Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Kegelisahan


__ADS_3

Sesuai dengan yang sudah Aulia rencanakan, pukul lima pagi Aulia pergi bersama dengan bayinya, bayi pertamanya.


Dia pergi bersama dengan Albert, pacar dari adiknya, Adisha. Sebelum pergi tentu saja Aulia menitipkan putra keduanya kepada suster dengan berat hati.


"Maaf, Sus. Nanti sore suami saya akan datang, tolong berikan putra kedua saya kepadanya." Aulia meminta tolong.


Suster yang menjaga twins terlihat kebingungan, pasalnya Aulia akan pergi dengan bayi pertamanya.


Lalu, dia malah menitipkan bayi keduanya kepada dirinya. Sungguh ini adalah hal yang aneh, tapi dia tidak berani berkata apa pun.


"Ya, Nyonya. Nanti akan saya berikan putra kedua anda kepada suami anda," jawab suster.


"Oiya Sus, kalau pukul dua siang dia tidak datang, tolong hubungi suami saya. Ini nomor telponnya," ucap Aulia seraya memberikan nomor ponsel Andika.


"Ya, Nyonya," jawab suster patuh.


Sebelum Aulia pergi, tentunya dia juga menyediakan beberapa botol asi untuk putranya tersebut.


Tidak lupa Aulia juga memberikan sepucuk surat kepada suster untuk dia berikan kepada suaminya Andika, suster pun menerimanya.


Setelah itu, dia mengecupi setiap Inci wajah putra keduanya itu dengan penuh kesedihan. Inilah janjinya, dia akan memberikan buah hati untuk sahabatnya.


Namun, dia tidak bisa memberikan kedua bayinya. Karena Aulia juga ingin memiliki bagian dari Andika, yaitu putra pertamanya.


Bukan tanpa alasan Aulia membawa putra pertamanya, karena ternyata keadaan putra pertamanya tidak sekuat putra keduanya.


Maka dari itu Aulia memutuskan untuk membawa putra pertamanya bersama dengan dirinya, karena menurut dokter putra pertama yang sangat membutuhkan ASI darinya.


Berbeda dengan putra keduanya yang terlihat sudah sangat kuat, tidak apa jika putra keduanya itu diberikan susu formula saja.


"Selamat tinggal putra, Mom yang tampan. Maaf jika Mom meninggalkan kamu, suatu saat jika kita bertemu, Mom harap kamu tidak membenci, Mom." Aulia berkata dengan air mata yang berurai di kedua pipinya.


Sebelum dia pergi, Aulia terlihat mengambil sejumlah uang dengan nominal yang banyak memakai kartu hitam yang Andika berikan. Setelah itu dia mematahkan kartu tersebut dan membuangnya di tong sampah.


Bukan hanya itu saja, Aulia juga membuang ponselnya di tempat sampah tersebut. Hal itu Aulia lakukan agar Andika tidak bisa melacak keberadaan dirinya lewat GPS.


Tidak lupa, sebelum Aulia pergi dia juga meminta orang dari kepercayaan Albert untuk merusak CCTV jalanan agar kepergiannya tidak terlihat.


Sungguh rencana yang luar biasa yang Aulia lakukan saat ini, karena setelah ini dia tidak ingin lagi bertemu dengan Andika.


Cukup selama satu tahun ini dia menjadi orang ketiga pada hubungan Andika dan juga Andini, itulah hal yang sudah dia putuskan.


"Jangan menangis, Kak. Aku tahu Kakak pasti sedih, tapi Kakak harus memikirkan diri kamu sendiri. Jika kamu terus bersedih, itu akan tidak bagus pada asi kamu, Kak." Albert mengingatkan.


"Ya," jawab Aulia seraya menyusut air matanya.

__ADS_1


Hanya itu kata yang keluar dari bibir Aulia, hatinya teramat sakit karena dia harus berpisah dengan Andika dan putra keduanya.


Selama perjalanan menuju tempat tujuan, Aulia hanya terdiam. Sesekali dia akan. makan camilan, jus buah dan juga air putih agar asinya tetap lancar.


Tentu saja Albert yang terus mengingatkan, jika tidak seperti itu, Aulia belum tentu ingat untuk mengisi perutnya.


Dia merasa sangat beruntung karena putra pertamanya begitu anteng, dia tertidur di dalam dekapannya dengan pulas.


Sesekali putra keduanya akan menggeliatkan tubuhnya karena kehausan, dengan senang hati Aulia akan mmenyusui putra keduanya tersebut.


Setelah melakukan perjalanan selama sembilan jam, akhirnya mereka tiba di sebuah desa yang begitu asri. Desa yang begitu jauh dari hiruk pikuk perkotaan.


"Ayo, Kak. Kita sudah sampai," ajak Albert.


Aulia menurut, dia terlihat turun dari mobil milik Albert. untuk sesaat ia terdiam, dia mengedarkan pandangannya.


