
Andika benar-benar merasa senang karena akhirnya putranya Axel benar-benar sudah sehat dan boleh dibawa pulang, dia bisa bernapas dengan lega.
Andika tentunya memutuskan untuk membawa putranya pulang ke kediaman Wijaya, karena rasanya tidak enak hati jika harus pulang ke kediaman Andini.
Andini sudah meminta dirinya untuk menceraikan istri pertamanya itu, rasanya sangat tidak mungkin jika dia harus kembali ke sana.
Selain tentang harga diri, Andika juga harus bisa memahami isi hati dari Andini. Andini sudah pasti terluka oleh karena dirinya, maka dari itu dia harus mulai membebaskan wanita yang sudah menjadi penolong dari keterpurukan keluarganya di masa lalu itu.
Saat tiba di kediaman Wijaya, Andika langsung membawa putranya ke dalam kamar miliknya yang pernah dia pakai untuk bercinta dengan istrinya, Aulia.
Hal itu sengaja Andika lakukan, karena dia ingin mengingat-ingat masa di mana dia bisa menghabiskan satu malam bersama dengan Aulia di dalam kamar yang tersebut.
Lagi pula Alif berkata jika dia sudah mengurus gugatan cerai yang diminta oleh Andini, hanya membutuhkan tanda tangan Andika dan juga Andini saja.
Setelah itu Andini dan Andika hanya tinggal menunggu sidang di pengadilan saja, menunggu hakim ketuk palu.
"Bobo yang pules, ya Sayang," kata Andika seraya mengelus lembut puncak kepala putranya dengan penuh kasih.
Andika terus saja memandang putranya dengan penuh kasih, dia juga mengusap-usap puncak kepala putranya dengan begitu lembut.
Dia begitu fokus kepada putranya, dia seolah lupa jika di sana masih ada Mila, sang pengasuh dari Axel.
Mila yang sudah merasa lelah berdiri tidak jauh dari Andika, mulai mengeluarkan suaranya. Dia tidak mungkin bukan, harus berdiri saja di sana.
"Tuan, kalau tuan muda tidur di sini, bagaimana dengan saya?" tanya Mila.
Andika yang sedang menatap putranya seraya mengelus lembut puncak kepala putranya itu langsung menolehkan wajahnya ke arah Milla, lalu dia berkata.
"Hari ini aku tidak bekerja, biarkan Axel bersama denganku," jawab Andika.
Mila tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, dirinya adalah seorang pengasuh untuk Axel. Lalu, untuk apa dirinya dipekerjakan kalau Axel akan diurus sendiri oleh Andika, pikirnya.
"Tapi, Tuan. Saya sekarang harus apa kalau tuan muda malah bersama dengan anda?" tanya Mila seraya menatap wajah Axel yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Andika terlihat menghela napas berat mendengar pertanyaan dari Mila, dia tahu jika wanita yang dipekerjakan olehnya untuk menjaga Axel itu terlihat begitu menyayangi putranya.
"Kamu akan mengurus putraku ketika aku sedang berada di luar saja, atau kamu boleh mengasuhnya ketika aku tidak bisa berada di sampingnya," jawab Andika.
Saat ini Andika merasa tidak ingin berjauhan dari Axel, karena ketika dirinya berdekatan dengan putranya itu, dia merasa jika dirinya seperti berada tepat di samping istri keduanya, Aulia.
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya ke kamar saya dulu, nanti kalau Tuan membutuhkan saya tinggal langsung panggil saya saja," ucap Mila.
Pada akhirnya Mila mengalah, lagi pula dia tidak mungkin rasanya jika dia harus berdebat dengan tuannya sendiri.
Dia mencari jalan aman, lagi pula Mila sangat tahu jika Andika pasti membutuhkan waktu untuk berduaan saja bersama dengan putranya.
Apalagi Axel baru saja sembuh dari sakitnya, pasti rasa khawatir yang Andika rasakan belum hilang sepenuhnya.
"Ya, pergilah!" ucap Andika.
"Ya, Tuan." Mila menjawab dengan lesu, lalu dia pergi dari kamar Andika.
Selepas kepergian Mila, Andika yang tidak mau mengganggu putranya tertidur, akhirnya dengan perlahan dia melangkahkan kakinya menuju sofa.
