
Andini memang sangat menginginkan keturunan, tapi walaupun dia mandul rasanya menerima bayi yang dibawa oleh Andika sangatlah sulit.
Apalagi bayi tersebut begitu mirip dengan Andika, Andini benar-benar curiga jika bayi itu adalah putera kandung dari Andika sendiri.
Awalnya hatinya menyangkal ketika dia berpikir jika Andika mempunyai bayi dari perempuan lain, mengingat jika Andika selama menikah dengan dirinya begitu terlihat perhatian dan pengertian kepada dirinya.
Namun, setelah mengingat perlakuan Andika yang begitu lain akhir-akhir ini, Andini mulai merasa jika Andika sudah memiliki wanita lain.
Apalagi ketika melihat raut wajah Andika yang begitu kacau, Andika seolah sedang kehilangan. Andika seolah sedang bersedih karena ditinggalkan.
"Aku tidak boleh diam, aku harus tahu semuanya," gumam Andini.
Andini sudah memutuskan, jika besok dia akan mencari tahu tentang apa yang sebenarnya Andika lakukan selama ini di belakangnya.
"Sayang, ayo kita makan dulu," ajak Andika yang sebenarnya ingin bertemu dengan putranya. Bukan karena ingin makan.
Napsu makannya seolah tidak ada setelah kepergian Aulia, dia merasa hancur. Karena kembali dirinya ditinggalkan oleh wanita yang selalu mencintai dirinya itu.
Wanita yang begitu rela memberikan keturunan yang begitu tampan untuk dirinya, wanita yang begitu rela menikah untuk menjadi istri kedua.
Sungguh Andika begitu menyadari, betapa besar pengorbanan yang Aulia lakukan untuk dirinya. Sahabat yang selalu saja membuat Aulia terluka.
"Ya," jawab Andini seraya memaksakan senyum di bibirnya.
Akhirnya Andika dan juga Andini keluar dari dalam kamarnya, mereka langsung melangkahkan kaki menuju ruang makan.
Saat tiba di ruang makan, di sana sudah ada Alika yang tersenyum hangat kepada Andini dan juga Andika.
"Duduk sini, Sayang." Alika menepuk kursi kosong di sampingnya dengan tatapan mata yang tertuju pada menantunya.
Dari dulu Alika kurang menyukai Andini, karena memang pernikahan mereka yang dirasa sangat cepat itu bukan karena cinta.
Namun, dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Andini. Andini yang rela menikah dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Aiden kala itu.
Lebih tepatnya Alika membenci dirinya sendiri, suaminya yang membuat perusahaan mereka hampir bangkrut.
Namun, dengan suka rela Abraham kala itu menyodorkan putrinya dan juga memberikan dana kepadanya.
Alasannya ada dua, yang pertama karena dulu almarhum suaminya pernah mendonorkan darahnya kepada Abraham. Dia merasa berhutang nyawa.
Tentunya yang kedua karena Abraham tidak mau melihat Andini berhubungan lagi dengan Aiden, karena Aiden terlahir dari rahim wanita yang sangat Abraham cintai.
__ADS_1
Ada sebuah ketakutan yang besar jika Aiden menikah dengan Andini kala itu, karena Abraham takut akan bertemu dengan Anindira, ibu dari Aiden.
Semuanya terasa rumit kala itu, tapi Alika tidak bisa menolak. Karena perusahaan peninggalan suaminya sedang diambang kebangkrutan.
"Yes, Mom," jawab Andini seraya duduk tepat di samping Alika.
"Makanlah yang banyak, jangan takut gendut. Yang penting olah raga yang rutin," kata Alika yang memang memiliki bodi aduhai walaupun usinya sudah tidak lagi muda.
"Yes, Mom."
Hanya kata itu yang keluar dari bibir Andini, karena sebenarnya dia benar-benar tidak napsu makan. Karena pikirannya sedang kalut dan begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab.
"Ehm, Mom. Bagaimana keadaan putraku?" tanya Andika cemas karena mengingat Axel yang ditinggalkan oleh istri keduanya.
"Dia baik, ada Mila yang menjaganya." Alika menjawab dengan tidak enak hati kepada Andini.
Walau bagaimanapun juga dia adalah seorang perempuan, dia bisa melihat raut wajah Andini yang berbeda setelah dirinya dan juga Andika membawa Axel ke kediamannya.
"Ehm, Andini, Sayang. Kamu tidak keberatan bukan, jika Axel tinggal sama kamu?" tanya Alika menantikan.
"No, Mom. Aku senang," dusta Andini.
Andini sebenarnya benar-benar merasa tidak nyaman ketika melihat raut wajah Andika saat menanyakan Axel, wajahnya begitu kentara khawatir. Entah karena apa, dia tidak tahu.
