
Andika terlihat mengusap bibir Aulia dengan ibu jari tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terlihat meremat dada istrinya secara bergantian.
Aulia terlihat menghela napas berat, dia sangat tahu maksud dari Andika. Suaminya yang tampan itu pasti menginginkan dirinya untuk memuaskan Andika dengan bibirnya.
Namun, Aulia baru saja selesai sarapan. Rasanya dia tidak mau melakukan hal itu, takutnya dia akan muntah.
"Sayang, pengen!"
Andika terlihat menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh permohonan, Aulia ingin sekali tertawa. Namun, dia berusaha untuk menahannya.
Kalau saja dia sudah selesai dengan masa nifasnya, Aulia pasti akan langsung melayani suaminya. Karena dia sangat tahu jika hasrat Andika memang sangat besar.
"Ehm! Kamu mau itu?" tanya Aulia.
Andika langsung menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, dia sangat berharap jika Aulia mau memenuhi keinginannya.
"He'em, pake bibir kamu aja." Andika terlihat melebarkan senyumnya ketika Aulia bertanya kepada dirinya, itu artinya istrinya sudah paham dengan apa yang dia inginkan.
"Pake bibir aku?" tanya Aulia.
Aulia terlihat menunjuk bibirnya sendiri, Andika tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"Iya, Sayang. Yang penting bisa keluar," jawab Andika.
Untuk sesaat Aulia terdiam, dia seperti sedang memikirkan permintaan dari Andika. Tidak lama kemudian dia tersenyum lalu berkata.
"Aku punya cara yang lain, kamu mau tidak?" tanya Aulia.
Mendengar pertanyaan dari istrinya, Andika terlihat mengernyitkan dahinya. Dengan cara apa, pikirnya. Apakah dengan tangan Aulia atau bagaimana, tanyanya dalam hati.
Karena Andika merasa sangat penasaran, akhirnya Andika pun menanyakan hal tersebut kepada istrinya.
"Maksud kamu dengan tangan?" tanya Andika.
Aulia langsung menganggukkan kepalanya seraya memgangkat kedua telapak tangannya di depan wajah Andika, Andika langsung tersenyum.
"iya pakai tangan aja, jangan pake bibir. Nanti bibir aku pegel," kata Aulia seraya melebarkan senyumnya.
Tidak bisa pake bibir tidak masalah menurut Andika, yang terpenting saat ini dia mendapatkan servis dari tangan Aulia.
"Boleh, Sayang. Boleh banget, pakai tangan juga gak papa," ucap Andika.
"Oh, kalau gitu ayo ikut aku ke kamar mandi," ajak Aulia.
Andika langsung mengecup pipi istrinya karena begitu senang, lalu dia terlihat masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan istrinya.
__ADS_1
Andika yang benar-benar sudah tidak sabar langsung membuka celananya, lalu dia terlihat duduk di atas closet tertutup.
"Ayo, Sayang!" pinta Andika seraya melebarkan kedua kakinya.
Aulia terlihat memgatupkan mulutnya menahan tawa, dia merasa lucu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut.
"Oke, sebentar!" ucap Aulia. Setelah mengatakan hal itu Aulia terlihat mengambil sabun cair dan memberikannya kepada Andika.
Andika merasa keheranan, karena Aulia malah memberikan dirinya sabun cair. Dia ingin segera mendapatkan servis dari tangan Aulia, tapi kenapa istrinya malah memberikan sabun cair, pikirnya.
"Maksudnya apa, Sayang?" tanya Andika.
Aulia tersenyum ketika melihat suaminya menatap sabun cair di tangannya dengan tatapan horor.
"Kamu puasin aja itunya pake tangan kamu, biar ngga seret kamu pakein sabun."
Setelah mengatakan hal itu Aulia terlihat berlari untuk keluar dari dalam kamar mandi, tidak lupa dia menutup pintunya dengan rapat.
Tidak lama kemudian dia mendengar Andika yang berteriak dengan begitu kencang, beruntung dia menutup pintunya dengan rapat.
Kalau tidak, sudah dapat dipastikan jika kedua putra mereka akan terbangun karena teriakan dari Andika
Aulia terlihat tertawa dengan terbahak-bahak seraya memegangi perutnya yang terasa sakit, berbeda dengan Andika yang kini terlihat menangis seraya menatap sabun cair di tangannya.
