Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Maafkan Aku


__ADS_3

Aulia terlihat begitu kesal, dia bahkan masih saja memukuli Andika dengan bantal yang dia pegang. Andika terlihat meringis menahan sakit, lalu dia menangkap bantal yang digunakan Aulia untuk memukuli dirinya.


Dia gunakan bantal itu untuk menutupi area intinya, hal itu dia lakukan sebagai cara untuk dia berjaga-jaga. Takutnya Aulia akan kembali memukuli miliknya.


"Ampun, Sayang. Ampun," ucap Andika memelas.


Andika menatap Aulia dengan tatapan penuh permintaan maaf, dia merasa bersalah karena sudah menggoda istrinya tersebut.


Padahal dia sangat tahu jika Aulia pasti begitu capek dan juga lelah, seharusnya dia paham dan tidak berusaha untuk menggoda istrinya.


"Makanya jangan suka nakal, aku sunatin tau rasa kamu!" kesal Aulia.


Aulia terlihat menatap wajah Andika dengan tatapan sengit, dia benar-benar sangat kesal dengan apa yang sudah Andika lakukan terhadap dirinya.


Aulia paham jika Andika pasti hanya ingin menggodanya saja, hanya saja waktunya tidak tepat, menurut Aulia.


"Sunatinnya pake itu aja, nanti tapi kalau kamunya udah sembuh." Andika terlihat menunjuk area inti istrinya menggunakan dagunya.


Aulia langsung memelototkan matanya ketika mendengar apa yang Andika katakan, bahkan dia terlihat hendak memukul Andika kembali.


Namun, dengan cepat Andika memegangi tangan istrinya tersebut. Bahkan dia langsung memgecupi punggung tangan istrinya itu.


"Jangan pukul lagi Aku mohon," pinta Andika memelas.


Aulia terlihat menghela napas berat, kemudian dia mengeluarkannya dengan perlahan. Lalu, dia terlihat duduk di samping Andika seraya menatap tajam ke arah suaminya itu.


"Pake baju sana, awas aja kalau godain aku lagi. Aku sunatin pake gunting itunya biar rasa," kesal Aulia.


Andika terlihat melipat kedua kakinya, karena Aulia mengatakan hal tersebut dengan wajah yang terlihat begitu serius dan penuh kemarahan.


"Oh ya ampun, jangan, Yang. Nanti kamu ngga bisa ngedesah lagi," ucap Andika seraya menaik turunkan alisnya.


Aulia yang kesal langsung mengambil piyama tidur milik Andika, lalu dia melemparkan piyama tidur tersebut ke wajah suaminya. Sungguh dia sangat kesal terhadap suaminya itu.


"Oh ya ampun, istriku sangat galak!" keluh Andika.


"Ngga usah berisik! Pake bajunya sana," ketus Aulia.


"Iya, Sayangku," jawab Andika.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu Andika terlihat mengambil piyama tidurnya, lalu turun dari tempat tidur dan mengecup bibir Aulia dengan lembut.


"Haish! Ngga usah cium-cium, aku lagi kesel." Aulia langsung mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.


Andika yang tidak ingin berdebat lagi akhirnya terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia ingin memakai piyama tidurnya.


Dia berjalan tanpa beban walaupun tubuhnya terlihat polos tanpa sehelai benangpun, Aulia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari suaminya tersebut.


"Ck! Dia keterlaluan sekali," keluh Aulia.


Setelah mengatakan hal itu Aulia terlihat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menarik selimut lalu menutupi tubuhnya sampai sampai sebatas dada.


Kemudian, dia terlihat menolehkan wajahnya ke arah kedua putranya yang terlihat tertidur dengan sangat puas di dalam box bayinya. Aulia tersenyum kemudian dia berkata


"Mom, tidur dulu. Kalau kalian haus jangan lupa panggil Mom," kata Aulia seperti berbicara dengan orang yang sudah bisa membalas ucapannya.


Aulia terlihat mengembaca do'a, kemudian dia menutup matanya karena benar-benar sudah sangat lelah.


Tidak lama kemudian, Andika terlihat keluar dari dalam kamar mandi. Dia langsung tersenyum ketika melihat istrinya yang sudah tertidur dengan pulas.


Andika terlihat menghampiri istrinya lalu merebahkan tubuhnya di samping istrinya tersebut, dia menarik lembut istrinya ke dalam dekapan hangatnya. Lalu, dia kecup kening istrinya tersebut dengan mesra.


"Selamat tidur, Sayang. Maaf karena aku terlalu bersemangat untuk menggoda kamu," ucap Andika.


