Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Memperhatikannya


__ADS_3

Andini sudah sangat senang karena pagi ini dia akan menemui Anastasya, putri dari mantan kekasihnya, Aiden.


Namun, kebahagiaannya berubah menjadi sebuah ketakutan dan kegelisahan ketika melihat suaminya pulang.


Padahal, Andini mengira jika Andika tidak akan pulang. Karena biasanya setelah malamnya pergi, dia akan langsung pergi ke kantor. Andika tidak akan pernah kembali ke rumah.


Andini kini bahkan merasa sangat gugup ketika Andika bertanya kepada dirinya akan pergi kemana, jika dia jujur Andini takut jika Andika akan marah.


Namun, jika Andini berkata dengan tidak jujur dia lebih takut Andika akan marah di kemudian hari. Baginya merahasiakan sesuatu hal dari pasangan adalah hal yang tidak baik.


"Andini, Sayang. Kenapa kamu diam saja? Aku nanya loh, kok kamu nggak jawab? Kamu mau ke mana? Kenapa kamu cantik banget kayak gini? Padahal ini masih pagi," kata Andika lagi.


Mendengar pertanyaan dari Andika, Andini terlihat tersenyum hangat. Kemudian dia mengusap pipi Andika dengan sangat lembut.


"Aku mau menemui putri temanku, boleh, kan?" jawab Andini dengan sebuah pertanyaan.


Dahi Andika terlihat mengernyit dalam, selama menikah dengan dirinya, Andini tidak pernah pergi kemana pun.


Sesekali Andini memang akan pergi, tapi pasti akan bersama dengan dirinya. Kalau tidak, pasti pergi dengan Alika.


"Teman yang mana? Apakah aku boleh tahu? Terus, kenapa kamu hanya menemui anak teman kamu saja? Memangnya kamu tidak mau menemui ibunya?" tanya Andika.


Mendengar pertanyaan dari Andika, Andini terlihat menunduk sedih. Bagaimana bisa dia menemui Arini, sedangkan dia sudah meninggal, pikirnya.


"Ibunya sudah tidak ada, dia sudah meninggal. Makanya aku ingin bertemu dengan bayi itu, bayi itu sangat lucu dan menggemaskan. Dia masih sangat kecil, aku merasa iba," jawab Andini.


Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Andika ikut merasa iba. Andika jadi merasa ingin bertemu dengan bayi itu, tentu saja jika Andini mengajaknya untuk pergi.


"Ya Tuhan, kasihan sekali anak itu. Apakah aku juga boleh menemuinya?" tanya Andika.


Andika Sudah malas untuk bekerja, lebih baik dia berduaan saja dengan Andini atau pergi bersama Andini, itulah yang berada di pikirannya.


"Eh? Kamu tidak usah ikut, kamu harus bekerja. Biar aku pergi sendiri saja," ucap Andini dengan tidak enak hati.


Andini akan menemui putri dari mantan kekasihnya, tentu saja dia takut jika Andika akan berpikir macam-macam.


Walaupun pada kenyataannya rasa cintanya terhadap Aiden sudah tidak ada, dia mencintai Andika karena sikap Andika yang selalu lembut terhadap dirinya.


Dia juga merasa tidak enak hati karena tidak bisa memberikan keturunan kepada Andika, tapi Andika tidak mau menceraikannya walaupun Alika berkata akan menikahkan kembali Andika dengan wanita lain.


"Loh kok aku nggak boleh ikut? Kenapa seperti itu?" tanya Andika dengan heran.


"Tidak apa-apa, kamu bekerja saja. Jangan karena aku pekerjaan kamu jadi terabaikan," jawab Andini lagi.

__ADS_1


Andika merasa ada yang tidak beres dengan Andini, dia terlihat menghela napas berat kemudian dia berkata.


"Kamu boleh pergi, tapi kasih aku kiss dulu," pinta Andika seraya memonyongkan bibirnya.


Andini terkekeh, kemudian dia menangkup pipi Andika dengan kedua tangannya. Lalu dia berkata.


"Ini kiss yang spesial buat suami tampanku," kata Andini sesaat sebelum bibir mereka saling bertaut.


Andika merasa senang, karena Andini selalu menuruti apa yang dia inginkan. Andika terlihat mengangkat tubuh istrinya dengan bibir yang masih saling bertaut.


Lalu, dia terlihat merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Mereka terlihat berciuman dengan penuh hasrat, Andini yang awalnya hanya ingin memberikan ciuman saja seakan lupa akan niatnya.


"Kamu sangat seksi," celetuk Andika setelah tautan bibir mereka terlepas.


Andika terlihat menurunkan dress yang Andini pakai, dia begitu senang kala melihat dada istrinya yang sudah mengeras.


Bibirnya sudah terlihat bersiap untuk menyesap ujung dada istrinya tersebut, tapi dengan cepat Andini mendorong wajah Andika.


"Mas, aku mau pergi," rengek Andini.


Padahal Andika menginginkan istrinya, tapi saat melihat wajah Andini yang menunjukkan raut permohonan membuat Andika tidak tega.


