
Andika terlihat mengelus lembut perut Aulia, bahkan dia terlihat mengecupi perut Aulia yang masih terlihat rata itu.
Lalu, dia mendudukan dirinya di atas marmer yang dingin. Bahkan, kini dia terlihat menyandarkan kepalanya di paha istrinya tersebut.
Jika benar apa yang dia dengar, jika benar Aulia sudah mengandung benihnya, sungguh itu adalah hal yang begitu membahagiakan untuk dirinya.
Karena itu artinya, sebentar lagi dia akan mendapatkan keturunan dari wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama itu.
"Sayang, apakah benar di sini ada calon buah hati kita?" tanya Andika seraya mendongakkan kepalanya.
Aulia terlihat gugup sekali mendengar pertanyaan dari Andika, entah kenapa dia menjadi takut untuk mengatakan kehamilannya kepada Andika.
Walaupun pada perjanjian awalnya mereka menikah memang untuk keturunan saja, bukan untuk berumah tangga secara normal selayaknya sepasang suami istri sungguhan.
Namun, di satu sisi hatinya terasa menghangat kala Andika mengatakan calon buah hati kita dengan tatapan yang begitu tulus.
"Sayang, kok kamu malah diam saja? Aku nanya loh sama kamu, apa aku salah bertanya?" kata Andika seraya menatap Aulia dengan penuh harap.
Sebenarnya Aulia benar-benar merasa sangat kaget, karena kini Andika ada di sana. Dia sempat berpikir jika Andika akan terus bersama dengan Andini, dia tidak akan menemui Aulia lagi.
Andika tinggal menunggu kehamilannya dan menunggu dia saat melahirkan, setelah itu Andika akan datang untuk mengambil bayi yang sudah dia lahirkan itu.
Namun, ternyata Aulia salah. Kini dia melihat Andika berada di sana, bahkan Andika bersikap seperti suami yang begitu mencintai dirinya.
Padahal, saat mereka bertemu di toko kue saja Andika bersikap seolah tidak mengenali dirinya dan hal itu membuat dirinya merasa sangat sakit.
Namun, walau bagaimanapun juga Aulia tidak bisa bersikap acuh kepada Andika, karena dia begitu mencintai ayah dari calon buah hati mereka.
Aulia tersenyum, kemudian dia mengelus puncak kepala suaminya dengan sangat lembut. Tidak lama kemudian, dia menunduk dan mengecup puncak kepala Andika.
"Iya, aku sedang mengandung. Mengandung calon buah hati kita, usianya baru empat minggu. Kata dokter dia baru sebesar biji kacang," jawab Aulia.
Andika merasa begitu bahagia kala Aulia membenarkan pertanyaannya, sungguh dia ingin sekali segera bertemu dengan buah hati mereka.
Dia sudah tidak sabar untuk melihat perut Aulia yang akan semakin membesar, dia sudah tidak sabar direpotkan oleh keinginan dari Aulia saat ngidam.
"Benarkah? Apakah kamu mau kembali ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kembali kondisi bayi kita?" tanya Andika.
Aulia terlihat kaget saat mendengar permintaan dari Andika, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang di hadapan suaminya itu.
"Tidak usah, tadi aku sudah memeriksakannya, kami baik-baik saja," kata Aulia seraya mengelus perutnya dengan sangat lembut.
"Tapi, aku sangat penasaran. Aku sangat penasaran ingin melihat buah hati kita, aku ingin melihat saat kamu di USG," rengek Andika.
Aulia semakin gugup saat Andika mengatakan kata USG, pastinya dia tidak ingin sampai Andika melihat ketika dirinya melakukannya USG, ataupun melakukan pemeriksaan.
"Kata dokter bulan depan aku baru boleh periksa lagi, karena sekarang sudah periksa. Bulan depan kamu boleh ikut periksa kandungan bersama denganku," kata Aulia seraya menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu bulan depan aku akan ikut. Lalu, mana foto hasil USG-nya? Aku ingin melihatnya," kata Andika lagi.
"Eh? Itu, anu. Sepertinya tertinggal, tadi aku pingsan. Jadi, aku lupa untuk membawa foto USG-nya," kata aulia seraya tersenyum canggung.
Andika terlihat begitu kecewa mendapatkan jawaban seperti itu dari Aulia, padahal dia sudah berharap jika dia bisa melihat calon buah hatinya yang katanya sebesar biji kacang itu.
"Seperti itu ya, kalau begitu kita periksa saja lagi. Aku sungguh penasaran ingin bertemu dengannya," kata Andika seraya mengecupi perut Aulia kembali.
Aisyah yang melihat akan hal itu merasa senang, karena putrinya diperlakukan dengan sangat baik oleh andika.
"Ehm, aku sangat lelah. Tubuhku sampai gemetaran, aku mau tidur dulu. Aku cape banget loh ini," ucap Aulia memelas.
Andika langsung memperhatikan wajah Aulia yang begitu pucat, Andika pun paham jika Aulia memang membutuhkan waktu untuk beristirahat yang cukup.
"Baiklah, kalau begitu kita istirahat saja dalam kamar. Tapi kamu harus makan dulu," kata Andika.
"Ngga laper, aku males makan," kata Aulia yang sebenarnya ingin segera menghindari Andika.
