
Walaupun pada awalnya Andika menyangka tidak bisa melakukannya dengan istrinya, tapi setelah melakukan pemanasan pada akhirnya mereka pun bisa bercinta dengan penuh gairah.
Sayangnya, baru lima belas menit mereka bergumul di atas tempat tidur, Andika terlihat sudah tidak tahan untuk mengeluarkan cairan cintanya.
Aulia sampai mendengkus sebal karena hal itu, dia langsung mendorong tubuh Andika dan segera menutupi tubuhnya dengan selimut seraya memunggungi suaminya itu.
Andika terlihat menghela napas berat seraya memandang istrinya yang tidak mau menatap dirinya, dia hanya bisa memandang istrinya yang sedang marah terhadap dirinya.
Andika sangat sadar jika dia terlalu terburu-buru, 2 bulan berpuasa membuat dirinya begitu tidak sabar untuk memaju mundurkan pinggulnya dengan begitu cepat.
Apalagi kini dia merasa jika milik istrinya begitu rapat dan terasa begitu menjepit, rasanya milik Andika benar-benar ingin muntah dalam seketika.
Tubuh Andika tiba-tiba saja terasa ringan dan dengan cepat mencapai puncak nirwana, padahal biasanya Andika adalah pria yang bisa bercinta dengan lama. Bahkan dia bisa bercinta berkali-kali dalam sehari dengan tempo yang lama.
"Sayang! Maaf, akunya ngga tahan. Itu kamunya jepit banget, jadinya langsung keluar."
Andika terlihat sedang berusaha untuk merayu istrinya, dia berharap jika Aulia bisa memaafkan dirinya. Karena ini bukan kemauannya, menurut Andika ini terjadi karena milik Aulia yang berubah menjadi sangat sempit.
"Ngga usah banyak omong, kamu tuh nyebelin. Pake alasan punya aku jepit banget, bilang aja kamunya ngga mau sabar. Maunya mentingin enaknya kamu aja!" keluh Aulia.
"Sayang, ngga gitu juga. Sini dong kamunya, sini aku puasin kamu pake cara lain. Kalau ngga kamunya bangunin lagi punya akunya, biar bisa masuk lagi."
Andika terlihat berusaha untuk merayu istrinya, tangannya sengaja dia masukkan dari balik selimut yang istrinya pakai. Lalu, dia elus punggung polos istrinya.
Aulia yang memang merasakan hasratnya masih di ubun-ubun terlihat terdiam seraya menikmati sentuhan dari Andika, dia masih menginginkan milik suaminya menumbuk inti tubuhnya.
Jika memang benar milik Andika bisa bangun kembali, sungguh Aulia merasa sangat senang. Karena itu artinya dia akan merasakan kembali kenikmatan dalam bercinta.
Tidak lama kemudian, tangan itu terlihat turun dan meremat kedua bokong istrinya yang terasa sangat bulat dan menggemaskan bagi Andika.
Mendapati istrinya yang hanya diam saja, Andika tersenyum senang. Kemudian dia menyingkap selimut yang dipakai oleh istrinya, lalu dia merapatkan tubuhnya dan langsung bermain dengan sumber makanan dari baby twins.
"Aih! Jangan kencang-kencang, nanti asinya keluar," ucap Aulia ketika merasakan tangan Andika yang semakin kencang meremat kedua dadanya.
Aulia memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya, Andika memang benar-benar pandai dalam menyentuh setiap area sensitifnya.
Kemarahan yang tadi dia rasakan, kini mulai berangsur membaik. Miliknya bahkan terasa berkedut, rasanya nona cantik ingin segera dimasuki kembali.
"Maaf, Yang. Aku terlalu bersemangat," ucap Andika seraya menggoyangkan pinggulnya.
Aulia langsung tersenyum karena milik suaminya ternyata sudah bangun kembali, dia benar-benar merasa tidak sabar untuk segera bergulat dengan Andika.
"Sayang!"
Andika terlihat mengecupi pundak polos Aulia, bahkan bibirnya terasa turun sampai ke punggung dan bamper belakang Aulia.
"Mau langsung atau mau--"
Belum juga Andika menyelesaikan ucapannya, tapi Aulia terlihat membalikkan tubuhnya. Lalu, dia mendorong Andika sampai dia berada dalam keadaan posisi terlentang.
