Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Bimbang


__ADS_3

Andika sempat berharap jika Adisha bisa membantu dirinya, tapi ternyata itu tidak terjadi. Adisha malah meminta dirinya untuk berusaha sendiri, sangat menyebalkan menurutnya.


Awalnya dia ingin merendahkan dirinya dengan mengemis kepada Adisha, agar adik dari wanita yang dia cintai itu mau membantu dirinya.


Sayangnya, ketika mendapatkan tatapan tidak bersahabat dari Albert Carll, hati Andika langsung menciut. Dia bisa melihat dengan jelas jika Albert begitu mencintai Adisha, dia seolah tidak mau ada lelaki mana pun yang menyentuh Adisha.


Dia seolah begitu melindungi wanitanya, melihat akan hal seperti itu Andika merasa malu kepada dirinya sendiri. Karena dia tidak bisa melindungi Aulia, wanita yang begitu dia cintai.


Dia terlalu gamang dengan pikirannya, antara harus membahagiakan Andini yang sudah membuat perusahaan milik keluarganya stabil kembali atau membahagiakan Aulia yang memang sudah sangat dia cintai sejak lama.


"Bodoh!" ucap Andika seraya meluruhkan tubuhnya kembali di atas lantai.


Dia kembali menyandarkan tubuhnya di pada pintu, berharap Aulia akan keluar dan mau berbicara dengan dirinya secara baik-baik.


Jika memang Aulia tidak mau lagi kembali padanya, jika memang Aulia merasa lebih bahagia jika tanpa ada dirinya, maka dia rela akan melepaskan Aulia untuk mencari kebahagiaannya sendiri.


Satu hal yang dia minta, jangan jauhkan dirinya dari Alex. Karena walau bagaimanapun juga, Alex adalah putranya juga.


Alex adalah darah dagingnya, dia juga ingin membahagiakan putra pertamanya itu. Apalagi Aulia sempat berkata jika kondisi kesehatan dari putra pertamanya itu tidaklah sama seperti putra keduanya.


"Semoga masih ada kesempatan kedua untukku," do'a Andika.


Di dalam apartemen.


Asep yang begitu kelelahan karena pertama kalinya bekerja di kantor langsung masuk ke dalam kamarnya, dia hempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan memejamkan matanya untuk sejenak.


"Istirahat sejenak sepertinya tidak mengapa, yang penting tidak tidur, bukan?" kata Asep lirih.


Begitupun dengan Albert, dia langsung masuk ke dalam kamar utama. Pria tampan itu terlihat masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah mandi dia berencana akan memasak bersama dengan pujaan hatinya, walaupun ada asisten rumah tangga tapi mereka sepakat untuk memasak bersama.


Bahkan, tadi pagi Albert sudah memesan bahan masakan yang akan mereka masak. Karena menurut Albert dan Adisha, yang namanya merekatkan sebuah hubungan itu bukan hanya dengan sebuah cumbuan.


Namun, dengan hal-hal seperti memasak bersama atau pergi berbelanja bersama itu juga bisa lebih mendekatkan mereka.

__ADS_1


Lalu, bagaimana dengan Adisha?


Adisha terlihat masuk ke dalam kamar Aulia, dia ingin membicarakan masalah Andika dengan kakak kandungnya tersebut.


Saat dia masuk ke dalam kamar Aulia, Adisha melihat Aulia yang sedang duduk seraya melamun. Matanya memang tertuju kepada Alex yang terlihat tertidur dengan sangat pulas.


Namun, tatapan matanya terlihat kosong. Dia seolah sedang memikirkan hal yang begitu berat, masalah yang sulit untuk dicari solusinya.


Adisha akhirnya memutuskan untuk duduk tepat di samping kakaknya, dia merangkul kedua pundak kakaknya dan mengelusnya dengan sangat lembut.


"Kakak kenapa melamun? Kalau ada apa-apa cerita sama Adek, biar Adek bantu. Tapi itu pun kalau bisa," ucap Adisha seraya nyengir kuda.


Aulia yang sedang asyik dalam lamunannya terlihat menolehkan wajahnya ke arah Adisha, dia tersenyum karena kini adiknya begitu terlihat pengertian dan juga perhatian.


Bahkan gaya bahasanya pun sudah berubah, walaupun dia selalu bersikap sopan tapi tetap saja kalau dalam berbicara dia selalu menggunakan kata 'elu-gue'.


Namun, saat ini Adisha terlihat begitu sopan. Bahkan, dia memanggil dirinya dengan sebutan kakak. Aulia merasa sangat bahagia, dia terdiam dengan senyum tipis di bibirnya.


