
Andika sempat menyangka jika Aulia tidak akan mengizinkan dirinya untuk bisa berbicara dengan dirinya, dia tidak menyangka jika Andika akan diizinkan untuk bertemu dengan Alex dan juga Aulia.
Mengingat dirinya yang memang membuat perjanjian dengan Aulia, jika mereka menikah hanya untuk keturunan. Bukan untuk berumah tangga selayaknya pasangan pengantin lainnya.
Sungguh Andika merasa sangat bahagia, apalagi saat Aulia mulai kembali berbicara dengan dirinya.
Rasanya dia ingin sekali dia melompat dan berguling-guling karena begitu senangnya, tapi dia tidak melakukannya.
Walaupun Aulia terlihat begitu ketus, tapi Andika bisa merasakan jika Aulia masih begitu mencintai dirinya.
Apalagi ketika melihat tatapan mata dari Aulia, dia bisa melihat tatapan penuh cinta yang diberikan oleh Aulia kepada dirinya.
Tatapan mata Aulia tidak pernah berubah, selalu saja terlihat begitu memuja dirinya. Andika tersenyum melihat akan hal itu, karena ternyata, walaupun Aulia sempat pergi jauh tapi perasaannya tetap sama.
Andika bersorak bahagia di dalam hatinya, lalu dia menatap wajah putranya yang terlihat begitu menggemaskan.
"Kamu tampan sekali, Sayang. Mirip sekali dengan adik kamu dan juga Daddy." Andika terkekeh di sela isak tangisnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, Aulia terlihat mencebikkan bibirnya. Dia menghampiri Andika lalu berkata.
"Kamu tuh kepedean, dari tadi bilang Alex tampan tapi mirip kamu. Padahal kamu ngga tampan, kamu tuh nyebelin dan jelek," celetuk Aulia.
Mendengar apa ya dikatakan oleh Aulia, Andika terlihat menolehkan wajahnya ke arah istrinya tersebut. Dia terlihat menatap Aulia dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
"Itu kenyataannya, Sayang. Kedua putraku sangat tampan, sama seperti aku, Daddynya."
Andika terlihat menarik lengan Aulia dengan lembut sampai istrinya itu duduk tepat di sampingnya, Andika begitu senang karena bisa berdekatan kembali dengan istrinya.
Aulia yang merasa tidak enak hati langsung menggeserkan tubuhnya agar bisa lebih menjauh dari Andika, lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
Andika tersenyum, kemudian dia merapatkan tubuhnya ke arah Aulia. Sudah dua minggu ini mereka berpisah, rasanya Andika ingin terus berdekatan dengan istrinya tersebut.
Andika bahkan terlihat mengusakkan wajahnya pada pundak istrinya, Aulia benar-benar merasa risih mendapatkan perlakuan seperti itu dari Andika.
Saat melihat Andika yang berada di luar apartemen dengan kondisi yang sangat menyedihkan, Aulia merasa kasihan.
Maka dari itu dia mengajak Andika untuk bertemu dan berbicara, tapi setelah melihat Andika yang langsung bersikap berani seperti itu terhadap dirinya, dia merasa kesal.
"Kamu ngapain sih dekat-dekat aku? Sonoan ih, jauh-jauh! Aku nggak mau deket-deket sama suami orang," ucap Aulia yang mengira jika Andika dan Andini masih bersama.
Andika sempat tersentak kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Aulia, tapi tidak lama kemudian dia terlihat menghela napas panjang.
Andika paham kenapa Aulia berkata seperti itu, mungkin saja karena memang Aulia belum tahu jika dirinya sudah sepakat untuk berpisah dengan Andini, pikirnya.
"Oh ya ampun, Sayang. Aku ini suami kamu, bukan suami wanita lain," batah Andika.
__ADS_1
Andika tentu saja berani mengatakan hal itu, karena perceraiannya dengan Andini sudah diurus oleh Alif.
Mereka sudah sepakat untuk bercerai dan surat cerainya pun sebentar lagi akan turun, sudah dapat dipastikan jika saat ini Aulia adalah istrinya satu-satunya.
