Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Ingin Menemui


__ADS_3

Sudah cukup lama Aulia dan juga Adisha berada di depan pusara terakhir ibunya, Asep dan juga Albert yang merasa prihatin akhirnya mengajak Aulia dan juga Adisha untuk pulang.


Kedua wanita cantik itu terlihat menurut untuk pulang, tapi tatapan mereka terlihat kosong. Mereka terlihat begitu kehilangan wanita yang sangat penting bagi hidupnya.


Keduanya merasakan kecewa terhadap dirinya masing-masing karena tidak mampu membahagiakan Aisyah di saat terakhirnya, mereka menyesal.


Aulia merasa menjadi beban yang berat untuk ibunya di saat hari-hari terakhir Aisyah, sedangkan Adisha merasa kecewa kepada dirinya karena tidak bisa mewujudkan keinginan terakhir ibunya.


"Sudahlah, Sayang. lebih baik kamu istirahat saja. Untuk urusan pekerjaan biar nanti aku yang mengurusnya, kamu bersantailah terlebih dahulu di rumah. Jangan banyak berpikiran," ucap Albert ketika mengantarkan Aisyah ke dalam kamarnya.


"Ya, Sayang," jawab Adisha seraya memeluk Albert dengan sangat erat. Dia seolah sedang mencari kenyamanan pada diri Albert.


Albert tenru sangat tahu jika calon istrinya tersebut kini sedang terluka dengan sangat dalam, maka dari itu Albert tidak berani meninggalkan calon istrinya tersebut.


Mereka kini sedang duduk di atas sofa dengan Adisha yang terus saja berada di dalam dekapan hangat sang kekasih hati, mereka seolah enggan untuk berpisah.


Sesekali Albert akan mengucapkan kata-kata penyemangat untuk calon istrinya tersebut, sesekali dia juga akan menunduk dan mengecup kening calon istrinya.


Lalu, tangan kanannya dengan penuh kasih mengelus lembut punggung calon istrinya itu. Adisha terlihat sangat senang.


Berbeda dengan Aulia, dia terlihat duduk di atas sofa sendirian seraya menatap kosong ke arah putranya yang tertidur di atas ranjang.


Dia terlihat bingung harus melakukan apa, dia terlihat bingung harus mengatakn apa. Aulia benar-benar merasa kehilangan, Aulia benar-benar bersesih hati.


"Apa yang harus aku lakukan saat ini, Tuhan?" gumam Aulia.


Asep yang merasa prihatin terlihat masuk ke dalam kamar Aulia, dia membawakan semangkuk sup hangat beserta dengan susu hangat.


Hal itu dia lakukan karena Aulia sejak pagi belum mengisi perutnya, dia takut Aulia akan sakit dan hal itu akan berpengaruh kepada sumber makanan untuk Alex.


"Makalah terlebih dahulu, Kak. Jangan menyakiti dirimu, lihatlah putramu. Dia membutuhkan asimu, dia membutuhkan kamu yang sehat. Bukan kamu yang seperti ini," kata Asep.


Aulia yang sedang melamun seakan tertarik ke alam nyata, dia menolehkan wajahnya ke arah Asep. Lalu, dia tersenyum. Dia merasa bersyukur karena ada Asep di sampingnya.


Walaupun dia belum mengenal Asep, tapi Asep selalu berbuat baik kepada dirinya. Bahkan, Asep terlihat begitu pengertian walaupun usianya masih sangat muda.

__ADS_1


"Terima kasih, aku akan langsung memakannya agar asiku tetap lancar," ucap Aulia mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya.


"Bagus, Kak. Hidup itu untuk dinikmati, jangan pernah bersedih lagi. Aku tahu kamu terluka karena ibumu sudah tiada, tapi Kakak juga harus ingat. Hidup terus berjalan, kalau kamu hanya melamun saja itu hanya akan menyakiti dirimu dan juga putramu.


Pria muda bernama Asep itu terlihat menasehati Aulia, wanita yang dia rasa sangat baik dan juga nyaman saat diajak berbicara.


"Ya, kamu benar," ucap Aulia.


Akhirnya Aulia terlihat memakan sup yang dibuatkan oleh Asep, setelah itu dia juga meminum susu hangat yang sudah dibuatkan oleh adik dari calon adik iparnya itu.


"Nah, gitu dong! Kakak pinter banget makannya, kalau makannya banyak terus pasti asinya juga akan lancar," ucap Asep.


Aulia kembali tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Asep, pria yang ada di hadapannya itu terlihat masih muda. Namun, dia begitu pandai menyemangati dirinya agar Aulia bisa lebih ceria lagi.


"Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi penyemangat untukku," kata Aulia dengan tulus.


