keduanya.


Setelah mengatakan hal itu Andika terlihat mengedarkan pandangannya, dia seperti sedang mencari-cari seseorang.

__ADS_1


"Kakak sedang mencari apa?" tanya Adisha.


"Oh, itu. Kenapa dari tadi aku tidak melihat ibu? Ibu ke mana?" tanya Andika.


Wajah Adisha tiba-tiba saja berubah muram, Albert yang menyadari akan hal itu langsung merangkul pundak wanitanya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan sangat lembut.


Dia sedang berusaha untuk menenangkan hati wanitanya yang pastinya bersedih kembali, karena Andika menanyakan tentang ibunya.


Melihat akan hal itu Andika menjadi bingung, karena Adisha terlihat begitu sedih sekali. Padahal, dia hanya menanyakan Ibu Aisyah saja.


"Kenapa kamu begitu bersedih? Apakah ada hal yang aku lewatkan?" tanya Andika.


Adisha terlihat menganggukkan kepalanya, bahkan kini matanya terlihat berkaca-kaca. Dia memeluk Albert dan menyandarkan kepalanya di dada bidang prianya itu.


Albert terlihat menghela napas berat, kemudian dia menatap wajah Andika yang memandangnya dengan raut wajah bingung dan berkata.


"Ibu sudah meninggal beberapa hari yang lalu," jawab Albert.


Hati Andika langsung mencelos ketika mendengar kabar duka itu, pantas saja Aulia terlihat begitu terluka, pikirnya.


"Maafkan aku, aku malah tidak ada di saat itu." Andika berkata dengan penuh sesal.


"Tidak apa," jawab Adisha tanpa menolehkan wajahnya ke arah Andika.


Andika terlihat menghela napas berat, kemudian dia bangun dan mengambil nasi yang hendak Aulia makan.


"Aku ke kamar Aulia dulu, mau suapin dia," ucap Andika seraya mengambil segelas air putih.


"Hem," jawab Adisha.


Asep yang merasa jika dirinya kini tidak memiliki teman untuk berbicara, segera menyelesaikan ritual makannya dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Mau ke mana kamu?" tanya Albert.


Albert merasa heran karena Asep terlihat memakan makanannya hanya sedikit saja, karena biasanya adiknya itu akan menghabiskan banyak makanan lalu tertidur dengan pulas.


"Mau masuk kamar, ngga enak kalau tetep di sini. Nanti aku cuma jadi obat nyamuk," keluh Asep seraya berlalu.

__ADS_1


Albert terlihat begitu senang saat Asep mengatakan hal tersebut, dalam hati dia langsung bersorak bahagia.


"Hem, adik yang pengertian." Albert terlihat tersenyum penuh arti.


Di dalam kamar Aulia.


Aulia terlihat sedang duduk di atas sofa seraya menyusui putra pertamanya, Alex terlihat menyesap ujung dada Aulia dengan begitu lahap.


Andika yang melihat akan hal itu terlihat tersenyum lalu menghampiri Aulia, dia duduk tepat di samping istrinya.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Aulia seraya menutup dadanya dengan syal.


Dia merasa kesal karena Andika terus saja berusaha untuk mendekati dirinya, dia merasa kesal karena Andika terus saja berusaha untuk merayu dirinya agar mau kembali kepada pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.


Padahal, dirinya masih membutuhkan waktu untuk berpikir kembali. Karena kembali kepada Andika bukanlah hal yang mudah untuk Aulia, ada beberapa hal yang harus dia pikirkan dan dia pertimbangkan.


"Ngga usah ditutupi juga, aku ngga minta nyusu. Aku cuma mau suapin kamu," jawab Andika.


Aulia tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, karena menurutnya itu adalah hal yang tidak perlu diucapkan.


"Nggak usah, nggak usah kamu nyuapin aku. Nanti aku bisa makan sendiri," tolak Aulia secara halus.


Andika terlihat menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dia terlihat tersenyum dengan sangat manis ke arah Aulia lalu berkata.


"Kalau nunggu nanti-nanti, kamu malah keburu kelaparan. Lebih baik sekarang makan saja terlebih dahulu," ucap Andika seraya menyodorkan satu sendok nasi beserta dengan lauknya.


Mau tidak mau Aulia pun membuka mulutnya dan melahap makanan yang Andika sodorkan, lagi pula dia kini tidak ingin berdebat lagi dengan Andika.


"Bagus, makanlah yang banyak. Biar asinya tambah banyak, biar Alex tidak kehausan. Nanti, kamu juga bisa mengirimkan asi untuk Axel," ucap Andika sengaja memancing.


Wajah Aulia terlihat sendu setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, karena dia sangat merindukan putra keduanya tersebut.


Andika tersenyum ketika menyadari perubahan raut wajah dari istrinya tersebut, lalu dia mengelus lembut lengan istrinya dan berkata.


"Kalau kamu rindu pada Axel, kita bisa ke rumah mom sekarang juga. Kamu bisa menemui Axel di sana, kamu mau, kan, ikut pulang ke rumah mom bersamaku?" tanya Andika.


Aulia terlihat menatap wajah suaminya itu dengan lekat, dia tidak menyangka jika Andika terus saja mengajak dirinya untuk pulang ke kediaman Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2