
Aulia terlihat menatap wajah Andika dengan lekat, dia benar-benar tidak menyangka jika Andika akan mengajak dirinya untuk pulang secepat ini.
Hatinya kini merasa bimbang, haruskah dia ikut pulang bersama suaminya atau tetap tinggal di apartemen bersama adik dan calon adik iparnya tersebut.
Jika dia pulang, hatinya masih ragu. Namun, jika tidak pulang dia begitu rindu dengan putra keduanya, Axel.
Walau bagaimanapun juga Axel membutuhkan dirinya, Alex juga sama seperti Alex yang membutuhkan asi-nya.
Andika yang melihat kegamangan di wajah Aulia terlihat mengelus lembut lengan Aulia, kemudian dia berkata.
"Pulanglah, Sayang. Mari kita mulai pernikahan kita dari awal, aku akan menikahimu secara resmi. Karena surat cerai aku juga sebentar lagi akan turun," ucap Andika.
Andika terlihat sedang berusaha untuk mengajak Aulia agar mau kembali berumah tangga dengan dirinya, tentunya berumah tangga secara benar dan tidak ada yang namanya rahasia.
"Tapi--"
Aulia terlihat menghentikan ucapannya, dia benar-benar bingung harus mengatakan apa. Dia benar-benar gamang, dia terlihat menatap wajah andika dengan raut bingung.
"Oh, ayolah Aulia, Sayang. Ikuti kata hatimu, jangan egomu. Aku mohon, aku pasti akan berusaha untuk membahagiakanmu dan kedua putra kita. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi," rayu Andika.
Aulia terlihat menghela napas berat, lalu dia mengeluarkannya dengan perlahan. Dia terlihat sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan saat ini.
Saat sedang asyik dengan pikirannya, tiba-tiba saja ponsel milik Andika berdering. Ternyata Andika mendapatkan panggilan video call dari sang ibu, Alika.
Karena merasa khawatir akhirnya Andika pun langsung mengangkat panggilan video call tersebut, karena tidak biasanya ibunya melakukan panggilan video call.
"Ada apa, Mom?" tanya Andika cemas, karna samar-samar Andika mendengar suara tangisan putranya.
Tanpa banyak bicara, Alika langsung mengarahkan kamera ponselnya pada Axel yang terlihat sedang menangis di dalam pelukan Milla.
"Lihatlah Andika, sedari tadi putramu menangis terus. Dia tidak mau diam, Mom takut dia akan panas lagi. Cepatlah pulang! Kenapa lama sekali? Kenapa kamu tidak pulang-pulang? Ini sudah malam," kesal Alika.
Alika terlihat menggerutu, dia tidak tahu jika Andika kini sedang berusaha untuk merayu Aulia agar mau pulang bersama dengan dirinya.
Andika sengaja mengeraskan suaranya agar Aulia mendengar suara tangisan dari putra kedua mereka, melihat dan mendengar apa yang terjadi dengan putra keduanya Aulia terlihat begitu sedih.
Andika terlihat menghela napas berat, kemudian dia kembali menatap layar ponselnya dan berkata.
"Tunggulah sebentar lagi, Mom. Aku akan pulang," ucap Andika.
"Cepatlah, jangan membuat Axel menunggu."
"Yes, Mom," jawab Andika.
Setelah mengatakan salam akhirnya Andika terlihat memutuskan panggilan video call tersebut, dia benar-benar merasa khawatir terhadap putra keduanya.
__ADS_1
Namun, dia juga tidak bisa langsung pulang karena harus merayu Aulia terlebih dahulu. Dia tidak mau pulang tanpa Aulia, istrinya.
Andika terlihat menghampiri meluruhkan tubuhnya ke atas lantai, lalu dia berjongkok dan menengadahkan wajahnya menatap wajah Aulia dengan lekat.
"Ayo kita pulang, Sayang. Kamu lihat sendiri bukan, putra kita membutuhkan kamu. Dia membutuhkan ibunya," rayu Andika.
Hati Aulia benar-benar merasa sakit dan juga sedih ketika melihat putra keduanya menangis, wajahnya sudah terlihat memerah karena terlalu lama menangis.
"Baiklah, aku akan pulang," putus Aulia pada akhirnya.
Andika terlihat begitu senang sekali, dia langsung bangun dan mengangkat tubuh Aulia. Bahkan, dia seakan lupa jika Aulia kini sedang marah kepada dirinya.
Andika terlihat mengusap kepala Aulia lalu mengecup bibirnya beberapa kali, sungguh dia sangat bahagia karena Aulia mau ikut pulang bersama dengan dirinya.
"Sudah hentikan, Andika. Hentikan, jangan seperti ini," ucap Aulia yang merasa tidak nyaman.
Lagi pula dia belum lama melahirkan, area intinya benar-benar tidak nyaman saat Andika menggendong dirinya seperti anak koala.
"Maaf, Sayang. Maaf karena aku terlalu senang," ucap Andika seraya menurunkan istrinya dengan perlahan.
"Seharusnya kamu berpikir dahulu kalau melakukan apa pun, aku baru saja melahirkan. Rasanya sangat tidak nyaman," ucap Aulia seraya menggerutu.
Andika terlihat meringis membayangkan area inti Aulia yang masih terasa sakit karena melahirkan kedua putranya, dia merasa kasihan dan merasa bersalah karena tidak ada di samping Aulia saat istrinya itu melahirkan.
