
Awalnya Andika memang berniat untuk tidak bekerja, karena mood dia sedang tidak baik. Dia ingin menghabiskan waktu dengan Andini, sayangnya tidak bisa.
Apalagi setelah melihat Andini yang begitu sedih ketika bersama dengan bayi malang itu, akhirnya Andika memutuskan untuk pergi ke perusahaannya.
Selain untuk bekerja, dia juga ingin mencari tahu tentang Aiden. Mantan kekasih dari istrinya itu, dia juga ingin mencari tahu ada apa sebenarnya yang terjadi antara istrinya dan mantan kekasihnya.
Saat tiba di kantor, Andika tidak langsung masuk ke dalam ruangannya. Namun, dia memilih untuk masuk ke dalam ruangan Alif.
Melihat tuannya yang masuk ke dalam ruangannya, Alif yang sedang bekerja terlihat menghentikan aktivitasnya.
Kemudian, pria yang dulu menjadi sahabatnya bersama dengan Aulia itu terlihat bangun dan membungkukkan badannya dengan hormat.
"Selamat siang, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Alif.
Mendengar pertanyaan dari Alif, Andika tidak langsung menjawab. Namun, dia terlihat duduk tepat di hadapan Alif lalu dia berkata.
"Tolong cari tahu tentang kegiatan yang beberapa hari ini Andini lakukan di belakangku, tolong cari tahu juga apa yang Aiden lakukan selama beberapa hari ini bersama dengan istriku," perintah Andika.
Tanpa banyak bicara Alif terlihat menganggukkan kepalanya, lalu dia pun mengambil ponselnya dan meminta orang kepercayaannya untuk mengikuti kegiatan Andini dan mencari tahu apa saja yang dilakukan Andini selama Andika tidak ada.
"Lakukanlah dengan baik, aku akan pergi ke ruanganku," kata Andika seraya menepuk pundak dari Alif.
Andika terlihat melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Alif, kemudian dia masuk ke dalam ruangannya dan duduk di atas kursi kebesarannya.
Tidak ada yang Andika kerjakan, dia hanya melamunkan apa yang terjadi sekarang kepada dirinya.
Bahkan, hingga satu jam lamanya Andika masih terlihat melamun. Dia benar-benar tidak mengerjakan apa pun, sampai kedatangan Alif mengagetkan dirinya.
Barulah Andika terlihat merubah posisinya, dia menegakkan tubuhnya lalu menatap manik Alif dengan lekat.
"Ada apa?" tanya Andika.
Sebenarnya Alif ingin memaki Andika, karena sedari tadi dia sudah mengetuk pintu. Namun, atasannya itu tidak juga menyahuti.
Akan tetapi, Andika adalah atasannya. Alif tidak bisa berkata apa-apa, dia terlihat tersenyum kemudian berkata.
"Saya sudah mengirimkan apa yang anda inginkan lewat pesan chat, Tuan," adu Alif.
"Oh, akan saya lihat. Terima kasih," ucap Andika.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu," kata Alif.
Setelah mengatakan hal itu akhirnya Alif terlihat meninggalkan ruangan Andika, selepas kepergian Alif, Andika langsung mengambil ponselnya dan membuka pesan chat dari asisten kepercayaannya itu.
__ADS_1
Saat Andika membuka pesan chat tersebut, dia melihat beberapa foto kebersamaan Andini dengan Aiden.
Dari tatapan mata Aiden, Andika bisa melihat jika pria itu masih menyimpan rasa yang begitu besar untuk Andini.
Berbeda dengan Andini yang terlihat biasa saja, hanya saja Andini memang terlihat begitu peduli kepada bayi yang ditinggalkan ibunya itu.
Dengan melihat hal itu, Andika bisa menyimpulkan jika Andini benar-benar hanya iba terhadap putri dari Aiden.
Namun, satu hal yang Andini lupakan. Kebersamaan yang dia lalui dengan Aiden, rasa iba yang dia rasa terhadap Anastasya, justru akan membawa dia kembali pada Aiden.
Tentu saja hal itu bisa terjadi jika dia tidak bisa membentengi dirinya, karena rasa nyaman saat bersama dengan Aiden, karena rasa cinta yang Aiden masih tunjukkan bisa membuat dia kembali dengan pria itu.
"Heh!"
Terdengar helaan napas berat dari bibir Aiden, dia terlihat mematikan ponselnya. Lalu, dia menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Dia bahkan terlihat menengadahkan wajahnya seraya memandang langit-langit, dia sedang meraba hati dan pikirannya.
Dia tersenyum kecut kala dirinya merasa lebih parah dalam bertingkah laku, dia malah sudah menikah kembali dan sebentar lagi akan memiliki buah hati dari sahabatnya.
Tidak lama kemudian, Andika terlihat menegakkan tubuhnya. Lalu dia berkata dengan raut wajah serius.
"Sepertinya aku tidak boleh egois, aku akan membiarkan kamu untuk mencari jalan kebahagiaan kamu sendiri, Andini. Apa pun yang akan terjadi nanti, itu adalah pilihan kamu," kata Andika.