Aulia tersenyum seraya menggigit bawah bibir bawahnya, kemudian dengan gerakan perlahan dia naik ke atas tubuh Andika dan mulai menyatukan tubuh kedua insan yang sedang merasakan hasratnya ingin dipuaskan itu.
Andhika tersenyum senang seraya memejamkan matanya, karena kini miliknya kembali dijepit oleh liang kelembutan milik istrinya.
"Oh, Aulia, Sayang. Apa yang kamu lakukan?" tanya Andika yang terdengar konyol di telinga Aulia. Karena tanpa dijelaskan pun, Andika pasti paham dengan apa yang akan dia lakukan oleh Aulia saat ini.
Tanpa banyak berbicara Aulia langsung menggoyangkan pinggulnya seraya mengusap kedua dadanya dengan gerakan yang begitu sensual, Aulia tidak mau jika dirinya nanti merasa dipermainkan.
__ADS_1
Maka dari itu dia berinisiatif untuk memimpin permainan terlebih dahulu, dengan seperti itu Aulia bisa merasakan kepuasan.
Aulia juga hanya wanita biasa, sudah dua bulan dia tidak melakukan percintaan panas yang selalu menjadi favoritnya saat berduaan bersama dengan Andika.
Malam ini dia ingin menghabiskan waktu untuk bercinta, memuaskan hasrat yang sejak tadi minta dipuaskan.
"Ouch, Aulia, Sayang. Ini sangat--"
Andika terlihat tidak bisa meneruskan ucapannya, karena Aulia langsung menunduk dan membungkam bibir suaminya tersebut dengan sebuah ciuman yang begitu mesra.
**
Pagi ini matahari bersinar dengan begitu cerah, sama persis dengan cerahnya wajah pasangan pengantin yang tadi malam sudah melepaskan hasrat kerinduannya.
Alika yang melihat kebahagiaan di mata anak dan menantunya ikut merasa bahagia, dia berharap kebahagiaan ini tidak akan lagi sirna.
Dia berharap Andika cukup berusaha untuk membahagiakan anak-anak, istri dan dirinya saja. Tidak perlu lagi mencari wanita lain yang akan menimbulkan perpecahan di dalam keluarganya.
"Mom, kenapa malah melamun?" tanya Andika seraya memeluk ibunya tersebut.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mom bahagia, semoga kalian juga akan bahagia selalu," jawab Alika.
"Aamiin," ucap Andika mengamini.
Di lain tempat.
Andini baru saja sampai di perusahaan miliknya, sengaja dia berangkat pagi-pagi karena pukul delapan pagi ada meeting penting yang harus dia pimpin.
Dahi Andini nampak mengernyit ketika dia masuk ke dalam lobi perusahaan, karena ternyata para karyawannya sudah datang semua.
Mereka tersenyum ke arah Andini, lalu satu persatu dari mereka menghampiri Andini dan memberikan setangkai bunga mawar itu dan berkata.
"Setangkai bunga mawar putih untuk wanita terkasih."
Andini menerima setiap bunga yang diberikan oleh para karyawannya dengan raut wajah kebingungan, dia tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh ya ampun, kalian ini kenapa sih? Bukan hari Valentine, loh! Kenapa kalian aneh sekali?" tanya Andini seraya menggelengkan kepalanya.
Di saat Andni sedang kebingungan, tiba-tiba saja Aiden datang bersama dengan putrinya Anastasya yang berada di dalam gendongannya.
Anastasya dan Aiden terlihat memegang sebuket bunga mawar putih yang terlihat begitu cantik, mereka menghampiri Andini lalu Anastasya terlihat mengulurkan sebuket bunga itu kepada Andini dibantu oleh Aiden.
"Hai! Cinta pertamaku," sapa Aiden.
"Maksudnya apa ini?" tanya Andini dengan raut bingungnya.
"Aku ingin melamarmu, maukah kamu menikah denganku? Maukah kamu menjadi istriku dan maukah kamu menjadi Ibu dari anak-anakku?" tanya Aidan seraya menatap Andini dengan wajah seriusnya.
Selama satu bulan lebih Andini selalu bersama dengan Aiden juga Anastasya, terus terang saja dia merasakan kenyamanan yang luar biasa saat bersama dengan keduanya.
Namun, masa iddahnya saja belum selesai. Rasanya dia tidak pantas untuk menerima lamaran Aiden. Ini terlalu cepat, pikirnya.
