Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Sepertinya---


__ADS_3

Andika yang merasa takut jika Aulia akan marah terhadap dirinya, memutuskan untuk ke kantor di mana tempat Aulia bekerja.


Sampai di lobi kantor, Andika masuk dengan tergesa. Tanpa banyak biacara dan bertanya dia langsung masuk ke dalam ruangan pak Jaka.


"Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu," kata Andika yang kini sudah berdiri di ambang pintu.


Pak Jaka sampai terlonjak kaget saat mendapatkan teguran dari Andika, dia bahkan sampai mengelus dadanya.


"Ya Tuhan, Tuan Andika. Kenapa anda mengagetkan saya?" tanya Pak Jaka.


Pak Jaka terlihat menatap Andika dengan raut wajah heran, apalagi Andika kini datang bukan dengan baju formalnya.


"Maaf, Pak Jaka. Saya mau nanyain istri saya," kata Andika tanpa sadar.


Dia benar-benar mengkhawatirkan Aulia, sampai-sampai dia lupa mengatakan istrinya kepada pak Jaka.


Pak Jaka yang tidak tahu apa-apa pun terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, lalu dia bertanya.


"Istri? Istri siapa, ya?" tanya Pak Jaka dengan raut wajah bingung.


Andika seakan tersadar dengan ucapannya yang salah, lalu dia pun meralat kembali ucapannya.


"Ma--maksud saya Aulia, Aulia mana ya? Boleh saya bertemu dengannya?" tanya Andika.


Sebenarnya apa pak Jaka ingin sekali bertanya, apa hubungan Andika dengan Aulia. Karena Andika terlihat begitu mengkhawatirkan Aulia saat ini, tapi dia tidak berani bertanya.


"Maaf, Tuan. Aulia sakit, dia saya suruh pulang," jawab Pak Jaka.


Wajah Andika terlihat lebih panik lagi mendengar jawaban dari pak Jaka, dia benar-benar merasa takut jika Aulia akan kenapa-napa.


"Sakit? Dia sakit?" tanya Andika semakin khawatir.


Pak Jaka menatap wajah Andika dengan lekat, dia menjadi curiga jika Aulia dan juga Andika ada hubungan spesial.


"Ya, wajahnya pucat sekali. Jadinya saya suruh pulang, takutnya nanti dia malah pingsan lagi. Bahaya, kasihan ngga punya bapak, ngga punya suami juga dia," kata Pak Jaka seraya terkekeh.


Dia sengaja berkata seperti itu karena ingin melihat reaksi dari Andika, Andika langsung tersenyum kecut.


"Sakit ya, kalau begitu aku pamit. Terima kasih atas informasinya," kata Andika.


Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat pergi dengan tergesa. Pak Jaka terlihat menggelengkan kepalanya dengan bingung melihat tingkah Andika.


"Sebenarnya dia kenapa?" tanya Pak Jaka. "Mending kerja lagi, ngapain juga mikirin dia," sambungnya.


 


"Sebaiknya aku pergi ke apartemen saja, siapa tahu dia sudah pulang setelah beli kue," kata Andika.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Andika terlihat melajukan mobilnya menuju apartemen yang dia belikan untuk Aulia.


"Assalamualaikum, Bu!" sapa Andika ketika dia membuka pintu apartemennya.


"Waalaikum salam, tumben Nak Dika datang. Aulia belum pulang loh, dia masih kerja," kata Bu Aisyah.


Andika terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya itu, pak Jaka berkata jika Aulia sakit dan menyuruhnya untuk pulang.


Namun, bu Aisyah berkata jika Aulia belum pulang. Dia semakin takut dibuatnya, dia takut jika Aulia marah dan tidak mau lagi bertemu dengan dirinya.


"Loh, kok malah diem?" tanya Bu Aisyah.


"Ehm, ngga apa-apa. Saya mau ke kamar sebentar," kata Andika.


Dia merasa bingung dan tidak tahu harus berkata apa, dia juga bingung harus mencari Aulia di mana.


"Ya, istirahatlah," kata Bu Aisyah.


"Ya," jawab Andika.


Setelah berpamitan kepada ibu Aisyah, akhirnya dia terlihat masuk ke dalam kamar yang biasa ditempati oleh Aulia


Saat tiba di dalam kamar, dia langsung duduk di tepian tempat tidur seraya menatap foto pernikahannya bersama dengan Aulia yang ternyata terpasang di dinding dengan ukuran sangat besar.


"Apakah aku sangat berarti untuk kamu, Pimoy?" tanya Andika seraya tersenyum hangat ke arah foto pernikahannya.


