Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Memeluknya


__ADS_3

Aulia nampak menidurkan Alex di kamar yang sudah disediakan oleh Albert, setelah itu dia langsung meminta Asep untuk mengantarkan dirinya ke Rumah Sakit.


Mumpung masih sangat pagi, pikirnya. Dia berharap jika dia bisa menyusui secara langsung putra keduanya itu, dia berharap bisa memeluk secara langsung Axel karena dia begitu rindu.


"Apa tidak sebaiknya nanti siang saja, kak? tanya Asep yang merasa sangat lelah.


Mendengar pertanyaan dari Asep, Aulia terlihat menatap Asep dengan tidak suka. Dia meminta diantar itupun jika Asep mau, jika memang tidak mau dia akan pergi sendiri. Karena dia juga mampu mengendarai mobil, pikirnya.


"Tidak bisa, Asep. Aku maunya sekarang, kalau kamu mau mengantarkan, aku sangat berterima kasih. Tapi, kalau kamu tidak mau, aku tidak apa-apa. Biar aku jalan sendiri saja," ucap Aulia yang sudah tidak bisa menahan rindunya lagi kepada putra keduanya itu.


Asep terlihat kaget dengan jawaban dari Aulia, dengan cepat dia mengusap lembut punggung Aulia dan berkata.


"Baiklah baiklah, aku akan mengantarkan, Kakak." Asep akhirnya menyanggupi.


Padahal sebenarnya Asep merasa sangat lelah, tapi dia tidak tega melihat wajah sedih dari Aulia.


Sebelum pergi tentu saja Aulia menitipkan putranya kepada Adisha, dia bahkan memompa asinya terlebih dahulu dan memasukkannya ke dalam botol steril. Takut-takut saat dia pergi putranya itu akan terbangun dan meminta asi'nya.


"Mom tinggal sebentar, mau lihat dedek kamu dulu. Jangan nakal," pamit Aulia kepada putra sulungnya.


Karna tidak mau membuat Aulia kecewa, akhirnya Asep segera mengantarkan Aulia menuju Rumah Sakit.


Hanya memerlukan waktu lima belas menit saja mereka sudah sampai di Rumah Sakit, Aulia dengan tergesa berlari menuju meja resepsionis.


Dia ingin segera bertanya tentang keberadaan putranya, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dan memberikan asinya.


Melihat akan hal itu, Asep terlihat segera menyusul Aulia. Tentu saja karena Asep takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap wanita itu.


"Maaf, Nona. Boleh saya bertanya di mana ruang perawatan bayi bernama Axel Wijaya?" tanya Aulia.


Melihat ada seorang wanita yang begitu terlihat khawatir saat bertanya kepadanya, wanita muda yang bekerja di balik meja resepsionis itu terlihat mengernyitkan dahinya. Lalu, dia pun bertanya.


"Maaf, anda siapanya ya?" tanya suster tersebut.


Untuk sesaat Aulia terdiam, haruskah dia mengatakan yang sebenarnya atau harus berpura-pura menjadi orang lain, pikirnya.


Namun, dia sangat takut jika dia berkata kalau dirinya bukan ibu dari bayi yang bernama Axel Wijaya, maka dia takut jika dirinya tidak akan diberikan izin untuk bertemu.

__ADS_1


Akhirnya Aulia pun memutuskan untuk berkata dengan jujur, hal itu dilakukan agar dirinya mudah bertemu dengan putra keduanya itu.


"Saya ibunya, Nona. Kemarin dia dibawa oleh ayahnya ke sini, saya baru tahu kalau dia ternyata dirawat di sini. Bolehkah saya menemuinya?" tanya Aulia.


Wanita muda yang bekerja di balik meja resepsionis itu terlihat tersenyum ke arah Aulia, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.


"Sebentar Nyonya," jawab wanita cantik yang bekerja di balik meja resepsionis tersebut.


Tidak lama kemudian, wanita itu terlihat tersenyum kemudian memberitahukan di mana tempat Axel dirawat, Aulia begitu sangat senang.


Dengan cepat dia berlari menuju kamar di mana Axel dirawat, dia sudah sangat tidak sabar untuk segera memeluk putra tampannya yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan dirinya.


Dia benar-benar sudah rindu dengan putra keduanya itu, dia sudah tidak sabar ingin menggendong putra tampannya itu.


Saat dia tiba di ruang perawatan milik putra keduanya itu, Aulia terlihat menghela napas dalam beberapa kali.