Tidak lama kemudian, kedua insan berbeda jenis kelamin itu terlihat tidur dengan saling memeluk. Aulia bahkan tanpa sadar membalas pelukan dari Andika dan menelusupkan wajahnya di dada bilang suaminya tersebut.


"Aku rindu kamu," ucap Aulia lirih dengan mata yang terpejam.


Di lain tempat.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Asep tidak bisa tidur. Entah kenapa matanya tidak bisa terpejam, dia tidak merasa lapar tapi dia juga tidak bisa tidur.


"Sepertinya aku harus mencari udara segar," ucap Asep seraya terkekeh.


Dia seolah menertawakan dirinya, karena ini adalah malam hari. Tidak mungkin bukan ada udara segar di ibu kota, yang ada hanyalah polusi udara.


Asep terlihat mengambil jaketnya, kemudian dia juga mengambil dompet dan segera pergi dari apartemen mewah milik Albert.


Saat dia tiba di lobi apartemen, dia terlihat menghampiri security yang berjaga di sana. Pak Uyo terlihat mengernyitkan dahinya karena tidak biasanya Asep keluar pada saat malam-malam seperti ini.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan? tanya Pak Uyo.


"Anu, Pak Uyo. Aku ngga bisa tidur, boleh pinjam motornya nggak tanya Asep.


"Boleh dong, yang penting ada uang bensinnya," jawab Pak Uyo seraya nyengir kuda.


Asep langsung mencebikkan bibirnya mendengar apa dikatakan oleh pak Uyo, karena ternyata pria paruh baya yang berprofesi sebagai security tersebut sangatlah mata duitan.


"Tenang aja sih," ucap Asep seraya membuka dompetnya dan memberikan uang berwarna merah sebanyak 3 lembar kepada pak Uyo.


Walau bagaimanapun juga, security yang sudah bekerja bertahun-tahun kepada sang ayah tersebut sangatlah berjasa, pikirnya.


"Wah, banyak sekali Tuan. Terima kasih, ya?" ucap Pak Uyo yang terlihat begitu senang.


Dia bahkan langsung memasukkan uang tersebut ke dalam saku celananya seraya memberikan kunci motornya, wajahnya terlihat tenang dan tanpa beban.


"Terima kasih, ya?" ucap Asep seraya mengambil kunci motor matic milik Pak Uyo.


Asep terkikik geli ketika dia menaiki motor matic tersebut, tubuhnya yang tinggi terlihat tidak sepadan dengan motor matic yang kini dia gunakan.


"Oh ya ampun, sepertinya aku terlihat konyol malam ini," kata Asep seraya memakai helm. Kemudian, dia pun melajukan motornya dari sana.


Dia melajukan motor tersebut dengan begitu pelan, karena tujuannya memang ingin berputar-putar seraya mencari angin saja.


Siapa tahu dengan seperti itu dia akan merasa lelah dan bisa tertidur dengan pulas ketika dia pulang ke apartemen nanti, itulah keinginannya.


Setelah dua puluh menit berkeliling, tanpa sengaja matanya melihat sosok balita tampan yang sedang duduk di atas teras sebuah toko kue.


Balita tampan itu terlihat duduk sendirian seraya memainkan Robot superhero di tangannya, melihat akan hal itu Asep merasa kesal sekali. Karena bisa-bisanya balita tampan sepertinya ditinggal bermain sendirian, pikirnya.


Ini sudah sangat malam, kenapa orang tuanya begitu tega membiarkan anak itu sendirian di luar. Padahal, bisa saja ada penculik anak yang datang dan membawa anak itu untuk pergi.


Asep terlihat memberhentikan motornya tepat di depan toko kue tersebut, kemudian dia menghampiri balita tampan yang sepertinya berusia sekitar 5 tahun itu.


"Hay tampan, kenapa kamu sendirian saja?" tanya Asep.


Balita tampan yang terlihat sedang asyik bermain dengan robotannya tersebut terlihat menolehkan wajahnya ke arah Asep, untuk sesaat dia terdiam. Karena memang dia tidak mengenali pria yang kini berada di hadapannya tersebut.


Namun, tidak lama kemudian dia terlihat tersenyum dengan sangat lebar. Bahkan tanpa Asep duga dia melompat ke dalam pangkuan Asep dengan begitu cepat.

__ADS_1


"Ayah, Ayah sudah pulang? Kenapa baru datang? Hans sudah sangat rindu, apa Ayah tidak pernah merindukan Hans?" tanya balita tampan itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Hah? Maksudnya? Aku? Aku, Ayah kamu gitu?" tanya Asep kebingungan.


__ADS_2