Asep tersenyum, lalu dia menepuk-nepuk punggung tangan Aulia dengan perlahan.


"Iya, Kak. Sama-sama, kalau begitu aku keluar dulu," pamit Asep.


Setelah berpamitan kepada Aulia, akhirnya Asep terlihat keluar dari dalam kamar Aulia. Dia sempat melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Adisha.


Adisha terlihat duduk di atas pangkuan Albert, sedangkan Albert terlihat memeluk pinggang wanitanya dengan posesif.


"Ck! Bisa-bisanya mereka berciuman dengan mesra seperti itu, padahal masih dalam keadaan berduka. Hais! Sepertinya aku harus mencari seorang kekasih, tapi... Aku lupa kalau aku belum bekerja, Ck!"


Sempat terbersit di dalam otak Asep untuk segera memiliki kasih, karena dengan seperti itu dia juga bisa berciuman dan bermesraan dengan kekasihnya.


Sayangnya, dia tidak memiliki pekerjaan. Jika dia khilaf dan menghamili kekasihnya, mau tidak mau dia harus menikah dengan kekasihnya tersebut. Lalu, akan makan apa kekasihnya itu jika mereka harus menikah nanti, pikirnya.


"Oh, ya ampun. Sepertinya aku harus memikirkan tawaran dari daddy, sepertinya aku harus kembali ke ibu kota untuk membantu di perusahaan daddy. Agar aku punya penghasilan, aku tidak boleh jadi pengangguran."


Asep terlihat mengucapkan hal itu seraya melangkahkan kakinya menuju dapur, sejak dulu dia selalu berpikir untuk hidup bebas tanpa bekerja.


Namun, setelah beberapa kali melihat Albert yang sering bermesraan dengan Adisha, hal itu membuat dirinya ingin memiliki kekasih. Hal itu juga yang membuat dirinya ingin bekerja.

__ADS_1


"Sepertinya nanti Malam aku harus berbicara dengan kak Al, Aku ingin kembali ke ibu kota. Aku ingin mulai bekerja, tentunya aku ingin mencari kekasih," kata Asep seraya terkekeh.


Asep terlihat mengusap bibirnya, karena dia kini sedang membayangkan jika dirinya mempunyai kekasih dan mencium bibir kekasihnya, sama seperti Albert yang mencium bibir Adisha.


"Ck! Aku penasaran rasanya kaya apa," ucap Asep seraya terkekeh.


Jika Asep kini sedang membayangkan bagaimana rasanya memiliki kasih, bagaimana rasanya berciuman dan bagaimana rasanya bermesraan dengan seorang perempuan, berbeda dengan Aulia.


Setelah mengisi perutnya Aulia terlihat merebahkan tubuhnya di samping putra tampannya, dia sedang memberikan asinya karena putranya terlihat terbangun dari tidurnya.


Berjauhan dari Andika dan juga Axel membuat dirinya begitu merindukan kedua pria tampan berbeda usia itu, dia sangat rindu.


Rasanya dia ingin menemui Andika untuk memastikan keadaan dari Axel, sayangnya dia merasa tidak berhak karena Andika pasti sudah bahagia dengan Andini, pikirnya.


Namun, rasa penasarannya begitu besar. Akhirnya, setelah menyusui putranya Aulia meminjam ponsel milik Asep.


Tentu saja Aulia ingin melihat sosial media milik Andika, karena dia ingin melihat foto-foto lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.


"Semoga saja Andika memposting foto Axel," do'a Aulia.


"Kakak mau ngapain sih?" tanya Asep ketika melihat Aulia yang mulai membuka akun sosial media miliknya.


"Jangan kepo!" protes Aulia.


mendengarkan jawaban dari Aulia, Asep terlihat mencebikkan bibirnya. Dia merasa tidak suka dengan jawaban yang dilontarkan dari mulut Aulia.


"Ck! Udah minjem pas ditanya jawabnya ngga ngenakin," keluh Asep.


Aulia seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Asep, karena kini dia sudah menemukan akun sosial media milik Andika.


Di sana terlihat video di mana Axel sedang diperiksa oleh dokter anak, hal itu membuat jantung Aulia terasa berhenti berdetak.


"Axel, Sayang. Mom rindu, maafkan, Mom. Oh ya Tuhan, apa yang sekarang harus aku lakukan?" tanya Aulia lirih.


Aulia langsung menangis karena melihat wajah Axel yang ternyata sangat pucat, dia takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap putranya itu.

__ADS_1


Melihat raut wajah Aulia yang berubah pias, Asep langsung menghampiri Aulia dan bertanya.


"Kakak kenapa?"


__ADS_2