Melihat kakaknya yang hanya diam saja, Adisha langsung memeluk kakaknya tersebut. Lalu, dia menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya.


"Aih, Kakak nih ditanyanya bukannya jawab malah senyum-senyum sambil menatap aku. Yang bener sih, Kak! Sebenarnya Kakak ini Kenapa?" tanya Adisha.


"Kakak bingung, Dek. Kakak harus bersikap seperti apa terhadap Andika?" jawab Aulia dengan penuh tanya.


Adisha tersenyum kecut karena ternyata dugaannya tidaklah salah, kakaknya itu sedang memikirkan Andika. Lelaki yang sampai saat ini masih berada di depan apartemen milik Albert.


"Kalau Kakak memang cinta, kenapa tidak bersatu saja dengan kak Andika? Bukankah itu bagus, karena ada anak di antara kalian berdua," ucap Adisha.


Aulia langsung mendorong pundak Adisha, hal itu dia lakukan agar pelukan mereka bisa terlepas.


Terus terang saja dia merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Adisha tersebut, dengan mudahnya Adisha mengatakan hal itu.


Padahal, dia begitu sulit untuk memosisikan dirinya harus berada di mana jika dia tetap mempertahankan Andika. Karena tentunya ada Andini di antara mereka.


Dia hadir sebagai orang kedua di dalam rumah tangga Andika dengan Andini, rasanya dia tidak pantas untuk bersanding dengan Andika.

__ADS_1


Karena tentunya bukan hanya Andini yang akan terluka, dia dan Andika juga sama-sama akan terluka.


"Mana bisa seperti itu, Andika sudah mempunyai istri. Aku tidak mau lagi datang untuk merusak kebahagiaan mereka," kata Aulia.


Adisha sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh kakaknya tersebut, karena dia selalu melihat kesedihan di mata kakaknya itu.


"Terus, karena tidak mau merusak kebahagiaan mereka, kakak mengorbankan kebahagiaan kakak sendiri dan kebahagiaan Axel, begitu?" tanya Adisha.


Mendengar pertanyaan dari bibir Adisha, hati Aulia terasa tercubit. Dia memang mengorbankan kebahagiaannya sendiri dan juga mengorbankan kebahagiaan putra keduanya.


Namun, terlepas dari apa pun itu, dia memberikan Axel kepada Andika karena memang hal itu yang sudah menjadi perjanjian mereka di awal.


Aulia bersedia menikah dengan Andika hanya untuk memberikan buah hati saja, buah hati untuk sahabatnya.


Sayangnya, setelah dia menikah dengan Andika, justru rasa cintanya yang sempat dia kubur dengan dalam malah menyembul dan mengakar.


Apalagi setelah dia sering menghabiskan waktu untuk bercinta, rasanya tubuh dan hatinya benar-benar terikat dengan lelaki yang dia cintai itu.


Ternyata benar, dengan seringnya terjadi penyatuan, membuat hubungan mereka akan. lebih dekat dan juga kuat.


"Sudahlah, Dek. Kakak lagi ngga mau bahas dia untuk saat ini," ucap Aulia yang merasakan perih di hatinya ketika Adisha malah membicarakan tentang Andika.


Rasa cintanya begitu dalam kepada Andika, dia pun tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Bahkan, dia rela bersikap layaknya orang bodoh atas nama cintanya terhadap Andika.


"Ya, terserah Kakak saja. Aku hanya ingin mengatakan kalau di depan masih ada kak Andika, dia masih setia menunggu kakak di depan pintu."


Setelah mengatakan hal itu Adisha terlihat keluar dari dalam kamar Aulia, dia meninggalkan kakaknya itu yang sedang terbengong karena tidak percaya jika Andika masih menunggu dirinya.


"Apakah itu benar? Kenapa juga dia menungguiku? Seharusnya dia menemani istrinya saja, kenapa malah diam di depan pintu?" tanya Aulia dengan menggerutu.


Aulia yang merasa tidak percaya dan takut dikerjai oleh adiknya terlihat keluar dari dalam kamarnya, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


Aulia menarik napas sepenuh dada, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dengan perlahan dia melihat layar monitor karena dia ingin membuktikan apa yang ucapkan oleh Adisha.


Tidak lama kemudian dia terlihat menatap sendu ke arah monitor, dia merasa sedih ketika dia melihat Andika yang sedang duduk di atas lantai seraya menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Oh ya Tuhan, apa harus aku lakukan saat ini? Aku takut jika menemui dirinya akan membuat hatiku menjadi lemah dan ingin memeluknya," ucap Aulia lirih.


Hatinya begitu bimbang, saat ini dia ingin sekali menemui Andika. Namun, dia takut jika hatinya belum siap.


__ADS_2