"Oh ya ampun, tega sekali dia!" ucap Andika seraya mengusap kedua pipinya.
Dia mencoba untuk menenangkan dirinya, setelah merasa cukup tenang Andika terlihat memakai celananya kembali.
Lalu, dia merapikan penampilannya. Setelah dirasa penampilannya begitu sempurna, Andika terlihat keluar dari kamar mandi.
Dia melewati istrinya begitu saja, lalu dia mengecup kedua kening putranya secara bergantian.
"Daddy kerja dulu, walaupun sudah telat yang penting Daddy dateng aja ke sana. Kasian om Alif," ucap Andika.
Setelah itu dia keluar dari dalam kamar tanpa menyapa Aulia terlebih dahulu, Aulia yang keheranan terlihat menyusul Andika dengan langkah tergesa.
Aulia terlihat memegangi tangan Andika, dia berusaha untuk mengajak suaminya tersebut untuk berbicara.
Sayangnya Andika terlihat menepis tangan Aulia dan segera pergi dari kediaman Wijaya, Alika yang melihat interaksi antara kedua anak dan menantunya terlihat sangat penasaran.
"Ada apa sih?" tanya Alika.
"Ehm! Tidak apa-apa, tadi hanya ada salah paham sedikit," ucap Aulia terbata.
"Oh," jawab Alika walaupun merasa tidak percaya.
__ADS_1
**
Waktu seakan berputar dengan sangat cepat, kini waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Asep terlihat hendak mengajak Hans untuk makan siang di kantin kantor.
Namun, baru saja dia handak membuka pintu ruangannya, ternyata pintunya sudah terlebih dahulu diketuk dari luar.
Ceklek!
Pintu ruangan Asep sengaja Asep buka, Asep langsung mengernyitkan dahinya ketika melihat Khadijah yang datang dengan membawa kotak bekal di tangannya.
"Assalamualaikum, Abang. Maaf karena sudah merepotkan, saya datang mau menjemput putra saya," salam sapa Khadijah.
Asep benar-benar merasa tidak menyangka jika Khadijah akan datang untuk menjemput Hans, padahal dia sudah berencana akan mengantarkan Hans pulang tapi setelah makan siang dan juga shalat dzuhur.
"Waalaikumsalam, oh iya. Silakan!" jawab Asep.
Tidak mungkin bukan jika Asep harus menghalangi Khadijah untuk membawa pulang putranya, rasanya Asep terlalu lancang.
"Ehm! Sebagai ucpan terima kasih saya terhadap Abang, saya membuatkan makan siang untuk Abang." Khadijah terlihat memberikan kotak bekal tersebut kepada Asep.
Asep tersenyum lalu mengambil kotak bekal dari tangan Khadijah, dia merasa seperti sudah mempunyai istri jika seperti ini.
"Terima kasih," ucap Asep.
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit pulang." Khadijah terlihat menarik lembut tangan Hans.
"Pulanglah, hati-hati," ucap Asep.
Sebelum pulang Hans terlihat menghampiri Asep, lalu dia mencium punggung tangan kanan Asep dan memeluk pria itu dengan erat.
Dia seakan enggan untuk berpisah dari pria yang dia anggap sebagai ayahnya itu, dia masih ingin bersama dengan pria itu.
"Ayah, aku pulang dulu. Ayah jangan lupa untuk shalat, jangan lupa makan juga. Jangan nakal," ucap Hans.
"Insya Allah," jawab Asep seraya terkekeh karena dia merasa lucu dengan apa yang diucapkan oleh Hans.
Hans terlihat melerai pelukannya, kemudian dia menghampiri Khadijah dan menautkan tanga kecilnya pada tangan ibunya.
"Dadah Ayah, Assalamualaikum!" ucap Hans seraya melambaikan tangannya.
Asep tersenyum seraya membalas lambaian tangan dari bocah tampan yang setengah hari ini menemani dirinya di kantor.
"Waalaikumsalam," jawab Asep.
Asep tersenyum melihat Hans yang berlalu bersama dengan Khadijah, setelah keduanya menghilang di balik lift, dia terlihat menatap kotak bekal di tangannya.
__ADS_1
"Ya ampun, aku seperti sudah mempunyai istri saja. Ada yang membawakan bekal untuk makan siang," ucap Asep seraya terkekeh.