"Baiklah, sekarang kamu pergilah! Temui anak dari sahabat kamu itu, sebentar lagi aku akan berangkat bekerja," bohong Andika.


"Terima kasih, aku akan segera pergi," jawab Andini.


"Hem, pergilah. Jangan lupa untuk rapikan lipstikmu. Karena kini terlihat berantakan," kata Andika seraya meremat kedua dada istrinya.


"Engh! Tentu," jawab Andini yang tubuhnya terasa meremang. Karen setelah meremat kedua dada istrinya, Andika juga terlihat menggigit ujung dada Andini.


"Ya, pergilah!" kata Andika seraya membenahi dress milik istrinya.


Andini terlihat turun dari tempat tidur, kemudian dia kembali merapikan riasan wajahnya. Dia juga terlihat merapikan dress yang terlihat kusut akibat perbuatan suaminya.


Andika terlihat merebahkan tubuhnya seraya memperhatikan apa yang dilakukan oleh istrinya, Andini tersenyum lalu menghampiri Andika.


Cup!


Satu kecupan dia berikan di kening Andika sebelum dirinya pergi meninggalkan rumahnya, dia terlihat begitu bersemangat untuk pergi.


Andika yang merasa curiga akhirnya mengikuti kepergian Andini secara diam-diam, Andika bahkan memesan taksi untuk mengikuti ke mana istrinya pergi.


"Mau ke mana dia?" tanya Andika ketika Andini memberhentikan mobilnya tepat di toko mainan.

__ADS_1


Cukup lama Andika memperhatikan apa yang dilakukan oleh Andini di dalam toko mainan tersebut, Andini terlihat membeli boneka berwarna pink.


Andika tersenyum melihat akan hal itu, karena memang Andini berkata jika dia ingin menemui seseorang bayi. Sepertinya Andini memang ingin memberikan oleh-oleh untuk bayi yang katanya baru berusia dua bulan itu.


Setelah keluar dari toko mainan, Andini kembali melanjutkan perjalanannya. Andika dengan setia mengikuti, hingga tidak lama kemudian mobil yang Andini kendarai berhenti tepat di sebuah rumah yang sederhana.


Andika terlihat memperhatikan rumah tersebut, rasanya dia masih hapal itu rumah siapa. Karena sebelum menikah dengan Andini, dia sempat mencari tahu tentang kehidupan Andini.


Sebelum menikah dengan dirinya, Andini sempat berpacaran dengan Aiden. Seorang pria yang terlahir dari keluarga sederhana.


Tentu saja saat Andini jodohkan dengan dirinya, Andini tidak berkata apa pun. Dia hanya mampu menerima perjodohan itu dengan pasrah.


Namun, tidak dengan Andika. Dia mengikuti Andini yang pergi satu hari sebelum mereka menikah. Karena saat itu Andika merasa penasaran, akan kemanakah Andini pergi.


Sebenarnya saat melihat Andini bertemu dengan seorang pria yang bernama Aiden, dia merasa kesal. Andini menerima perjodohan dengan dirinya, tapi masih pergi bersama pria lain.


Namun, saat mendengar Andini yang berkata jika mereka akan berpisah. Andika baru menyadari jika Andini serius untuk menikah dengan dirinya.


Satu hal yang membuat dia merasa kesal dan juga merasa iba, tentu saja kala Aiden meminta satu ciuman terakhir, sebelum hubungan mereka benar-benar berakhir.


Kala itu Andini terlihat tersenyum dengan air mata yang berderai di kedua pipinya, lalu dia menganggukkan kepalanya.


Aiden ikut tersenyum, kemudian dia mengusap kedua pipi Andini yang terlihat basah. Tidak lama kemudian, Aiden terlihat menyatukan bibir mereka.


Andika menyaksikan sendiri saat Andini dan Aiden berpisah dengan cara yang sangat manis, mereka saling memeluk dan berciuman dengan mesra.


Kini Andika terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memandang ke arah Andini yang terlihat menghampiri Ani.


"Cih! Apakah dia berniat untuk balikan dengan mantan kekasihnya?" tanya Andika.


Andika sempat berpikir jika Andini sengaja mendekatkan diri dengan putri dari Aiden, karena mereka ingin melanjutkan hubungan yang belum usai.


Namun, setelah Andika mengedarkan pandangannya. Tidak ada mobil milik Aiden atau kendaraan lainnya yang berada di sana, itu artinya Aiden tidak ada di rumah.


Andika kembali memperhatikan pa yang dilakukan oleh istrinya, Andini terlihat mengambil bayi itu dan mengecup keningnya dengan lembut.


Dia bahkan terlihat mengajak bayi cantik itu untuk berbicara, Andini terlihat begitu iba melihat bayi malang itu.


Andika jadi berpikir, mungkin Andini datang ke rumah Aiden bukan untuk kembali lagi menjalin hubungan yang pernah kandas. Namun, karena melihat bayi yang cantik itu.


"Sepertinya dia begitu menginginkan bayi," ucap Andika sendu.


Setelah melihat akan hal itu, Andika malah memutuskan untuk pergi dari sana. Lebih baik dia bekerja saja pikirnya, dari pada harus memperhatikan Andini yang begitu sedih melihat bayi malang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2