
Setelah hari itu Andika membiarkan apa pun yang Andini lakukan di belakangnya, tentu saja walaupun seperti itu Andika tetap mengawasi gerak-gerik dari istrinya tersebut.
Bukan karena begitu mencintai Andini, tapi karena Andini adalah istrinya dan masih merupakan tanggung jawabnya.
Pada awal pernikahannya Andika sama sekali tidak mencintai Andini, kehidupan mereka berubah dekat karena sikap Andini yang penurut dan juga manis.
Namun, tidak ada kata cinta. Hanya sekedar adanya kata terbiasa, kasih, sayang dan juga rasa nyaman.
Karena setelah Andika menelaah jauh ke dalam lubuk hatinya, tidak ada rasa cemburu sedikit pun ketika Andini pergi bersama dengan mantan kekasihnya itu.
Justru perasaan aneh mulai Andika rasakan saat ini, dia malah merasa tidak ingin berjauhan dengan Aulia.
Bahkan, dia ingin bersikap posesif dan mengatur kemana Aulia akan pergi. Apalagi beberapa hari yang lalu, Andika sempat pernah dibuat panas hatinya oleh Aulia.
Aulia kedapatan beberapa kali pergi dengan seorang pria, pria itu begitu perhatian sekali kepada Aulia.
Hal itu benar-benar membuat Andika cemburu, tapi setelah Andika selidiki ternyata pria itu hanyalah kekasih dari Adisha.
Pria itu menyangka jika Aulia adalah wanita hamil yang ditelantarkan oleh suaminya, maka dari itu sikap dari kekasih Adisha itu begitu perhatian karena iba, bukan karena cinta.
"Ah, sial! Maaf, Pimoy!" hanya kata itu yang keluar dari dalam mulutnya kala itu.
Setelah mengetahui hal itu Andika merasa kesal kepada dirinya sendiri, karena sangat wajar jika pria itu beranggapan seperti itu.
Karena memang pernikahan mereka dirahasiakan, tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa kecewa kepada dirinya sendiri.
Setelah melihat rasa iba dari kekasih Adisha, Andika barulah menyadari jika Aulia pasti banyak merasakan kesedihan saat menjadi istri rahasianya.
Saat ini usia kandungan Aulia sudah memasuki bulan kesembilan, perut Aulia terlihat begitu besar. Bahkan dia sampai kesusahan untuk berjalan.
Alika bahkan sering datang ke apartemen untuk sekedar melihat keadaan dari menantu rahasianya, hal itu membuat Andika kesusahan untuk bertemu dengan istrinya.
Entah kenapa sampai saat ini Andika belum bisa jujur kepada Alika, tapi satu hal yang pasti. Semua yang dibutuhkan oleh Aulia tidak pernah diabaikan oleh Andika.
Dia mengirim seorang pengawal wanita yang khusus untuk menjaga dan mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh Aulia, takut-takut Aulia akan melahirkan.
Namun, satu hal yang membuat Andika bingung saat ini. Andika merasa jika Aulia memiliki perut yang tidak sama dengan wanita hamil lainnya.
Perut Aulia terlihat begitu besar, tapi Aulia selalu beralasan jika semua itu karena dirinya yang tidak pernah mau berhenti makan.
"Sayang, aku pulang," bisik Andika saat masuk ke dalam kamar istrinya yang sudah terlelap.
Pukul sembilan malam Alika baru pergi dari apartemen Aulia, hal itu harus membuat Andika bersabar menunggu ibunya tersebut untuk pergi agar bisa menemui istrinya.
Andika tersenyum saat melihat istrinya tertidur pulas, lalu l tatapan mata Andika beralih kepada perut istri rahasianya tersebut.
__ADS_1
Dia singkap daster yang dipakai oleh Aulia, lalu dia kecup dan dia elus perut buncit Aulia. Aulia yang mendapatkan sentuhan seperti itu langsung terbangun.
Dia yang memang begitu merindukan sentuhan suaminya, langsung tersenyum kala melihat wajah Andika yang ternyata kini begitu dekat dengan dirinya.
"Kamu pulang, Yang." Aulia berusaha untuk bangun dan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.
"Hem, aku kangen. Bahkan sudah satu bulan ini aku kesusahan untuk bertemu dengan kamu, karena---"
"Hem, aku paham. Karena mom kamu yang berubah posesif," jawab Aulia.
"Ya, satu bulan bukan waktu yang sebentar. Kangen, Yang." Andika langsung merapatkan tubuhnya lalu menyatukan bibir mereka.
Aulia yang juga begitu merindukan suaminya itu langsung menyambut pagutan bibir dari suaminya, mereka saling meluapkan kerinduan dengan ciuman itu.
Namun, semakin lama mereka berciuman, hasrat dari keduanya pun berubah untuk melakukan hal yang lebih.
Bibir Andika bahkan kini sudah mulai turun dan berlabuh pada dada istrinya yang semakin padat berisi dengan air susu yang sudah siap dihisap calon buah hati mereka.
"Kamu sangat seksi," celetuk Andika.
Aulia tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh Andika, justru dia begitu sibuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
Dokter berkata jika dalam minggu ini adalah perkiraan Aulia melahirkan, maka dari itu dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu kebersamaan yang ada bersama dengan Andika.