"Tapi, Aiden. Masa iddah aku saja belum selesai," ucap Andini.
"Tidak masalah, aku dan Anastasya akan menunggu. Tolong katakan iya untuk lamaranku ini," ucap Aiden.
Andini masih terlihat diam seraya menatap wajah Aidan dan juga wajah Anastasya secara bergantian, dia terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Mama! Mama!" ucap Anastasya dengan wajah riangnya, tangan mungilnya masih terlihat setia memegangi sebuket bunga mawar untuk Andini.
Andini tersenyum, tapi air mata terlihat mengalir di kedua pipinya. Aidan terlihat begitu lemas, karena dia yakin jika Andini pasti menolak lamarannya.
"Hai juga cinta pertamaku, terima kasih karena selama satu bulan lebih ini kamu sudah menemaniku dalam keadaan hati yang terluka. Tapi, maaf--"
Andini terlihat terdiam, dia tidak meneruskan ucapannya. Aiden terlihat begitu lemas, dia langsung memeluk Anastasya seraya mencium pipi Anastasya dengan sedih.
"Maaf, Sayang. Ayah tidak bisa--"
"Tidak bisa apa?" pungkas Andini dengan cepat.
"Tidak bisa memberikan mama baru, karena kamu tidak mau menjadi istriku," ucap Aiden dengan sedih.
"Eh? Siapa yang bilang aku tidak mau menjadi ibu untuk Anastasya?" tanya Andini.
Mendengar pertanyaan dari Andini, Aiden terlihat mengernyitkan dahinya dengan heran. Dia menatap Andini dengan tatapan penuh tanya.
"Maksudnya bagaimana? Tadi bukankah kamu sudah mengatakan maaf, bukannya itu artinya kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Aiden.
Andini terlihat menggelengkan kepalanya, dia tersenyum kemudian mendekatkan dirinya ke arah Aidan.
"Maaf, kenapa cincin lamarannya tidak ada ya? Kenapa hanya bunga saja? Apakah seperti ini cara melamar yang baik?" tanya Andini.
"Maksudnya, maksudnya bagaimana, sih? Aku tidak paham," ucap Aiden yang masih kebingungan dengan jawaban ambigu dari Andini.
"Aku menerima lamaranmu, Aiden. Hanya saja kenapa tidak ada cincin tunangannya?" tanya Andini kembali.
"Oh ya Tuhan, Andini, Sayang. Terima kasih, ada kok, Sayang. Cincinnya ada di sini," ucap Aiden seraya memberikan sebuket bunga tersebut kepada Andini.
Andini terlihat mengambil sebuket bunga itu dari tangan Aiden dan tangan mungil Anastasya, ternyata benar di dalam bunga itu ada kotak cincin beserta dengan kartu kecil yang berisikan kata-kata cinta dari Aiden untuknya.
Andini tersenyum, kemudian dia berkata.
"Pakein," ucap Andini dengan manja.
Aiden terlihat begitu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Andini, dengan cepat dia mangambil cincinnya dan langsung memakaikannya di jari manis Andini.
"Terima kasih karena kamu sudah menerima lamaranku," ucap Aiden.
Setelah mengatakan hal itu, Aiden terlihat menunduk lalu dengan karena dia terlalu mengecup kening Andini.
Aiden juga terlihat mengecup bibir Andini, tentu saja hal itu membuat Andini malu, senang dan juga marah dalam waktu yang bersamaan.
Karena di sana ada banyak karyawannya yang melihat interaksi antara dirinya dengan Aiden, bahkan kini semua karyawan yang ada di sana terlihat bersorak seraya bertepuk tangan.
"Mama!" seru Anastasya seraya merentangkan kedua tangannya.
Andini tersenyum lalu mengambil alih Anastasya dari gendongan Aiden, balita cantik itu nampak bahagia.
Jangan pernah marah kepada Tuhan ketika kita diuji dengan masalah, karena sejatinya Tuhan sedang menyiapkan kenaikan derajat untuk umatnya.
Tuhan sedang menyiapkan kebaikan yang kita sangat butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena terkadang apa yang kita inginkan itu, bukan yang terbaik menurut Sang Pencipta.
Terima kasih sudah mengikuti kisah Othor dari awal sampai akhir, sampai jumpa pada cerita selanjutnya.
❤Tamat ❤
__ADS_1