"Terserah," ucap Aulia pada akhirnya.
Karena tidak mau terlalu lama membuat Axel menunggu, akhirnya Aulia dan juga Andika terlihat merapikan baju miliknya dan juga perlengkapan milik Axel.
Setelah itu, mereka berdua terlihat keluar dari dalam kamar dan segera menemui Albert dan juga Adisha yang terlihat saling memeluk di dalam ruang keluarga.
Adisha terlihat menjauhkan diri dari Albert ketika melihat Aulia yang keluar dari dalam kamar seraya menggendong Alex, sedangkan Andika terlihat menarik koper di belakang Aulia.
"Hey! Kalian mau ke mana? Ini sudah malam, Kakak mau pergi ke mana?" tanya Adisha dengan heran.
"Mau pulang, kamu harus ikut juga. Kamu belum nikah sama Albert, sebaiknya kamu ikut pulang bersamaku. Nggak enak juga nanti diomongin orang," ucap Andika.
Adisha terlihat mencebikkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh kakak iparnya tersebut, memang benar apa yang dikatakan oleh Andika. Namun, rasanya tidak perlu jika dia harus ikut ke rumah Andika.
"Tidak usah, aku tinggal di sini saja. Aku juga tidak akan melakukan apa pun," jawab Adisha.
"Tidak bisa seperti itu, aku sekarang adalah Kakak iparmu. Aku harus menjaga Aulia dan juga kamu, adik perempuan dari Aulia. Sekarang ikutlah pulang, minggu depan barulah kalian boleh tinggal bersama setelah kalian menikah," putus Andika.
"Tapi--"
Belum juga Adisha selesai melayangkan protesnya, Asep sudah terlihat keluar dari dalam kamarnya kemudian dia ikut berkata.
__ADS_1
"Aku setuju, sekarang Kakak lebih baik pulang ikut bersama dengan Kak Aulia. Aku khawatir kalian akan melakukan hal yang tidak-tidak," kata Asep seraya duduk tepat di samping Albert.
Mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya, Albert terlihat mendorong bahu adiknya tersebut dengan kasar. Dia terlihat kesal, karena jika Adisha ikut pulang bersama dengan Andika, itu artinya dia tidak akan bisa bermesraan lagi dengan pacarnya tersebut.
"Oh ya ampun, tidak usah. Kamu tinggal di sini aja, Sayang, bersama denganku. Aku tidak akan memintanya sebelum kita menikah," bujuak Albert.
Andika langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, kemudian dia kembali berkata.
"Tidak bisa, Adisha. Kamu harus ikut pulang bersamaku, tidak baik sepasang kekasih tinggal dalam satu apartemen yang sama. Apalagi Aulia akan ikut pulang bersama denganku," ucap Andika.
Adisha yang tidak mau ada perdebatan lagi akhirnya bangun dan menghampiri Aulia, dia setuju dengan usulan dari Andika.
"Iya iya, aku akan ikut pulang ke rumah Kakak. Sekarang tunggulah sebentar, aku akan merapikan bajuku," ucap Adisha.
Adisha terlihat masuk ke dalam kamarnya, dia bertujuan untuk merapikan baju-baju miliknya. Albert yang melihat kekasihnya masuk ke dalam kamarnya pun langsung menyusul dari belakang.
Albert terlihat berdiri seraya menyadarkan tubuhnya pada tembok saat melihat Adisha yang sedang merapikan baju-bajunya, dia menatap Adisha dengan tidak tenang.
"Kamu beneran mau ikut pulang ke rumah bang Andika?" tanya Albert seraya memeluk kekasihnya setelah Adisha menutup kopernya.
Adisha terlihat membalas pelukan Albert, lalu dia mengusap lembut punggung Albert, sang pujaan hatinya.
"Iya, sepertinya itu lebih baik. Karena setiap berdekatan denganmu, aku selalu merasa tidak tahan," ucap Adisha dengan jujur.
Mereka bukan anak kecil lagi, Adisha selalu menginginkannya saat mereka bermesraan. Karena Albert juga selalu memberikan sentuhan yang membangkitkan hasratnya.
"Kamu nggak kasihan sama aku? Kalau kamu pulang ke rumah bang Andika, nanti aku nggak bisa mesra-mesraan lagi sama kamu," ucap Albert dengan bibirnya yang terlihat mencebik.
Adisha tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya, karena Albert memang selalu saja ingin bermesraan ketika berdekatan dengan dirinya.
"Tahan dong, Sayang. Tinggal seminggu lagi kita akan menikah dan tinggal bersama," jawab Aulia.
Walaupun merasa tidak rela, akhirnya Albert menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju jika kekasihnya itu kini akan tinggal di rumah Andika untuk sementara waktu.
"Baiklah, hati-hati!" ucap Albert dengan tidak rela.
"Iya, Sayang," jawab Adisha seraya berjinjit dan mencium bibir Albert dengan mesra.
Albert terlihat begitu senang, dia langsung menyambut ciuman mesra dari Adisha dan memagut bibir ranum Adisha dengan tidak kalah mesra.
"Ehm!"
Suara deheman keras membuat Adisha dan juga Albert terlihat melepaskan pagutannya, mereka bahkan terlihat saling menjauh.
Lalu, mereka menetap ke arah ambang pintu di mana di sana ada Aulia yang sedang menatap mereka berdua dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1