Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Bibir Tersenyum Tapi Hati


__ADS_3

Andika terlihat begitu kaget kala Aulia menanyakan hal itu kepada dirinya, dia benar-benar tidak menyangka jika Aulia akan bertanya seperti itu kepadanyam


Andika tidak bisa berkata apa pun, dia hanya terdiam seraya memandang wajah istri keduanya itu.


Melihat akan hal itu, Aulia tertawa dengan terbahak-bahak. Kemudian, dia memukul pundak Andika dengan lumayan kencang.


Hal itu membuat Andika meringis menahan sakit, karena pukulan wanita yang ada di hadapannya itu ternyata begitu terasa cukup kencang.


"Aku itu cuma bercanda, kamu kok ngeliatin akunya kayak gitu banget," kata Aulia seraya mengusap sudut air matanya yang basah.


Di dalam hatinya dia menangis, karena ternyata Andika seakan begitu enggan untuk memilih dirinya.


Aulia terlihat menatap wajah Andika dengan lekat, dia ingin tahu bagaimana reaksi dari suaminya itu. Andika terlihat bernapas dengan sangat lega, dia menyangka jika Aulia bersungguh-sungguh.


Dia bahkan langsung memeluk kembali Aulia seraya mengusakkan wajahnya di dada istrinya itu, Aulia benar-benar merasa tidak menyangka jika pertanyaan yang ia lontarkan akan menyakiti dirinya sendiri.


Seharusnya dia sadar, jika Andika sudah dapat dipastikan akan memilih istrinya, Andini. Bukan memilih dirinya, seharusnya Aulia sadar ia hanya orang biasa tidak seperti Andini yang mempunyai perusahaan besar.


"Kamu membuat aku takut," kata Andika.


"Takut kenapa? Orang aku cuma bercanda doang, udah gih sono bikinin aku telur dadarnya. Nanti aku marah," kata Aulia karena sudah tidak tahan lagi berdekatan dengan Andika.


Rasanya dia ingin menangis saat ini juga, karena benar-benar merasa Andika seakan tidak ada niat untuk tetap menjadikan dirinya sebagai seorang istri.


"Ya, baiklah. Aku akan membuatkan kamu telur dadar yang kamu inginkan, tapi kamu jangan pernah mengatakan hal-hal yang membuat aku takut kehilangan kamu," kata Andika.


Seharusnya dia yang berkata seperti itu, bukan Andika. Ini malah terlihat sebaliknya, Aulia menjadi tidak paham dibuatnya.


"Maksudnya bagaimana sih? Takut kehilangan seperti apa? Bukannya perjanjian dari awal kita memang akan berpisah setelah aku melahirkan nanti?" tanya Aulia dengan sedih.


Rasanya Aulia ingin menangis ketika mengingat akan hal itu, baru saja dia mengandung, tapi dia malah sudah berpikir untuk berpisah.


"Jangan membicarakan hal itu, aku mohon. Kita jalani saja rumah tangga ini sesuai alurnya, jangan pernah membicarakan perpisahan atau apa pun. Cukup nikmati masa-masa kebersamaan kita," kata Andika.


"Terserah, sekarang kamu buruan bikinin aku dadar telurnya," rengek Aulia.


"Iya, Sayang," kata Andika.

__ADS_1


Andika terlihat melerai pelukannya, kemudian dia menautkan bibirnya dengan bibir istrinya yang begitu dia rindukan.


Setelah itu, Andika terlihat mengangkat tubuh Aulia dan merebahkannya di atas tempat tidur. Dia tersenyum, lalu kembali menunduk dan mengecup kening istrinya tersebut.


"Aku tidak akan lama," kata Andika.


Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat pergi dari kamar menuju dapur. Dia ingin membuatkan apa yang dipesan oleh Aulia.


Selepas kepergian Andika, Aulia langsung turun dari tempat tidur. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Dia berdiri di depan wastafel, lalu menangis seraya mengusap perutnya yang masih rata. Dia benar-benar merasa sedih, karena ternyata menjadi istri kedua tidak semudah yang dia bayangkan.


Apalagi, Aulia hanya akan menjadi istri Andika sampai dia melahirkan. Lebih menyedihkannya lagi, Aulia harus menyerahkan bayi yang dia kandung kepada Andika setelah dia melahirkan.


"Maafkan, Bunda, ya Sayang. Bunda sudah nakal, tapi Bunda janji, sebelum kita berpisah Bunda akan memberikan kasih sayang yang terbaik untuk kalian," kata Aulia searaya mengusap perutnya dengan sangat lembut.