"Kamu jangan bercanda, kamu itu emang suami orang. Aku nggak mau lagi deket sama kamu, aku mohon talak aku sekarang juga agar aku tidak merasa terbebani!" pinta Aulia.
Andika langsung menggelengkan kepalanya, lalu dia menarik lembut Aulia ke dalam pelukannya, dia tidak sanggup jika harus kehilangan wanita yang sangat dia cintai itu.
"Dengarkan aku, Sayang. Aku dan Andini sudah sepakat untuk bercerai, kami sudah mengurus surat perceraian kami dan sebentar lagi akan turun. Hanya kamu yang akan menjadi istriku satu-satunya," jelas Andika.
Aulia terlihat melepaskan diri dari pelukan Andika, kemudian dia menatap Andika dengan raut wajah tidak percaya. Dia tidak menyangka jika Andika akan bercerai dengan Andini.
Andika terlihat merebahkan tubuh mungil Alex di atas tempat tidur, kemudian dia meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Lalu, dia menyandarkan kepalanya di paha istrinya.
Andika juga terlihat memeluk pinggang Aulia dengan sangat erat, dia seolah mengatakan jika dirinya tidak mau lagi berpisah dengan istrinya tersebut.
Andika malah terdiam, karena merasakan kenyamanan yang luar biasa saat memeluk istrinya tersebut.
Dia bahkan terlihat mengendus aroma tubuh istrinya yang terasa begitu menenangkan, wangi tubuh istrinya yang selalu terasa membuat pikirannya tenang.
"Maksud kamu apa? Maksud kamu, kamu sudah bercerai dengan Andini begitu?" tanya Aulia.
Andika terlihat menganggukan kepalanya tanda mengiyakan atas apa yang dipertanyakan oleh istrinya tersebut, Aulia terlihat membulatkan matanya dengan sempurna.
"Ya, dia sendiri yang meminta cerai kepadaku dan akhirnya kami pun sepakat untuk bercerai." Andika mengeratkan pelukannya.
"Tapi, kenapa kalian harus bercerai? Bukankah kalian saling mencintai?" tanya Aulia.
Andika terlihat mendongakkan kepalanya, lalu dia menatap istrinya dengan begitu lekat. Aulia yang mendapatkan tatapan seperti itu terlihat menolehkan wajahnya ke arah lain.
"Bolehkah aku jujur?" tanya Andika.
Andika merasa jika ini adalah saat yang tepat untuk berkata jujur kepada Aulia, agar permasalahan di antara mereka cepat terselesaikan.
"Jujur saja, kenapa harus minta izin?" ucap Aulia tanpa berani menatap wajah Andika.
"Kamu tahu, Pimoy, Sayang? Sebenarnya aku begitu mencintaimu sejak lama, bahkan saat mommy mau menikahkan aku dengan Andini pun aku mencarimu, karena ingin menikahimu. Tapi, kamu malah meninggalkan aku."
Andika mengatakan hal itu dengan wajah yang terlihat begitu serius, Aulia terlihat menatap wajah Andika dengan tatapan tidak percaya.
Dia terlihat menatap lekat netra Andika, Aulia ingin berusaha mencari jawaban dari mata suaminya tersebut.
Dia seolah ingin menyelami perasaan Andika lewat sorot matanya, sayangnya dia melihat kebenaran di sana. Tidak ada kebohongan sama sekali dari sorot mata Andika.
Selama mereka bersahabat Andika tidak pernah sekali pun menunjukkan jika dirinya mencintai Aulia, bahkan Andika terkesan sering membuat Aulia jengkel.
__ADS_1
Andika selalu saja merepotkan Aulia, pria itu lebih sering membuat dirinya marah-marah dari pada merasa senang. Namun, herannya dia begitu mencintai pria itu.
Namun, kini dia bisa melihat cinta yang begitu besar dari mata Andika untuk dirinya. Namun, dia tidak bisa mengatakan percaya begitu saja kepada Andika. Dia masih ingin menguji pria itu.