"Pimoy, aku kangen banget. Boleh itu ngga?" tanya Andika seraya mengusp-usap perut besar Aulia.
"Lakukan, Sayang. Tapi yang lembut," pinta Aulia.
Senyum di bibir Andika langsung mengembang dengan sempurna, karena Aulia memperbolehkan dirinya untuk melakukannya.
Malam ini akhirnya terjadi percintaan yang begitu hangat, penuh kasih, penuh kerinduan dan juga tentunya begitu lembut.
Walaupun Andika merasakan gejolak yang luar biasa untuk bercinta dengan istrinya, tapi dia masih bisa menahan untuk tetap bersikap lembut kepada istrinya tersebut.
"Terima kasih, Sayang." Satu kecupan Andika labuhkan setelah mereka selesai bercinta.
Aulia tidak menjawab apa pun perkataan dari Andika, dia hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum penuh arti kepada suaminya itu.
Andika membalas senyuman dari istrinya, lalu dia mengecup kening Aulia dan memeluknya dengan posesif.
"Selamat malam Pimoy, Sayang. Terima kasih karena sudah menghadirkan kebahagiaan yang luar biasa di dalam hidupku," ucapan Andika.
"Hem," jawab Aulia yang sangat lelah.
Keesokan harinya, Andika terlihat bersiap untuk berangkat bekerja. Aulia terlihat begitu perhatian dan sangat manja, Andika merasa senang tapi dia juga merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Entah apa dia tidak tahu.
__ADS_1
"Aku berangkat," pamit Andika.
"Ya," jawab Aulia. "Ehm, bolehkan jika aku meminta satu buah ciuman perpisahan sebelum kamu pergi?" tanya Aulia.
Andika sempat mengernyitkan dahinya kala Aulia mengatakan hal tersebut, Andika bukan ingin meninggalkan Aulia untuk selamanya.
Namun, sikap wanita itu seolah-olah mereka akan berpisah untuk waktu yang lama. Andika merasa heran akan hal itu, tapi dia tetap mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pagi ini sebelum Andika berangkat bekerja mereka berciuman dengan sangat mesra, Aulia bahkan sempat memeluk Andika dengan begitu posesif, seolah enggan untuk ditinggalkan.
"Kamu sangat aneh, aku pergi dulu," pamit Andika.
"Ya," jawab Aulia singkat.
Andika akhirnya pergi ke kantor meninggalkan Aulia, tentunya setelah dia berpamitan kepada istri dan juga calon buah hatinya.
Sebenarnya setelah kepulangan Alika, Aulia sempat merasakan kontraksi yang cukup lama. Maka dari itu tadi malam saat Andika mengajaknya untuk bercinta tentu saja dia mengiyakan.
Pagi ini dia kembali merasakan kontraksi, tapi sebisa mungkin dia tidak menunjukkan rasa sakitnya di depan Andika
Bahkan Aulia terlihat menghampiri pengawal wanita yang ditugaskan oleh Andika untuk menjaganya, lalu dia berkata.
''Mila, aku belum mempunyai perlengkapan bayi. Menurut dokter sebentar lagi aku akan melahirkan, apakah kamu mau membantuku?" tanya Aulia.
"Iya, Nyonya. Aku akan membantu," jawab Mila.
"Kalau seperti itu pergilah ke toko perlengkapan bayi, tolong belikan daftar belanjaan ini di sana," pinta Aulia seraya memberikan kertas berisikan catatan yang banyak kepada Mila.
"Banyak sekali, Nyonya. Kalau seperti ini aku harus pergi dengan waktu yang cukup lama," ucap Mila khawatir.
"Pergilah Mila, bukankah kamu juga pergi hanya untuk membelikan aku perlengkapan bayi?" ucap Aulia.
''Baiiklah, Nyonya. Tapi, kalau ada apa-apa Nyonya harus segera menghubungiku. Jangan sampai tidak," pesan Mila.
"Tentu Mila," jawab Aulia seraya tersenyum hangat padahal dia sedang berusaha menahan rasa sakit yang teramat.
Akhirnya setelah Aulia menyerahkan kartu hitam yang pernah diberikan oleh Andika, Mila pun terlihat pergi dari apartemen tersebut.
Tentu saja tujuannya adalah untuk membelikan perlengkapan bayi untuk Aulia, sedangkan Aulia setelah kepergian dari Mila, dia langsung bersiap untuk pergi ke Klinik.
Dia sudah merasa kontraksi yang sering dan bahkan dari area intinya sudah mulai mengeluarkan darah.
Berbeda dengan Adisha dan juga sang kekasih, mereka membawa membawa Aisyah pergi ke suatu tempat yang memang sudah mereka rencanakan.
Sebenarnya Aisyah berusaha khawatir saat ia melihat putrinya pergi ke Klinik sendirian, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa setelah putrinya membujuk.
__ADS_1
"Sudah pembukaan lima, Nyonya." Dokter Alma berkata kepada Aulia yang baru saja memeriksa.
"Apakah masih lama, Dok?" tanya Aulia pada dokter Alma.