Lima belas menit kemudian, Andika terlihat masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berukuran besar di tangannya.


Ada nasi lengkap dengan telur dadar permintaan dari Aulia, ada juga air putih beserta susu hangat.


Di saja ada juga sepiring kecil buah-buahan yang sudah dipotong-potong, Andika benar-benar menyiapkan gizi yang baik buat Aulia.


"Makanlah dulu, Sayang. Nanti kita tidur," kata Andika.


Aulia menurut, dia menghampiri Andika dan duduk di atas sofa. Lalu, dia pun makan dengan sangat lahapnya. Tentu saja dia makan disuapi oleh suaminya itu.


"Kamu pinter banget makannya, mau langsung tidur apa mau nonton dulu? Atau mungkin, kamu menginginkan sesuatu?" tanya Andika.


Dengan cepat Aulia menggelengkan kepalanya, saat ini dia tidak menginginkan apa pun. Aulia hanya ingin berada di dalam pelukan Andika saja, dia rindu dengan suaminya.


"Ngga ada, aku ngga mau apa pun. Aku hanya mau peluk kamu aja, rasanya nyaman banget," kata Aulia jujur.


Stelah mengatakan hal itu, Aulia benar-benar memeluk Andika seraya menonton televisi di dalam kamar.


Andika terlihat begitu senang karena Aulia begitu manja kepada dirinya, bahkan sepanjang Aulia menonton televisi Andhika terus saja mengelus lembut puncak kepala istrinya dan sesekali dia akan menunduk untuk mengecup bibir istrinya tersebut.


Aulia seakan tidak terganggu dengan kelakuan suaminya itu, tidak lama kemudian Aulia terlihat menguap dan tertidur lelap di dalam dekapan hangat Andika.

__ADS_1


Andhika tersenyum lalu dia membopong tubuh istrinya dan merebahkannya di atas tempat tidur dengan sangat lembut.


"Tidurlah, Sayang. Semoga mimpi indah," kata Andika.


Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat menyingkap baju yang dipakai oleh Aulia. Lalu tanpa ragu dia mengecupi perut Aulia dengan sangat lembut.


Dia benar-benar sangat bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi ayah, dia akan. mempunyai keturunan dari wanita yang selalu perhatian dan pengertian terhadap dirinya.


Andika kembali tersenyum ketika melihat Aulia yang begitu pulas dalam tidurnya, dia ikut merebahkan tubuhnya lalu menarik lembut Aulia ke dalam pelukannya.


"Terima kasih, Pimoy. Karena sedari dulu kamu selalu menjadi orang yang sangat spesial untuk aku," kata Andika.


Setelah mengatakan hal itu, dia langsung menunduk untuk mengecup kening istrinya. Lalu, dia ikut memejamkan matanya.


***


Keesokan harinya.


Aulia terlihat terbangun dari tidurnya, awalnya dia mengira jika Andika akan pulang setelah dia tertidur dengan lelap dalam tidur.


Namun, ternyata dia salah. Karena saat dia bangun tidur, Aulia melihat wajah tampan Andika begitu dekat dengan wajahnya .


Andika bahkan memeluk dirinya dengan begitu posesif, Andika seperti orang yang begitu takut kehilangan dirinya.


"Selamat pagi, Sayang," ucap Aulia lirih karena dia takut membangunkan Andika.


Setelah mengatakan hal itu, Aulia terlihat mengecup bibir Andika dengan sangat lembut.


Kembali dia menatap wajah Andika, lalu dia tersenyum. Setelah itu dia turun dari tempat tidur dengan sangat perlahan, karena dia ingin melaksanakan ritual mandinya.


Tidak lama kemudian, Andika yang merasa kehilangan sosok Aulia langsung terbangun dan mencari-cari istrinya tersebut.


Dia terlihat mengedarkan pandangannya, tapi netraranya tidak menangkap sosok dari istrinya tersebut.


"Pimoy, Sayang, kamu di mana?" tanya Andika seraya mengucek matanya.


Tidak ada sahutan dari Aulia, tapi Andika bisa mendengar ada gemericik air yang terdengar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia buka dengan perlahan lalu tersenyum kala melihat tubuh istrinya yang terlihat basah di bawah guyuran air shower.


"Seksi!" ucapnya seraya menghampiri istrinya.


__ADS_2