Kemudian, dia berusaha untuk membuka pintu ruang perawatan tersebut dengan sangat perlahan.


Matanya langsung berkaca-kaca ketika pintu sedikit terbuka, Andika nampak tertidur di samping putra mereka.


Begitupun dengan Axel, dia nampak tertidur namun wajahnya masih terlihat pucat. Aulia memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruang perawatan milik putranya itu.


Aulia sempat menatap wajah Andika yang begitu lelap dalam tidurnya, lelaki yang sampai saat ini masih begitu dia cintai. Aulia tersenyum melihat wajah damai suaminya, lalu dia tatap wajah Axel yang sangat mirip dengan dirinya.


Sepertinya Andika baru saja tertidur, karena dia merasa tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran dari Aulia.


Berbeda dengan Axel, mendapatkan sentuhan dari sang Ibu, Axel nampak terbangun. Dia tersenyum seolah tahu jika yang menggendongnya adalah ibunya sendiri.


"Mom, rindu." Aulia berucap tanpa bersuara karena takut membangunkan Andika.


Aulia merasa sangat bersyukur karena Andika tertidur dengan sangat pulas, maka dari itu dia tidak menunggu waktu lama lagi. Dia langsung memanfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya.


Dia langsung menyusui putranya seraya membelakangi Asep tapi tetap menghadapa ke arah Andika, hal itu dia lakukan agar saat Andika bangun dia akan langsung tahu.


Axel menyusu dengan sangat lahap, hal itu membuat hati Aulia senang bercampur rasa sedih. Karena putra keduanya hanya meminum asinya saat pertama dilahirkan saja.


'Maafkan Mom, Sayang. Maaf karena sudah meninggalkan kamu,' kata Aulia dalam hati.

__ADS_1


Setelah lima belas menit menyusui putranya, Aulia nampak tersenyum. Karena Axel nampak tertidur kembali, Aulia mengecup pipi putranya dan menidurkan Axel kembali di samping ayahnya.


"Mom pulang dulu, nanti Mom datang lagi," bisik Aulia.


Aulia yang takut jika Andika akan terbangun segera pergi dari ruangan tersebut, tidak lupa dia menghampiri ruang suster jaga dan meminjam pompa asi.


Tentu saja hal itu dia lakukan agar dia bisa memompa asinya dan memberikannya kepada Axel, dia membutuhkan asinya.


Setelah selesai memompa asi'nya, Aulia terlihat menghampiri seorang suster yang berjaga di sana.


"Tolong berikan ASI ini nanti kepada Axel," pinta Aulia.


"Kenapa tidak Nyonya saja?" tanya suster.


"Aku tidak bisa," jawab Aulia.


"Lalu saya harus memberikan asi ini pada baby yang dirawat di ruangan yang mana?" tanya suster.


"Di ruangan mawar nomor 59," jawab Aulia.


"Baiklah, Nyonya. Akan saya berikan," ucap suster menyanggupi.


Aulia merasa sangat senang mendengar jawaban dari suster tersebut, dia pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada suster itu.


"Terima kasih, sus. Tolong berikan perawatan yang terbaik untuk putraku, aku pergi dulu," pamit Aulia.


Tidak lama setelah kepergian dari Aulia, Andika terbangun karena ingin melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik.


"Wah, putra tampan Daddy lelap banget bobonya," ucap Andika.


Setelah mengatakan hal itu ia terlihat menunduk lalu mengecup pipi putranya dengan lembut, tidak lama kemudian dahinya nampak mengernyit dalam.


"Kenapa pipi kamu lengket begini? Ada bekas putih-putihnya juga, kamu kaya habis minum susu. Padahal, malam pas kamu minta susu Daddy sudah membersihkan pipi kamu pakai tisu basah loh," ucap Andika dengan raut wajah bingung.


Setelah mengatakan hal itu, Andika nampak turun dari bad pasien. Lalu dia terlihat mengedarkan pandangannya. Dia mengira jika Alika datang dan memberikan susu untuk putranya.


Namun, ternyata di sana tidak ada siapa pun. Satu hal lagi yang membuat Andika merasa curiga, pintu ruang perawatan milik Axel terlihat tidak tertutup dengan sempurna.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa yang masuk?" tanya Andika dengan bingung.


Dia melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam ruangan tersebut, siapa tahu masih ada orang di luar. Sayangnya tidak ada.


__ADS_2