__ADS_1
Baru saja Andika hendak duduk, tapi sudah ada Alika yang masuk ke dalam kamar Andika dan berkata.
"Di luar ada Alif yang ingin bertemu, temuilah dia terlebih dahulu. Seperti ada hal penting yang ingin dia sampaikan, biar Mom yang menjaga Axel."
Alika terlihat tersenyum hangat seraya menepuk pundak putranya tersebut, Andika tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Yes, Mom," jawab Andika.
Andika terlihat keluar dari dalam kamarnya, kemudian dia langsung pergi menuju ruang tamu di mana di sana sudah ada Alif yang menunggu.
"Ada apa?" tanya Andika seraya duduk di atas sofa tidak jauh dari Alif.
"Ini, Tuan. Anda harus menandatangani surat perceraian yang anda ajukan dengan nyonya Andini, setelah itu saya akan ke rumah nyonya Andini untuk meminta tanda tangan dari beliau," ucap Alif seraya memberikan berkas gugatan cerai kepada Andika.
Andika tersenyum kacut saat menerima berkas gugatan cerai tersebut dari tangan Alif, sebentar lagi dia akan melepaskan Andini dari kehidupannya.
Ada rasa sedih karena dia sudah mengecewakan Andini, tapi ada juga rasa senang karena dia bisa melepaskan wanita itu.
Wanita yang sudah empat tahun menikah dengannya itu tidak akan merasa terkekang lagi, Andini bisa bebas memilih jalan kehidupannya sendiri.
"Sudah, Al. Sudah aku tanda tangani," kata Andika setelah membubuhi tanda tangan di dalam berkas tersebut.
"Terima kasih, Tuan. Ada satu hal lagi yang mau saya sampaikan, saya mempunyai informasi penting untuk anda. Apakah anda ingin mendengarnya?" tanya Alif.
"Tentu saja, jika itu kabar yang penting aku ingin mendengarnya. Katakanlah, jangan sungkan. Walau berita buruk sekalipun akan aku mendengarkan," pinta Andika.
Andika menatap ke arah Alif yang terlihat begitu serius, jika sudah seperti itu artinya Alif akan mengatakan hal yang sangat penting.
"Ini tentang nyonya Aulia," ucap Alif mengawali pembicaraan.
"Benarkah? Bagaimana keadaannya? Bagaimana keadaan putra pertamaku? Apa kabar yang kamu mau sampaikan kepadaku?" tanya Andika dengan tidak sabar.
Alif tersenyum mendengar pertanyaan dari atasan sekaligus sahabatnya itu, dia terlihat menepuk Andika. Kemudian dia berkata.
"Setelah saya selidiki ternyata nyonya Aulia tinggal di sebuah apartemen mewah yang berada di pusat kota dengan tuan Albert beserta dengan adiknya," jawab Alif.
Dahi Andika terlihat mengernyit dalam mendengar apa yang dikatakan oleh Alif, otaknya langsung dipenuhi pertanyaan.
Maksudnya bagaimana? Kenapa Aulia bisa tinggal di sebuah apartemen mewah milik Albert? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada hubungan apa antara Aulia dan juga Albert?
"Siapa Albert? Kenapa Aulia bisa tinggal bersama dengan Albert?" tanya Andika.
Alif tersenyum ketika melihat Andika yang bertanya dengan raut wajah cemburunya, kemudian dia mulai menjelaskan.
"Albert William Carll, anak dari pemilik perusahaan Goch Industries. Dia adalah kekasih dari nona Adisha, mereka bahkan akan melangsungkan acara pernikahan satu minggu lagi," jelas Alif.
Andika terlihat menghela napas panjang, pantas saja saat dia mencari Aulia begitu susah untuk ditemukan, karena ternyata dia disembunyikan oleh Albert William Carll, pikirnya.
"Jadi Aulia tinggal di sana bersama dengan Adisha juga?" tanya Andika.
"Ya, Tuan."
"Kalau begitu aku akan menemui Aulia sekarang juga," ucap Andika dengan tidak semangat.
__ADS_1
Andika terlihat tidak bersemangat bukan karena tidak senang akan bertemu dengan Aulia kembali, justru dia sangat senang untuk bertemu dengan Aulia
Namun, dia takut jika Aulia tidak mau bertemu dengan dirinya. Andika takut jika Aulia tidak akan mau ikut pulang bersama dengan dirinya dan putra keduanya.
