
Aulia merasa terhibur di dalam kesedihannya ketika Asep datang untuk tinggal bersama dirinya, ternyata anak yang baru lulus kuliah itu tidak mau ikut bekerja membantu perusahaan milik sang ayah.
Hanya Albert yang mau bekerja meneruskan perusahaan milik keluarga itu, maka dari itu Adisha kini membantu mengurus perusahaan milik keluarga Albert yang berada di luar kota.
Ternyata pria muda yang kini berada di dekatnya itu merupakan pria yang malas dalam urusan bekerja, hal itu membuat Albert memutuskan untuk memberikan pekerjaan kepada Asep.
Pekerjaan sebagai bodyguard untuk Aulia dan juga Aisyah, tentu saja dia mau karena menurutnya hal itu adalah hal yang sangat mudah.
"Aku pandai berkelahi, aku pasti bisa menjaga mereka."
Itulah yang Asep katakan kepada Albert dengan yakin, Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Karena menurut Albert, jawaban dari Asep benar-benar di luar dugaan. Namun, tidak mengapa. Karena yang penting Asep mau belajar bertanggung jawab.
Jika Aulia kini sudah mulai tertawa dengan kedatangan Asep, berbeda dengan Andika. Saat terbangun dari tidurnya, wajahnya terlihat sendu.
Namun, di bibirnya langsung tersungging sebuah senyuman ketika melihat putranya, Axel yang terlihat sedang menggeliat dan mencari sumber makanannya.
"Kamu pasti haus ya, Sayang? Sebentar, Daddy buatkan susu," ucap Andika.
Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat turun dari tempat tidur. Lalu, dia pun membuatkan susu untuk Axel. Setelah itu dia pun memberikan susu tersebut kepada Axel.
Andini yang sudah menyelesaikan sarapannya bersama dengan Alika terlihat masuk ke dalam kamar Axel, dia duduk tepat di samping suaminya lalu berkata.
"Kamu mandi gih, terus sarapan biar aku yang menjaga Axel. Sekalian Axel nanti aku mandikan," tawar Andini.
Sengaja Andini mengatakan hal itu, karena Andini juga ingin mulai mendekatkan diri dengan putra yang kata Andika putra dari sahabatnya itu.
Namun, Andini paham jika Andika berbohong. Andini sudah mendengar semuanya, tinggal sebuah obrolan serius yang harus mereka lakukan nantinya.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Andika.
Andika menatap wajah istrinya yang sudah terlihat cantik pagi ini, Andini selalu saja terlihat cantik di matanya. Baiik dan juga pengertian.
Selama mereka berumah tangga, Andini tidak pernah sekalipun membantah ucapan Andika. Andini selalu menurut dan juga patuh, maka dari itu Andika tidak pernah berniat untuk menceraikan Andini.
Andini membalas tatapan mata Andika, dia tersenyum lalu dia elus pipi suaminya dengan lembut. Lalu, Andini berkata.
"Tidak merepotkan, tapi nanti setelah mandi aku ingin bicara serius dengan kamu. Bisa?" tanya Andini
Awalnya Andika terdiam, karena dia merasa heran dengan sikap Andini pagi ini. Andini terlihat begitu serius saat menatap dirinya, dia seakan sedang mencari sebuah jawaban atas pertanyaan yang melintas di benaknya.
Namun, tidak lama kemudian Andika tersenyum. Dia menarik tangan Andini, lalu mengecupnya dan berkata.
"Bisa," jawab Andika pada akhirnya.
__ADS_1
Andini terlihat menarik tangannya dan mengambil alih botol susu Axel dari tangan Andika, Andika tersenyum lalu merapatkan tubuhnya pada Andini.
"Mas sayang banget sama kamu, kamu tuh bener-bener istri yang pengertian," kata Andika seraya memeluk Andini dari samping.
Selalu saja itu yang dikatakan oleh Andika kepada Andini, Andika juga selalu bertutur kata dengan lembut dan berusaha untuk bersikap baik kepada dirinya.
Seingat Andini, Andika pernah menyentak dirinya saat meminta Andini untuk berpura-pura hamil di hadapan Alika.
"Hem, sekarang mandi. Kamu bau," kata Andini.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Andini, Andika terlihat mengurai pelukannya. Lalu, dia menatap wajah istrinya itu dengan lekat.
"Aku ngga mau, mana ada aku bau?" kata Andika penuh protes.
Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat kembali memeluk Andini. Kemudian, dia menggigit gemas pundak Andini.
"Sakit!" keluh Andini.
Andika terkekeh kemudian dia mengusakkan wajahnya di pundak Andini yang tadi dia gigit, Andini kini terlihat berisi. Andika benar-benar gemas dibuatnya.
"Abisan kamu gemesin," kilah Andika.
Andini terlihat memutarkan bola matanya dengan malas, selalu saja itu yang menjadi alasan Andika ketika menggigit pundaknya.
"Kamu tuh kebiasaan suka gigit, sana ih mandi. Aku mau ngomong serius sama kamu," kata Andini.