"Ngga bisa kamu harus makan dulu, kamu mau dibuatin apa? Biar aku buatkan," kata Andika. "Atau mungkin kamu mau dipesankan makanan yang enak dari Resto, iya?" tanya Andika penuh perhatian.
"Tidak usah, aku mau istirahat saja." Aulia terlihat mencebikkan bibirnya.
"Oh ya ampun, jangan seperti itu. Aku jadi--"
Andika tidak berani meneruskan ucapannya karena di sana ada Aisyah, dia merasa tidak enak hati terhadap mertuanya itu.
"Tidak apa-apa, aku jadi pengen masakin sesuatu untuk kamu," kata Andika beralasan.
"Kalau kamu mau bikinin aku sesuatu, boleh deh. Sepertinya makan telor dadar pakai cabe yang banyak, terus pakai daun bawang yang banyak sangat enak," kata Aulia seraya tersenyum hangat kepada Andika.
Andika merasa senang karena akhirnya Aulia mau meminta dirinya untuk membuatkan makanan, tapi dia tidak suka kala Aulia meminta makanan pedas.
"Ya ampun, Sayang. Kamu ini lagi hamil aku akan membuatkan telur dadar untukmu tapi tidak memakai cabai yang banyak. Cukup satu saja," kata Andika.
Aulia langsung mencebikan bibirnya dengan tidak suka saat Andika mengatakan hal itu, padahal dia benar-benar ingin memakan telur dadar yang pedas.
"Aku tidak mau tau, pokoknya maunya telur dadar yang pedas," kata Aulia merajuk.
"Baiklah, baiklah. Aku akan membuatkannya, tapi cabenya jangan terlalu banyak," kata Andika mencoba bernegosiasi.
"Terserah," kata Aulia pada akhirnya.
"Ya sudah, kamu tunggu di kamar ya. Kamu rebahan aja," kata Andika.
"Anterin," pinta Aulia.
Sebenarnya Aulia merasa jika tubuhnya sangat lemas, walaupun rasa pusing dan juga mualnya sudah hilang.
__ADS_1
Namun, dia merasa kesusahan untuk berjalan. Maka dari itu dia meminta Andika untuk mengantarkan dirinya ke kamar.
Andika tersenyum senang mendapatkan permintaan seperti itu dari istrinya, kemudian dia pun berpamitan kepada Aisyah untuk mengantar istrinya ke dalam kamarnya.
"Bu, aku ke kamar dulu. Mau nganterin istri aku dulu yang lagi kolokan ini," kata Andika seraya terkekeh.
"Iya, suruh dia istirahat. Wajahnya pucat sekali, biar nanti bisa lebih segar lagi. Oh iya, Sayang. Tadi katanya abis dari Rumah Sakit, dapat vitaminnya ngga?" tanya Aisyah.
"Dapet, Bu. Nanti kalau habis makan aku langsung minum vitaminnya, biar cepet sehat," jawab Aulia.
"Ya, istirahatlah yang cukup. Biar janin yang ada di dalam kandungan kamu itu akan tumbuh dan berkembang dengan sangat baik," nasehat Aisyah.
"Iya Ibuku, Sayang," kata Aulia.
Aulia terlihat memeluk Aisyah dengan penuh kasih, lalu dia mengecup pipi ibunya tersebut. Setelah itu, dia meminta Andika untuk berdiri dan mengantarkannya ke dalam kamar.
Saat tiba di dalam kamar, Andika yang merasa begitu rindu kepada istrinya langsung mengangkat tubuh Aulia dan mendudukannya di atas pangkuannya.
"Aku rindu," kata Andika seraya memeluk erat istrinya dan menyandarkan kepalanya di dada Aulia.
"Hem, aku juga," kata Aulia dengan jujur.
"Sekarang kamu istirahat dulu, aku mau membuatkan telor dadar pesanan kamu," kata Andika.
"Iya, pergilah. Bikinnya yang enak, jangan kecewain kami," pinta Aulia.
"Ngga bakal, Sayang. Cuma telur dadar," kata Andika seraya terkekeh.
Andika melerai pelukannya, lalu menatap wajah istrinya dengan lekat. Dia mengelus lembut perut istrinya dengan penuh kasih.
"Sepertinya semua permintaan yang kamu ajukan akan dengan mudah bisa aku kabulkan," kata Andika jumawa.
"Tidak bisa semuanya," cela Aulia.
"Memangnya ada permintaan kamu yang tidak bisa aku kabulkan?" tanya Andika.
"Ada dan sepertinya aku tidak akan bisa mendapatkannya darimu," kata Aulia.
"Memangnya apa yang kamu inginkan, Sayang?" tanya Andika.
"Bagaimana kalau aku meminta kamu untuk menjadi suamiku seutuhnya, apakah kamu bisa meninggalkan istri kamu demi aku dan calon buah hati kita?" tanya Aulia.
Andika terlihat melongo tidak percaya dengan apa yang ditanyakan oleh istrinya tersebut, dia bahkan sampai terdiam terpaku.
Bibirnya tertutup dengan rapat, hanya pandangan matanya yang mampu menatap Aulia dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
***
__ADS_1
Sore, Ayang.