Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Mau Ikut


__ADS_3

Asep tidak menyangka jika akan ada seorang anak kecil yang begitu ingin memanggil dirinya dengan sebutan ayah, padahal dia merasa jika dirinya tidak pernah dekat dengan yang namanya anak kecil.


Makhluk Tuhan yang terlihat begitu menggemaskan dan akan menangis jika menginginkan sesuatu, apalagi jika keinginannya tidak terkabul.


Maka, bersiaplah untuk mendengarkan rengekkan manja dari bibir mungilnya. Karena mereka tidak akan diam jika keinginannya belum terpenuhi.


Asep adalah sosok pria yang suka menyendiri dan lebih senang bermain game dari pada berkumpul bersama dengan teman atau pun saudara.


Dia bahkan tidak pernah bergaul dengan yang namanya anak kecil, walaupun memang anak dari adik ayahnya masih sangat kecil-kecil.


Namun, kini ada seorang anak kecil yang terlihat begitu mengharapkan dirinya untuk menjadi sosok ayah untuknya. Rasanya Asep begitu bingung harus bersikap seperti apa.


Akan tetapi, Asep sangat sadar jika anak kecil itu begitu suka dimanja. Anak kecil itu begitu suka diajak bermain, atau mereka akan sangat suka jika kita sebagai orang dewasa mau duduk diam untuk mendengarkan apa yang dia ceritakan.


"Ehm! Maafkan putraku," ucap wanita cantik yang tidak pernah melepaskan hijabnya saat pergi ke mana pun itu.


Asep terlihat menolehkan wajahnya ke arah wanita itu, lalu dia berusaha untuk tersenyum. Dia sangat paham kegundahan hati wanita yang berada di dekatnya itu.


"Tidak apa, lagian Hans sangat lucu." Asep menunduk dan menatap wajah Hans yang sangat tampan.


Setelah mengatakan hal itu Asep terlihat mengikuti langkah Thomas dan juga Aksa menuju sebuah ruangan khusus, sebuah ruangan privasi yang tersedia untuk orang-orang yang membutuhkan suasana lebih privat.


Saat tiba di sana, Aksa meminta pelayannya untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semuanya.


Tentunya dia meminta pelayan untuk menyiapkan menu-menu andalan yang bisa dicicipi dan dinikmati oleh sahabat dan juga putranya itu.


Setelah setengah jam kemudian, acara sarapan pagi pun sudah selesai. Asep terlihat berniat untuk segera pergi ke kantornya.


Sayangnya, Hans terlihat begitu lengket kepada Asep. Dia bahkan terus saja memeluk Asep dan tidak mau turun dari pangkuannya.


Asep terlihat menghela napas panjang, kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. Lalu, dia terlihat menolehkan wajahnya ke arah Ibu dari Hans dan berkata.


"Ehm! Maaf Nona--"


Khadijah seolah paham dengan apa yang akan ditanyakan oleh Asep, perempuan cantik itu kemudian berkata.


"Khadijah, nama saya Khadijah. Ada apa?" jawab sekaligus tanya Khadijah kepada Asep.

__ADS_1


Asep terlihat tersenyum dengan tidak enak hati, walau bagaimanapun juga dia harus berangkat bekerja. Dia tidak mungkin duduk di sana saja dengan memangku Hans, dia harus pergi.


"Anu, saya mau berangkat kerja dulu." Asep terlihat mengatakan hal itu dengan tidak enak hati.


Khadijah terlihat paham, dia menghampiri Asep dan berusaha untuk merayu putranya agar mau turun dari pangkuan Asep.


Dia tidak mau jika Hans akan menjadi penghalang untuk Asep yang hendak bekerja, dia terus saja merayu putranya agar mau membiarkan Asep untuk pergi bekerja.


''Sayang, Om-nya mau kerja dulu. Nanti kamu boleh main sama Om lagi, tapi untuk sekarang biarkan Om-nya berangkat kerja dulu, ya?" rayu Khadijah.


Hans langsung menggelengkan kepalanya mendengar permintaan dari bundanya, dia tetap bersikukuh untuk tidak melepaskan diri dari Asep.


"No, Buna. Kalau Ayah mau kerja, Hans ikut juga." Hans terlihat mengeratkan pelukannya.


Hans terlihat bersikeras untuk ikut dengan Asep, dia takut jika Asep pergi maka Hans tidak akan bertemu lagi dengan sosok pria yang dianggap begitu baik olehnya itu.


Pria yang memiliki bentuk mata yang begitu mirip dengan ayahnya, sama persis seperti yang Hans lihat di foto dan juga video milik abinya. Bahkan, saat Asep menatap dirinya, Hans merasa sedang menatap ayahnya sendiri.