"Menurut saya juga lebih baik seperti itu, nona Aulia kini sedang berdua saja di dalam apartemen mewah tersebut dengan putra anda. Karena nona Adisha dan juga tuan Albert sedang bekerja, begitupun dengan adiknya tuan Albert," jelas Alif.
Senyum di bibir Andika terlihat mengembang, itu artinya dia akan lebih mudah menemui Aulia karena tidak ada yang menghalanginya.
"Baguslah, kalau seperti itu aku akan segera pergi. Sekarang kamu kembali ke kantor, tolong urus semua pekerjaan. Mungkin selama beberapa hari ini aku akan menyelesaikan dulu masalah pribadiku," pinta Andika.
"Siap, Tuan," jawab Alif.
Walaupun Alif sangat lelah karena pekerjaannya begitu banyak, tapi dia tidak bisa melayangkan protesnya.
Karena walau bagaimanapun juga Andika memberikan upah yang luar biasa banyak kepada dirinya, tentu saja uang yang dia dapat setimpal dengan pekerjaan yang saat ini sedang dia kerjakan.
Setelah kepergian Alif, Andika langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia menghampiri Alika yang sedang duduk di atas sofa seraya memperhatikan Axel yang sedang tertidur dengan pulas.
"Mom," panggil Andika seraya memeluk ibunya tersebut.
"Ada apa?" tanya Alika seraya mengelus puncak kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
"Aku sangat senang, karena aku sudah tahu di mana Aulia berada. Aku akan menemuinya, Mom. Saat ini juga, tolong jaga Axel untukku," ucap Andika.
Wajah Alika nampak berbinar, dia begitu senang mendengar kabar dari Andika. Itu artinya dia sebentar lagi akan bertemu dengan Aulia dan juga cucu pertamanya.
"Benarkah itu, Sayang? Kamu sudah menemukan Aulia? Oh ya Tuhan, segera temui dia. Bawa dia pulang, bawa cucu Mommy pulang. Mommy rindu dengan keduanya," ucap Alika bersemangat.
"Yes, Mom Aku pergi dulu," ucap Andika.
Andika terlihat melerai pelukannya, kemudian dia mengecup kening ibunya. Lalu, dengan cepat dia mengambil kunci mobilnya dan segera pergi dari sana.
Selama perjalanan menuju apartemen yang ditempati oleh Aulia, Andika terlihat tersenyum senang.
Bahkan, di dalam otaknya kini dia sedang berusaha untuk merangkai kata-kata manis agar Aulia mau kembali bersama dengan dirinya.
Saat tiba di apartemen, ternyata dia tidak mengalami kesusahan sama sekali saat menanyakan tempat di mana Aulia berada.
Karena memang pada dasarnya Albert sengaja membebaskan siapa pun yang datang, termasuk Andika.
Menurut Albert, memang seharusnya Aulia berbicara secara baik-baik dengan Andika. Dia seorang pria dan dia bisa merasakan bagaimana rasanya berjauhan dengan orang yang sangat dia cintai.
Apalagi di antara mereka ada anak yang sangat lucu-lucu, bahkan ada masalah yang harus dibicarakan secara baik-baik.
Saat tiba di depan pintu apartemen yang Aulia tempati Andika terlihat begitu gugup, tidak lama kemudian dia pun terlihat menekan bel pintu.
Aulia yang mendengar bunyi bel pintu terlihat mengernyitkan dahinya, waktu baru menunjukkan pukul dua siang. Belum waktunya Adisha, Albert ataupun Asep untuk pulang.
Lalu, siapa yang datang di jam ini, pikirnya. Namun, tidak lama kemudian dia nampak tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
"Oh ya ampun, pasti Asep. Dia pasti belum bisa serius dalam bekerja," kata Aulia seraya terkekeh.
Aulia terlihat tersenyum seraya melangkahkan kakinya untuk membuka pintu apartemen, tanpa melihat terlebih dahulu dari layar monitor siapa yang datang, Aulia langsung membukakan pintunya.
__ADS_1
Tubuh Aulia langsung membeku ketika melihat siapa yang kini berada di hadapannya, dia melihat Andika yang sedang tersenyum dengan gugup ke arah Aulia.
"Sa--sayang, kamu... Kamu apa kabar?" tanya Andika.