
Rasa sakit dan juga mulas yang terasa, kini tertutup dengan rasa sedih yang bersarang di dalam dasar hatinya.
Aulia menahan rasa sesak di dalam dadanya, sebentar lagi dia akan melahirkan. Tidak ada orang-orang yang dia sayangi menemani hari di mana dia akan memperjuangkan kelahiran baby twins.
Tidak ada kata-kata penyemangat yang dia dengar, tidak ada kata-kata penuh kasih yang dilontarkan oleh sang suami, karena Aulia memang memutuskan untuk melahirkan sendirian saja.
Bahkan, Alika pun tidak tahu jika dirinya kini akan melahirkan. Begitupun dengan Aisyah dan juga Andika, hanya Adisha dan sang kekasih hatinya yang tahu jika dirinya kini akan melahirkan.
"Ayo, Bu. Semangat! Kepalanya sudah terlihat," kata Dokter Alma.
Aulia tidak berkata apa pun, dia terlihat tersenyum lalu menghela napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan.
"Ayo, Bu. Tarik napas lagi, lalu mengejan," ucap Dokter Alma lagi.
"Bismillah!" ucap Aulia sebelum dia mengejan.
Setelah berjuang selama satu jam lamanya, akhirnya pukul 10:13 kedua bayi tampan itu terlahir dengan selamat.
Mereka terlahir hanya selisih dua menit saja, karena setelah bayi pertama terlahir, bayi kedua langsung menyusul dengan tidak sabar.
Kedua bayi itu terlihat begitu mirip dengan Andika, sang ayah. Tidak ada yang terbuang sama sekali, mereka berdua benar-benar begitu mirip dengan sang penabur benih.
Aulia dalam hati merasa sedih dan sekaligus merasa senang, karena ini adalah hari di mana Aulia akan memutuskan hal yang begitu berat.
Dia akan segera pergi dari kehidupan Andika, itu terasa menyakitkan bagi Aulia. Terlebih lagi dia akan meninggalkan salah satu bayinya untuk Andika.
Namun, dia juga merasa senang. Karena dia akan pergi membawa separuh jiwa dari Andika, putra tampannya yang terlahir dari pria yang begitu dia cintai.
Kedua bayi itu terlihat lahir dengan berat yang normal, karena memang kehamilan Aulia begitu sehat. Aulia juga selalu memakan makanan sehat dalam setiap harinya.
Aulia tersenyum hangat dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya, sebentar lagi dia akan berpisah dengan salah satu bayinya itu adalah hal yang begitu berat untuk dirinya
"Selamat datang kedua jagoan tampan kesayangan, Mom," ucap Aulia kepada kedua bayinya dengan sedih.
**
Satu jam telah berlalu, kini Aulia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kedua bayi kembarnya terlihat tertidur pulas di dalam box bayinya, karena Aulia sudah menyusuinya.
__ADS_1
Di sana ada Albert, kekasih dari Adisha. Anak dari pemimpin perusahaan tempat Adisha bekerja, dia begitu baik dan perhatian.
Pria muda itu yang mengadzani kedua putra tampan dari Aulia, bahkan pria itu pula yang membiayai semua biaya Rumah Sakit yang harus dibayarkan.
Bukannya Aulia tidak bisa membayarnya, karena dengan kartu hitam yang Andika berikan, tentu saja dia bisa membayar semuanya.
Hanya saja Aulia belum saatnya memakai kartu hitam itu, karena memang dia takut jika Andika akan mengetahui dirinya sedang melahirkan jika dirinya mengeluarkan biaya tagihan Rumah Sakit dengan kartu hitam tersebut.
"Kakak punya waktu untuk istirahat sampai besok pagi, karena Andika akan pulang besok sore dari luar kota," kata Albert.
Aulia menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Albert.
"Terima kasih Al, karena kamu sudah membantu Kakak. Kamu begitu baik, terima kasih," ucap Aulia tulus.
"Sama-sama, Kakak. Kamu sudah aku anggap sebagai Kakak kandungku sendiri, tidak usah sungkan," ucap Albert saraya tersenyum hangat.
Aulia merasa sangat senang karena akhirnya Adisha bisa bertemu dengan Albert, pria yang begitu mencintainya. Pria yang begitu mengasihi keluarganya.
"Sekarang makanlah yang banyak, istirahatlah yang cukup. Besok pagi selepas subuh kita akan pergi," kata Albert.
"Ya, terima kasih. Pulanglah dan maaf karena aku sudah merepotkan," ucap Auliam
"Ya," jawab Aulia.