"Kamu jangan bohong! Kamu sengaja kan, berkata seperti itu agar aku tetap mau menjadi istri kamu? Biar kamu bisa tetap sama aku dan juga sama kedua putra kita?" tuduh Aulia.
Andika terlihat bangun, lalu dia duduk tepat di samping Aulia. Dia menarik lembut Aulia ke dalam dekapan hangatnya, lalu dia kecup kening Aulia dengan begitu lembut.
Tangan Andika bahkan terlihat terulur untuk menarik lembut tangan kanan Aulia dan menempelkannya di dadanya.
"Apakah kamu bisa merasakan perasaanku Aulia, Sayang? Aku begitu tulus mencintaimu, kenapa kamu begitu sulit untuk percaya jika aku memang mencintaimu?" tanya Andika.
Pada kenyataannya Aulia benar-benar bisa merasakan cinta yang begitu besar dari Andika, hanya saja dia belum mau mengakuinya.
"Tentu saja aku begitu sulit untuk mempercayainya, karena wajah kamu tidak pernah serius," ucap Aulia.
"Lalu, aku harus berbuat apa?" Aku harus bersikap seperti apa? Aku harus bagaimana agar kamu percaya jika aku hanya mencintai kamu sejak dulu, sekarang hingga nanti?" ucapan Andika frustasi.
Melihat raut wajah Andika yang begitu frustasi, Aulia ingin sekali tertawa. Namun, dengan sekuat tenaga dia memgatupkan mulutnya menahan tawa.
"Aku nggak tahu, aku bingung," ucap Aulia.
Setelah mengatakan hal itu, Aulia terlihat menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Hal itu dia lakukan agar Andika tidak melihat raut wajahnya yang ingin menertawakan suaminya tersebut.
"Jangan bingung, sekarang kembalilah kepadaku. Mari kita mulai berumah tangga dengan baik, kamu mau tinggal di mana? Mau tinggal di rumah mom atau di apartemen kita? Karena jika kamu kembali padaku, aku akan setia kepadamu dan kamu hanya akan menjadi wanita satu-satunya di dalam hidupku. Aku juga akan menuruti semua keinginan kamu," jelas Andika.
Aulia terdiam, dia bingung harus berkata seperti apa. Mau mengatakan tidak tapi dia ingin hidup bersama dengan Andika, mau mengatakan Iya tapi takut Andika akan membohongi dirinya.
Dia takut jika Andika hanya beralasan jika dirinya sudah bercerai dengan Andini, padahal itu hanya trik Andika agar dirinya mau kembali lagi kepada Andika.
Andika seakan paham dengan kegamangan yang dirasakan oleh istrinya, Andika tersenyum kemudian dia melerai pelukannya dan menatap Aulia dengan intens.
"Aku tidak meminta jawabannya sekarang juga, aku akan memberikan kamu waktu untuk berpikir. Kamu boleh menjawab pertanyaanku kapan pun kalau kamu sudah siap, aku tidak akan memaksakan," kata Andika.
Aulia terharu mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, biasanya Andika selalu memaksakan kehendaknya. Namun, kali ini dia terlihat lebih pengertian.
"Baiklah, aku minta waktu satu minggu untuk berpikir. Sekarang kamu pulanglah dulu, ini sudah malam," ucap Aulia.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi, kamu janji ya, selama kamu meminta waktu untuk berpikir jangan pernah melarang aku untuk datang menemui kamu dan putra kita," pinta Andika.
"Iya, aku tidak akan melarangmu untuk datang lagi. Sekarang pulanglah," ucap Aulia memerintah.
Andika yang sedang berbicara dengan Aulia tiba-tiba saja terdiam, dia merasakan wangi masakan yang begitu menggelitik Indra penciumannya. Kemudian Andika berkata.
"Sepertinya di dapur ada yang memasak dan wanginya terasa sangat enak, apakah aku boleh ikut makan malam bersama dengan kalian?" tanya Andika.
__ADS_1
Andika merasa tidak rela jika harus pulang saat ini juga, tentu saja dia harus mencari alasan agar bisa tetap berada di sana.