
Setelah memastikan tidak ada orang di depan ruang perawatan putranya, Andika terlihat masuk kembali. Lalu, dia memperhatikan wajah putranya yang terlihat lebih baik. Tidak sepucat tadi malam.
"Sehat-sehat ya, putra Daddy. Jangan sakit lagi, nanti Daddy sedih lagi." Andika mengusap pipi putranya dengan tisu basah, dia terlihat membersihkan pipi putranya yang terkena asi.
Aulia yang terburu-buru tidak sempat membersihkan pipi putranya, karena dia buru-buru untuk pergi. Dia takut bertemu dengan Andika, dia belum siap.
"Daddy mau shalat dulu, ya, Sayang. Bobo yang anteng," ucap Andika.
Setelah mengatakan hal itu, Andika mengecup kening putranya. Lalu, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia harus segera melaksanakan shalat subuh.
***
Alika sengaja datang pagi-pagi ke Rumah Sakit untuk menemui Andika dan juga cucunya, dia datang dengan membawa sarapan untuk putranya.
Hal itu Alika lakukan karena Alika sangat tahu pasti, jika Andika akan malas untuk keluar dari ruang perawatan putranya tersebut.
Benar saja dugaannya, ketika Alika datang Andika terlihat sedang duduk seraya menatap putra tampannya.
Jangankan untuk keluar dari ruangan tersebut, untuk bergeser sedikit saja dari samping putranya, dia seakan begitu enggan. Andika seakan ingin terus bersama dengan putra tampannya itu.
Alika tersenyum, kemudian dia menghampiri putranya lalu mengelus lembut lengan dari putranya tersebut.
"Bagaimana keadaan cucu Mommy, Sayang?" tanya Alika.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ibunya, Andika terlihat menolehkan wajahnya ke arah Alika. Kemudian, dia tersenyum hangat pada sang mommy.
Dia begitu senang karena ternyata Alika begitu pengertian dan juga perhatian terhadap dirinya, walaupun dia sudah berbohong kepada ibunya tersebut.
Benar apa kata pepatah, jika kasih ibu sepanjang masa. Sebesar apa pun kesalahan anaknya, dia akan tetap memaafkan.
Sebesar apa pun anak melakukan kesalahan, seorang ibu akan tetap menyayangi putra-putrinya dengan penuh kasih.
"Puji syukur, Mom. Dia terlihat lebih baik, padahal tadi malam masih panas aja. Tapi pas aku bangun dia sudah sangat baik, bahkan dokter juga tadi sudah memeriksa kondisi kesehatan Axel. Katanya dia sudah sangat sehat, nanti siang sudah boleh pulang," jawab Amerika.
Alika terlihat tersenyum bahagia, karena ternyata cucunya kini sudah dalam keadaan baik-baik saja.
"Oh ya Tuhan, syukurlah kalau begitu. Mom turut senang," ucap Alika.
Raut kekhawatiran di wajah Alika berubah menjadi rasa lega, dia benar-benar senang karena akhirnya cucunya kini sudah terlihat lebih baik.
"Tapi, Mom. Tadi pagi--"
Andika tidak meneruskan ucapannya, karena seorang suster terlihat masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Dia tersenyum hangat ke arah Andika dan juga Alika, di tangannya dia membawa dua botol asi yang diberikan oleh Aulia kepada dirinya.
Baik Andika dan juga Alika terlihat mengernyitkan dahinya, ketika melihat suster tersebut membawa botol asi.
Untuk apa pikir mereka suster membawa botol steril berisikan asi, lebih tepatnya dari siapa dan kenapa membawa asi? Apakah suster tersebut ingin memberikan asi kepada Axel karena merasa kasihan atau bagaimana?
"Selamat pagi Tuan, selamat pagi Nyonya. maaf kalau kedatangan saya mengganggu, saya hanya ingin memberikan asi ini untuk Dedek bayinya," kata suster tersebut.
Andika dan juga Alika terlihat saling pandang, mereka benar-benar bingung kenapa suster tersebut membawakan asi untuk Axel.
Menurut Andika hanya Aulia yang boleh memberikan asi untuk putra mereka, tapi Aulia kini sudah pergi entah ke mana.
Saat Andika berusaha untuk mencarinya pun Aulia seakan hilang ditelan bumi, lalu... Bagaimana bisa suster tersebut membawakan asi untuk Axel, pikirnya.
"Tunggu sebentar, sus. Ini asi-nya dari mana?" tanya Andika.
Suster tersebut terlihat tersenyum, kemudian dia menyerahkan dua botol asi tersebut ke tangan Andika.