"Ayolah, Sayang. Jangan seperti ini," ucap Khadijah dengan tidak enak hati.


Khadijah terlihat berusaha untuk merayu putranya, begitupun dengan Aksa. Dia berusaha untuk merayu cucunya agar tidak ikut dengan Asep.


Pada saat Khadijah sedang berusaha untuk merayu putranya, tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut nampak terbuka. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik menghampiri Hans yang masih anteng berada di atas pangkuan Asep.


"Ada apa,Sayang? Ada apa dengan cucu Nenek yang tampan ini, Hem?" tanya Najma, istri dari Aksa.


Melihat Najma yang datang, Thomas langsung menyapa istri dari sahabatnya tersebut.


"Na, kamu ngga kangen sama aku? Kenapa datang tidak menyapaku? Padahal kita sudah hampir lima tahun tidak bertemu, apa kamu tidak mau memelukku?" tanya Thomas.


Setelah mengatakan hal itu, Thomas terlihat merentangkan kedua tangannya seolah-olah dia mengharapkan Najma untuk berlari dan memeluk dirinya.


"Oh ya ampun, Thom. Jangan suka bikin suamiku cemburu," ucap Najma seraya terkekeh.


"Sorry, aku lupa kalau sahabatku itu memang pencemburu." Thomas terlihat melirik Aksa yang menatapnya dengan tatapan tajamnya.


"Dad!" tegur Asep yang merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Daddy hanya bercanda," jawab Thomas.


"Hem, tak apa. Kalau begitu aku berangkat kerja dulu," ucap Asep.


Setelah mengatakan hal itu Asep terlihat menolehkan wajahnya ke arah Aksa, Najma dan juga Khadijah. Kemudian dia berkata.


"Kalau kalian tidak keberatan, aku akan mengajak Hans untuk bekerja bersamaku," ucap Asep karena merasa tidak tega jika harus leninggalkan Hans yang terus saja menempel kepada dirinya.


Apalagi ketika dirinya berusaha untuk melepaskan Hans, bocah tampan itu terlihat menatap Asep dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh Asep tidak tega.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Asep, Khadijah benar-benar merasa tidak enak hati. Dengan cepat dia pun berkata.


"Tidak usah, kamu tinggalkan saja putraku. Kalaupun nanti dia menangis, pasti dia akan terdiam kembali," ucap Khadijah.


"Tidak apa, tidak usah terlihat seperti tidak enak hati begitu. Aku pergi dulu," ucap Asep yang tidak mau berlama-lama lagi di sana.


Hal itu Asep lakukan tentunya karena pukul 10.00 pagi dia akan melaksanakan meeting, dia harus segera pergi ke kantor untuk mempersiapkan materi untuk meeting kali ini.


Bukan tanpa sebab dia melakukan hal itu, ini semua karena Albert yang meminta izin setengah hari untuk tidak ke kantor terlebih dahulu.


Albert berkata ingin pergi ke suatu tempat, tentunya untuk mempersiapkan acara pernikahannya dengan Adisha.


"Tapi--"


"Percaya padaku, aku tidak akan membuat dia menangis. Apalagi terluka," ucap Asep.


"Oke!" jawab Khadijah dengan lemas dan tidak enak hati.


Ini pertama kalinya Hans pergi bersama dengan orang lain orang yang belum dia kenal sama sekali, dia benar-benar merasa takut untuk melepaskan putranya tersebut.


Namun, setelah dia bersitatap dengan Aksa, sang ayah. Apalagi setelah melihat senyum di bibir Aksa, Khadijah pun mau tidak mau mengizinkan putranya untuk dibawa pergi bersama dengan Asep.


Sebelum Asep pergi, dia terlihat menghampiri Thomas dia berbisik kepada daddy'nya. Kemudian dia tersenyum dan segera pergi dari sana.


Entah apa yang Asep bisikan, tapi hal itu membuat Thomas tersenyum dengan sangat lebar. Aksa bahkan terlihat penasaran langsung menghampiri sahabatnya tersebut dan menanyakan tentang apa yang dibisikan oleh putra dari sahabatnya itu.


"Apa yang dia bisikan kepadamu, Thom?" tanya Aksa.

__ADS_1


"Kepo!"


Hanya Itu jawaban yang keluar dari mulut Thomas, tentu saja hal itu membuat Aksa terlihat kesal. Bahkan, dia terlihat menonjok lengan temannya itu dengan bibir yang mengerucut.


__ADS_2