Setelah berpamitan kepada Aulia, akhirnya Albert keluar dari ruang perawatan tersebut. Dia harus segera pergi menuju kantornya, karena esok hari dia harus mengantarkan Aulia.
Tentu saja ke sebuah tempat yang sudah mereka rencanakan, karena di sanalah nantinya Aulia akan menjalani kehidupannya yang baru dengan salah satu putra yang dia lahirkan.
Berbeda dengan Aulia, selepas kepergian Albert dia terlihat memejamkan matanya. Dia ingin beristirahat dengan tenang. Dia ingin memulihkan kondisi tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah melahirkan.
Di luar kota.
Sudah dari pagi Andika merasakan pinggangnya yang terasa begitu sakit, dia bahkan sampai tidak mengikuti meeting yang sedang berlangsung.
Dengan terpaksa dia malah beristirahat di sebuah hotel yang sudah dia sewa, sedangkan semua pekerjaan dikerjakan oleh Alif, sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.
"Oh ya Tuhan, padahal aku belum tua. Kenapa aku sudah sakit pinggang?" tanya Andika.
__ADS_1
Padahal Andika Sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran king size yang terlihat begitu nyaman, tapi tetap saja dia merasa jika tubuhnya terasa sakit, lelah dan tidak nyaman.
Namun, tetap saja pinggangnya begitu sakit. Akhirnya, Andika memutuskan untuk mengirimkan pesan chat kepada Aulia.
Dia bertanya sedang apa Aulia bersama dengan baby yang dia kandung oleh Aulia tersebut, Aulia sempat membalas pesan chat dari Andika.
Dia berkata dirinya baik-baik saja, begitupun dengan bayi yang dia kandung. Aulia juga berkata jika dirinya dan bayinya begitu merindukan ayahnya.
Andika tersenyum, lalu dia pun kembali membalas pesan dari istrinya itu.
"Besok pagi Daddy pulang, tunggulah kedatangan Daddy. Mau dibeliin apa? Nanti Daddy beliin," kata Andika seraya tersenyum-senyum sendiri.
"Tidak usah tidak usah beli apa-apa, yang penting kamu pulang dengan selamat pun aku sudah senang," jawab balas pesan Aulia.
"Kamu memang istri yang baik dan pengertian," balas Andika.
"Hem, sekarang kamu istirahatlah. Kalau memang sedang tidak enak badan, jangan lupa matikan ponselnya. Agar tidak ada yang mengganggu," pinta Aulia.
"Tentu, Sayang. Tentu saja ponselnya akan aku matikan," ucap Andika.
Setelah mendapatkan balasan pesan dari Aulia, Andika langsung mematikan ponselnya. Lalu, dia tertidur dengan lelap. Itu pun setelah menatap foto Aulia yang selalu dia bawa di dalam dompetnya.
Di dalam apartemen.
Mila terlihat kebingungan, karena kini di dalam apartemen tidak ada Aulia. Tidak ada Aisyah, tidak ada pula Adisha.
Dia begitu takut jika Andika akan marah, karena tidak bisa menjaga Aulia dengan benar. Herannya semua barang milik Aulia tersimpan dengan sangat rapi.
Begitupun dengan barang-barang milik Aisyah dan juga milik Adisha, hanya saja semua penghuni apartemen tersebut tidak ada.
"Oh ya Tuhan, ke mana mereka? Apakah aku terlalu lama pergi? Ke mana mereka pergi? Jangan sampai tuan Andika marah padaku," ucap Aulia.
Mila terlihat begitu gelisah, dia mengambil ponselnya lalu mencoba untuk menghubungi Aulia. Sayangnya nomor ponsel Aulia tidak aktif.
Mila segera menekan tombol panggil pada nomor Andika, hal yang sama pun terjadi. Andika tidak bisa dihubungi, dalam keresahannya Mila mencoba menyimpulkan jika Andika mungkin saja sedang berduaan dengan Aulia dan sedang tidak bisa diganggu.
Akhirnya Mila mencoba untuk menenangkan dirinya, siapa tahu prasangkanya adalah hal yang benar. Dia terlihat merapikan barang belanjaan yang baru saja dia beli di dalam kamar bayi yang sudah disiapkan oleh Aulia dan juga Andika.
__ADS_1
"Semoga saja tuan dan nyonya sedang bersama, makanya mereka mematikan ponselnya karena tidak ingin diganggu," ucap Mila sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.