Alika yang sudah selesai melakukan perawatan bersama dengan Aulia, langsung mengajak menantu rahasianya itu untuk pergi ke Panti Asuhan.
Tentu saja tujuannya adalah ingin berbagi dengan anak-anak Panti, dia juga mau minta didoakan agar kandungan Aulia sehat selalu.
Hal itu sengaja dia lakukan karena pasti Aulia tidak akan mengadakan acara empat bulanan, apalagi pernikahan mereka dilaksanakan secara rahasia. Maka dari itu Alika mengajak Aulia untuk berbagi dengan anak-anak Panti.
"Padahal hanya dikasih sedikit uang jajan dan juga makanan, tapi mereka terlihat begitu bahagia," celetuk Alika.
"Karena hal yang sepele untuk mereka, merupakan kebahagiaan yang besar," jawab Aulia.
Aulia terlihat memperhatikan anak-anak Panti yang tertawa dengan riang saat mendapatkan mainan dan juga uang buat jajan, sepele memang.
Namun, dia dan Alika sudah memberikan hal yang benar-benar membahagiakan untuk mereka.
"Hem, kamu benar." Alika membenarkan ucapan dari menantunya itu.
Setelah puas memperhatikan anak-anak Panti, Alika terlihat menolehkan wajahnya kepada Aulia. Kemudian, tatapan matanya beralih kepada perut buncit Aulia.
Dia menunduk lalu mengusap perut Aulia dengan penuh kasih, di sana ada calon cucunya. Bayi kembar yang begitu diharapkan oleh dirinya dan juga Andika.
__ADS_1
Satu hal yang belum dia paham, kenapa Andika menikah lagi? Kenapa Andika menduakan Andini? Kenapa Andika tidak melakukan proses bayi tabung jika memang Andini susah untuk mengandung?
Sebenarnya jawabannya sudah dia dapatkan, karena anak buahnya sudah memberikan informasi yang lengkap kepada Alika.
Sayangnya dia belum membuka file yang diberikan oleh anak buahnya, karena saat ini dia masih bersama dengan Aulia. Rasanya tidak mungkin jika dia membuka file tersebut di depan Aulia sendiri.
"Sehat-sehat di dalam perut Mommy, cucu-cucu Oma." Alika tersenyum haru.
"Terima kasih, Oma," kata Aulia tulus.
"Hem, lebih baik sekarang kita pulang. Karena kamu butuh istirahat, Tante juga ingin istirahat," ucap Alika.
"Ya, aku juga sudah terlalu lama meninggalkan Ibu. Sebaiknya cepat pulang, kasihan Ibu sendirian. Adish pasti sedang sibuk bekerja," timpal Aulia.
"Hem, jaga cucu-cucuku dengan baik," ucap Alika.
Aulia tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Alika, dia berpikir jika Alika mengatakan hal itu karena Alika menganggap dirinya sebagai putrinya.
Padahal, Alika mengatakan hal tersebut karena memang dia mengetahui jika Andika, ayah dari calon buah hati yang sedang dikandung oleh Aulia.
"Pasti, Tante," jawab Aulia.
Setelah memberikan sumbangan dan berpamitan kepada pemilik Panti, akhirnya Alika mengantarkan Aulia ke apartemennya.
Walaupun dia masih ingin bersama dengan Aulia, tapi dia tidak boleh egois. Dia sangat tahu jika Aisyah membutuhkan Aulia, Aulia juga membutuhkan istirahat dengan pikiran yang tenang.
Jika Aulia tinggal bersama dengan dirinya, pasti dia akan merasa tertekan. Dia akan takut ketahuan jika dirinya sedang mengandung calon buah hati dari Andika.
Walaupun pada kenyataannya memang Alika sudah mengetahui hal itu, Alika hanya perlu memastikannya saja.
Setelah mengantarkan Aulia, akhirnya Alika pulang ke kediamannya. Saat tiba di dalam kamarnya, dia langsung membuka file yang dikirimkan oleh anak buahnya.
Matanya terlihat memanas, bahkan air matanya turun begitu saja ketika melihat foto pernikahan antara Aulia dan juga Andika.
"Kamu tega sekali Andika," keluh Alika.
Kembali Alika melihat file yang dikirimkan oleh anak buahnya, matanya langsung membulat dengan sempurna ketika melihat Andini yang sedang melakukan operasi pengangkatan rahim.
Kini dia paham kenapa Andika menikah lagi, dia masih ingin memiliki keturunan kandung. Bukan hanya sekedar anak adopsi.
Namun, dia merasa sangat sedih karena ternyata dibalik pernikahan Aulia dan juga Andika ada perjanjian di dalamnya.
Aulia hanya akan melahirkan buah hati untuk Andika, buah hati untuk sahabatnya. Bukan untuk menikah selamanya, dada Alika terasa sesak. Dia tidak menyangka jika Aulia mau melakukan hal ini hanya untuk sahabatnya.
__ADS_1
"Cih! Cinta kamu terlalu besar untuk Andika, sayangnya Andika tidak bisa melihatnya Pimoy,'' ucap Alika seraya terisak.