"Yes, Mom." Andini mengangguk setuju.
Makan malam pun akhirnya berlangsung dengan keheningan, hanya ada suara garpu dan juga sendok yang terdengar saling bergesekan.
Ketiga orang yang ada di ruang makan tersebut terlihat begitu sibuk dengan pikiran masing-masing, mereka terlalu bingung dengan bagaimana seharusnya mereka bersikap.
Setelah makan malam berakhir, Alika terlihat masuk ke dalam kamarnya dan mengurus Axel ditemani oleh Mila.
Begitupun dengan Andini dan juga Andika yang terlihat masuk ke dalam kamarnya, mereka langsung menambahkan tubuh yang begitu lelah tanpa berkata-kata.
Apalagi Andika, bukan hanya fisiknya saja yang terasa begitu lelah, tapi hati dan juga pikirannya teramat sangat lelah.
Andini terdiam seraya tidur dalam posisi membelakangi suaminya, Andika tidak mempermasalahkan hal itu.
Dia memeluk Andini dari belakang dan mengecupi cerukan leher istrinya, Andini merasa terpancing hasratnya.
Namun, sebisa mungkin dia menahannya, karena saat ini dia sedang tidak ingin melayani suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu lelah ya, Sayang?" tanya Andika seraya menyingkap piyama tidur milik istrinya.
"Hem, sangat lelah. Tadi aku habis pergi soalnya," jawab Andini.
"Oh, jadi... aku ngga bisa dong?" tanya Andika seraya meremat kedua dada istrinya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Andika, Andini langsung membalikkan tubuhnya hingga kini mereka terlihat saling berpandangan.
"Maaf, ya, Mas. Bukannya aku tidak mau melayani kamu, tapi aku sangat lelah," kata Andini mencoba menjelaskan.
"Baiklah," jawab Andika.
Andika langsung menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya, lalu dia kecup kening istrinya dengan penuh kasih.
Tidak lama kemudian mereka pun nampak terlelap dalam tidurnya, karena ternyata rasa kantuk lebih menguasai.
Andika dan Andini terlihat tertidur dengan saling memeluk, walaupun awalnya Andini merasa begitu enggan.
Saat tengah malam tiba, samar-samar Andini mendengar suara tangisan dari kamar yang dihuni oleh Alika bersama dengan Axel, bayi tampan yang dibawa oleh mertuanya itu saat siang hari.
Namun, sebelum Andini bangun, Andika sudah terbangun lebih dulu dari dirinya. Andini sampai terheran-heran dibuatnya.
Pasalnya Andika adalah tipe orang yang susah terbangun di kala malam tiba, tapi setelah mendengar tangisan Axel, Andika terlihat bangun dan langsung berlari menuju kamar Axel.
Kamar yang tepat berada di sebelah kamar mereka, Andini yang merasa curiga diam-diam mengikuti langkah Andika dan dia terdiam dibalik pintu seraya memperhatikan apa yang Andika lakukan di dalam kamar yang dihuni oleh Alika tersebut lewat celah pintu.
"Ada apa, Mom? Kenapa Axel menangis?" tanya Andika.
"Sepertinya dia merindukan mommynya, makanya dia terus saja menangis," kata Alika seraya menimang cucunya tersebut.
Andika terlihat begitu sedih ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, karena pada kenyataannya bayinya tersebut memang begitu membutuhkan ibunya.
Sayangnya, kini Aulia sudah pergi entah ke mana. Andika sudah meminta anak buahnya untuk mencari istri keduanya tersebut, sayangnya kepergian Aulia begitu rapi sehingga begitu sulit untuk ditemukan keberadaannya.
"Coba aku yang gendong Mom?" kata Andika seraya mengambil alih putra tampannya dari gendongan ibunya tersebut.
Andika terlihat menggendong Axel seraya mengusap pipi Axel dengan lembut, bayi tampan itu terlihat menggeliatkan tubuhnya.
Lalu, Axel terlihat mengusakkan wajahnya pada dada Andika. Axel langsung terdiam, Andika tersenyum miris melihat akan hal itu.
"Mom kamu memang keterlaluan, tega sekali dia meninggalkan kita." Andika terdengar berkeluh kesah.
__ADS_1
Andini yang mendengar ucapan Andika terlihat begitu syok saat mendengar kata kita dari bibir Andika, itu artinya perempuan yang melahirkan Axel adalah perempuan yang paling berharga dalam hidup Andika.
'Dengan kamu berkata seperti itu, aku semakin merasa yakin jika bayi yang kini berada di dalam gendongan kamu adalah putra kandung kamu sendiri, Mas, dengan perempuan lain.' Andini bermonolog dalam hati.