"Kamu ke mana, Sayang? Kamu marah ya, sama aku?" tanya Andika lirih.


Di lain tempat.


Aulia yang baru tersadar terlihat diam seraya mengelus perutnya yang masih rata, dia tidak menyangka jika dirinya akan hamil dengan cepat.


Satu bulan setengah dia menikah dengan Andika, hanya dua malam yang mereka lalui bersama. Namun, ternyata benih Andika langsung berkembang di dalam rahimnya.


Pria yang sejak tadi menunggunya berkata jika dirinya sudah hamil selama empat minggu, ada rasa senang yang menyeruak ke dasar hatinya ketika mengetahui akan hal itu.


Karena pada akhirnya dia bisa mengandung benih dari pria yang begitu dia cintai, lelaki yang kini bisa menjadi suaminya.


Namun, ada rasa sedih yang seakan menusuk jantungnya. Karena setelah bayinya lahir nanti, dia harus menyerahkan bayi itu kepada ayah dari janin yang dia kandung.


Pria yang sedari tadi menemani Aulia terlihat iba, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pria itu terlihat menghela napas berat, kemudian dia berkata.


"Jangan bengong terus, kata dokter kalau kamu sudah sadar harus segera melakukan USG. Lebih baik kita ke sana sekarang," ajak pria itu.


"Untuk apa?" tanya Aulia dengan tatapan kosong.


"Agar kamu bisa tahu lebih jelas lagi usia kandungan kamu, bagaimanan kondisi bayi yang kamu kandung dan bagaimana kesehatannya," kata pria itu.

__ADS_1


"Hem," jawab Aulia.


"Ck! Bengong lagi, di mana-mana orang hamil itu harus senang. Bukan kaya orang keder begini, ayo!" ajak pria itu.


"Ayo ke mana?" tanya Aulia seperti orang linglung.


"Ke surga!" jawab pria itu asal.


"Hah? Maksudnya?" tanya Aulia.


"Kita harus segera menemui dokter Alma, kamu harus segera melakukan USG. Dengar?" kata pria itu.


"Ya, aku dengar." Aulia terlihat turun dari ranjang pasien.


Lalu, Aulia terlihat mengikuti pria itu berjalan menuju ruang Obgyn. Tiba di dalam ruang Obgyn, Aulia dan pria itu terlihat duduk di depan dokter Alma.


"Mau langsung USG, atau mau ada yang ditanyakan terlebih dahulu?" tanya Dokter Alma.


"Langsung saja," jawab Aulia dengan lesu.


Dokter Alma nampak kebingungan melihat raut wajah Aulia yang terlihat bingung, dia juga merasa bingung saat melihat raut wajah pria di samping Aulia yang nampak acuh.


Mereka terlihat seperti pasangan aneh yang tidak pernah harmonis, bisa hidup bersama tapi hanya menyatu di atas tempat tidur saja.


Selama pemeriksaan berlangsung, Aulia nampak terdiam. Pria yang mengantarkan Aulia hanya mampu melihat Aulia dengan penuh rasa heran.


Sebenarnya rumah tangga macam apa yang Aulia jalankan bersama dengan suaminya, pikir pria itu. Kenapa Aulia tidak merasa bahagia saat melakukan pemeriksaan kehamilannya, tanya pria itu dalam hati.


Namun, wajah Aulia tiba-tiba saja ceria ketika dokter Alma mengatakan sesuatu hal yang benar-benar membuat dirinya sangat bahagia.


"Selamat ya, Pak, Bu. Calon buah hati kalian sepertinya ada dua," jelas Dokter Alma.


Aulia yang sedari tadi berwajah sendu tiba-tiba saja tertawa dengan penuh haru, bahkan tanpa sadar dia memeluk pria yang sedari tadi diam saja menatap wajah Aulia dengan bingung.


Dokter Alma bisa bernapas lega, begitupun dengan pria yang mengantarkan Aulia ke klinik. Setidaknya kini dia bisa melihat Aulia yang berwajah ceria, tidak murung seperti tadi.


"Benarkah, itu, Dok? Jadi, calon buah hatiku kembar, Dok?" tanya Aulia.


"Ya, calon buah hati kalian kembar. Untuk memastikannya lagi, setelah usia kandungan ibu sepuluh minggu kita akan melakukan USG kembali," jelas Dokter Alma.


Mendengar kata buah hati kalian. Aulia yang sedang memeluk pria yang berada di sampingnya terlihat mengurai pelukannya dengan cepat.


"Maaf," Kata Aulia.


***


Siang Ayang, satu bab lagi meluncur. Jumpa lagi esok hari, Love seempang kong Jali.

__ADS_1


__ADS_2