Andika menerima dua botol asi tersebut dari suster dengan raut wajah bingung, bahkan dia terlihat memandang botol steril berisikan asi tersebut dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
"Ehm! Sus, tolong jelaskan dengan sejelas-jelasnya. Kami tidak paham," pinta Alika.
Suster tersebut nampak tersenyum, kemudian dia kembali berkata.
Baik Andika dan juga Alika terlihat membulatkan matanya dengan sempurna, mereka benar-benar tidak percaya jika Aulia datang untuk menyusui Axel.
Jika memang benar seperti itu adanya, itu berarti Aulia datang ke Rumah Sakit tersebut. Itu artinya Aulia telah kembali, pikir keduanya.
"Maksud suster istri saya datang ke sini? Tadi pagi? Saat subuh?" tanya Andika dengan raut wajah senang.
Suster nampak tertawa renyah melihat reaksi dari Andika, dia merasa lucu ketika Andika bertanya dengan penuh kebahagiaan.
Melihat akan hal itu suster bisa menebak, jika Andika dan juga istrinya tidak bertemu selama beberapa hari ini.
"Ya, tadi momnya datang. Setelah menyusui putra anda, dia pun berpamitan untuk pulang." Kembali suster menjelaskan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suster tersebut, hati Andika benar-benar bahagia. Walaupun terselip rasa kecewa karena dia tidak bisa bertemu dengan istrinya, Aulia.
"Oh ya Tuhan, Mom. Aulia, Mom. Aulia sudah pulang," ucap Andika begitu senang.
Andika bahkan terlihat langsung memeluk Alika karena begitu senang, jika Aulia datang untuk menyusui putranya, itu berarti Aulia sudah kembali.
Itu juga menandakan masih ada kesempatan untuk dirinya bisa bersatu kembali dengan istri keduanya, dia sangat bahagia.
__ADS_1
Padahal Andika sempat putus asa dan sempat berpikir jika dirinya tidak akan kembali bertemu dengan istri keduanya tersebut, Aulia pergi dan sulit untuk ditemukan.
"Ehm! Kalau begitu saya permisi, semoga Dedek tampannya tidak sakit lagi." Suster tersenyum hangat lalu pergi meninggalkan Andika dengan raut wajah senangnya.
"Ya, sus. Terima kasih," ucap Andika.
Suster tersebut nampak keluar dari ruang perawatan Axel, sedangkan Andika terlihat mengurai pelukannya dengan Alika.
"Mom, aku mau pergi dulu. Aku harus mencari Aulia," ucap Andika penuh dengan rasa semangat.
Alika langsung menggelengkan kepalanya dengan apa yang dikatakan oleh putranya tersebut, sebentar lagi Axel akan pulang.
Menurutnya, Andika lebih baik mengurus surat kepulangan untuk Axel terlebih dahulu. Setelah itu barulah Andika pergi untuk mencari Aulia.
"Kenapa, Mom?" tanya Andika.
Andika terlihat begitu kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Alika, padahal dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istri keduanya.
"Minta Alif untuk melakukannya, sekarang kamu harus mengutamakan Axel terlebih dahulu," titah Alika.
"Hem! Baiklah, Mom." Andika mengambil ponselnya dan menelpon Alif.
Di lain tempat.
Aulia terlihat sedang duduk di dalam kamarnya seraya memangku putra pertamanya, Alex.
Setelah dia menyusui putra pertamanya, dia hanya terdiam seraya memangku Alex yang kini tertidur pulas di dalam pangkuannya.
Dia masih teringat akan putra keduanya yang masih berada di Rumah Sakit, dia begitu mengkhawatirkan putranya tersebut.
"Maafkan Mommy, Sayang. Tapi Mommy janji, kalau Mommy pasti akan menemui kamu lagi," ucap Aulia dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.
Asep yang sedari tadi memperhatikan tingkah dari Aulia merasa sangat sedih, dia memang belum pernah menikah.
Bahkan, dia belum pernah dekat dengan seorang perempuan. Namun, melihat Aulia yang seperti itu, berada di dalam situasi yang rumit dengan seorang pria, membuat Asep iba.
"Ck! Ternyata hubungan percintaan itu sangat rumit," keluh Asep.
Padahal saat Asep melihat Albert yang sedang berciuman dengan Adisha, dia sempat mengira jika hubungan percintaan itu begitu nikmat dan membahagiakan.
Namun, setelah melihat hubungan Aulia yang begitu rumit dengan Andika, Asep sepertinya harus berpikir dua kali untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.
"Haish! Lebih baik aku pergi ke kantor daddy," ucap Asep lirih.
__ADS_1