"Iya, iya. Tapi Kiss dulu buat penyemangat," kata Andika seraya memonyongkan bibirnya.
Mendengar permintaan dari Andika, Andini langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Hal itu membuat Andhika tertawa renyah, karena Andika merasa lucu dengan tingkah dari Andini.
"No! Bibir kamu bau jigong," tolak Andini.
Andika kembali terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh, padahal saat tadi pagi dia sudah bangun untuk salat subuh tentunya dia sudah cuci muka dan gosok gigi.
Mana mungkin mulutnya akan bau, padahal dia hanya kembali tidur dalam waktu yang tidak lama. Sungguh ucapan Andini tidak masuk akal menurut Andika.
"Mana ada kaya gitu, aku wangi." Andika langsung menautkan bibir mereka.
Andini hanya bisa terdiam karena tangan kanannya sedang dia gunakan untuk memegang botol susu milik Axel.
"Manis dan wangi," kekeh Andika setelah tautan bibir mereka terlepas.
Andini terlihat mengerucutkan bibirnya karena kesal, selalu saja Andika berbuat semaunya. Padahal dirinya belum memberikan izin kepada suaminya tersebut.
Namun, dia sangat paham jika Andika memang selalu seperti itu dan sikapnya begitu sulit untuk ditolak.
__ADS_1
"Kamu tuh kebiasaan, nakal terus!" keluh Andini dengan bibir yang kembali mengerucut.
Andika berusaha untuk menenangkan hati istrinya, dia takut jika Andini akan benar-benar marah kepada dirinya.
"Maaf, Yang. Aku mandi dulu, tolong jaga putra kita sebentar saja." Andika mengecup kening Andini, lalu dia pergi meninggalkan istrinya tersebut.
Andini terdiam seraya menatap kepergian suaminya, sebentar lagi dia akan memastikan apakah dia harus tinggal atau pergi.
Setelah Andika benar-benar pergi, Andini langsung mengangkat tubuh Axel dan menggendongnya. Dia memperhatikan wajah Axel yang terlihat begitu mirip dengan suaminya itu.
"Kamu sangat tampan, mirip sekali dengan Andika. Aku jadi penasaran, siapa wanita yang sudah melahirkan kamu? Pasti dia adalah seorang wanita yang memiliki cinta yang begitu besar untuk suamiku," kata Andini.
Ting!
Satu pesan email masuk ke dalam ponselnya, Andini dengan cepat memeriksa ponselnya dan membaca pesan email yang masuk.
Mata Andini langsung membulat dengan sempurna ketika dia membaca pesan chat tersebut, apalagi ketika melihat foto pernikahan Andika dengan Aulia.
Ada rasa sesak yang menyeruak ke dalam dadanya, ada rasa sakit yang seakan menghujam jantungnya.
Namun, satu hal yang dia bingungkan. Kenapa dengan mudahnya wanita yang dinikahi oleh Andika menyerahkan Axel kepada mereka?
"Sepertinya benar dugaanku jika dia adalah wanita yang begitu mencintai Andika dengan dalam, makanya wanita itu mau memberikan putranya untuk dijadikan putra kami," ucap Andini.
Tentu saja bukan tanpa alasan Andini berkata seperti itu, karena dia juga membaca pesan email tersebut jika Aulia tidak membawa apa pun yang diberikan oleh Andika.
Mobil mewah, apartemen mewah dan semua barang-barang mewah yang diberikan oleh Andika masih utuh tanpa tersentuh.
Jika Andika menikahi wanita sembarangan, atau wanita yang gila harta, sudah dapat dipastikan jika Andika akan mengeluarkan uang yang banyak untuk membayar wanita tersebut.
Nyatanya Aulia tidak demikian, justru semua kemewahan yang Andika tawarkan tidak dia pergunakan sama sekali.
"Aku harus menanyakan semua ini kepada Andika, jika dia tidak berkata jujur maka aku harus bertindak tegas."
Setelah mengatakan hal itu, Andini meminta Mila untuk memandikan Axel. Karena Alika harus ke kantor terlebih dahulu untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah memastikan Axel nyaman di pangkuan Mila, Andini keluar dari kamar Axel dan melangkahkan kakinya untuk masuk menuju kamar utama.
Saat tiba di dalam kamarnya, Andini melihat Andika yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Dia terlihat sangat tampan dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya saja.
"Haish! Istriku ini udah ngga sabar banget, mau ngomong apa sih?" tanya Andika seraya menarik Andini sampai mereka jatuh berdua ke atas tempat tidur.
Andika suka sekali menggoda Andini, karena istrinya itu selalu saja membuat dia merasakan kebahagiaan saat mereka bersamaan.
"Akh! Jangan kaya gitu!" seru Andini ketika tangan Andika mulai menyusup di balik dress yang dia pakai.
__ADS_1
"Iya nggak, sekarang katakan apa yang ingin kamu tanyakan?" pinta Andika.
"Aku mau kamu jujur sama aku, apakah Axel putra kandung kamu dari wanita lain?" tanya Andini.