Ternyata rumah yang disediakan oleh Albert merupakan rumah yang lumayan besar, letaknya tidak jauh dari pantai. Dia tersenyum ketika menghirup aroma pantai yang begitu khas.


Namun, senyuman itu ke seketika meredup ketika dia mengingat kebersamaannya dengan Andika saat di pantai.


'Maafkan aku Andika, Sayang. Jika aku tidak pergi, baik aku, kamu dan Andini pasti akan terluka.' Monolog Aulia dalam hati.


"Masuklah, Kak. Adisha dan juga Ibu sudah menunggu di dalam," kata Albert.


Saat Aulia masuk ke dalam rumah yang sudah Albert siapkan, Adisha dan juga Aisyah terlihat terdiam denga mata yang sudah berkaca-kaca.


Tanpa banyak bicara Aisyah terlihat mengambil alih putra Aulia dari gendongan ibunya, sedangkan Adisha langsung memeluk kakaknya tersebut dengan penuh kasih.


Dia sangat paham jika kakaknya itu pasti sedang bersedih, maka dari itu dia berusaha untuk menenangkan hati kakaknya.


"Jangan bersedih, ada kami," kata Adisha mencoba menguatkan Aulia.


"Hem," jawab Aulia.


Di lain tempat.


Andika yang baru saja pulang dari luar kota langsung pergi oe apartemen, padahal Andika berkata pada Andini nika dia akan pulang saat sore tiba.


Namun, karena dia begitu rindu pada Aulia, selepas dzuhur dia pulang dan pukul dua dia sudah sampai di apartemen.


Dengan langkah tergesa dia masuk ke dalam apartemennya, tapi setelah dia berlari ke dalam kamarnya, dia sangat kaget karena tidak menemukan Aulia di sana.


"Kamu ke mana, Sayang?" tanya Andika lirih. "Ibu, ya. Di kamar Ibu," yakin Andika.


Andika berlari ke dalam kamar Aisyah, tapi ternyata di sana juga tidak ada Aulia. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak, bahkan ada sebuah ketakutan yang menyeruak ke dalam dasar hatinya.

__ADS_1


Dengan cepat dia berlari menuju kamar Mila, karna ingin bertanya tentang istrinya tersebut. Tina di depan kamar Mila dia langsung menggedor pintu kamar ajudan wanitanya.


"Eh? Tuan, sudah pulang? Mana nyonya sama Ibu?" tanya Mila.


Mila masih menyangka jika Aulia pergi bersama dengan Andika, begitupun dengan Aisyah. Karena Aulia tidak pulang dari kemarin, semenjak kepergian dari Andika.


Mendengar pertanyaan dari Mila, Andika langsung mengernyitkan dahinya dengan bingung. Dia baru pulang dari luar kota, bagaimana bisa Mila bertanya kepada dirinya tentang keberadaan Aulia dan juga Aisyah, pikirnya.


"Maksud kamu bagaimana? Saya baru pulang loh, dari luar kota? Kamu jangan macam-macam sama saya, di mana istri dan mertua saya?" tanya Andika.


"Loh, bukan nyonya pergi sama Tuan, ya? Soalnya dari kemarin pagi nyonya tidak ada," jawa Mila dengan takut.


"Haish! Dasar bodoh, di mana istriku sekarang?" tanya Andika dengan panik.


Tanpa menunggu waktu lagi Andika kembali ke dalam kamar utama, lalu dia mengambil laptopnya dan segera memeriksa rekaman CCTV-nya.


Mata Andika langsung membulat dengan sempurna, ketika dia melihat Aulia yang kesusahan saat keluar dari apartemennya seraya memegangi perutnya yang begitu besar.


"Oh, Sayang. Apakah kamu--"


Andika tidak meneruskan ucapannya, dia sudah bisa memastikan jika Aulia pasti pergi ke Rumah Sakit.


Dengan cepat dia berlari dan keluar dari dalam apartemen, tiba di lobi apartemen dia langsung meminta sopirnya untuk mengantarkan dirinya ke Rumah Sakit yang ada di pusat kota.


Sayangnya, setelah dia mencari keberadaan Aulia di sana, ternyata Aulia tidak ada di Rumah Sakit tersebut. Andika terlihat begitu panik dan tidak tahu harus mencari Aulia ke mana.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Aku harus mencari Aulia ke mana?"


Andika terlihat menangis, dia memikirkan bagaimana keadaan Aulia. Dia memikirkan bagaimana keadaan kandungan dari Aulia, masih terbayang di benaknya ketika Aulia terlihat begitu kesakitan saat keluar dari apartemen.


"Mom Alika, ya. Dia pasti tahu di mana keberadaan Aulia," ucap Andika seraya mengusap air matanya.


Andika dengan cepat melakukan sambungan telepon kepada ibunya tersebut, tidak lama kemudian Alika langsung mengangkat panggilan telpon dari dirinya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Alika.


"Aulia, Mom. Dia hilang, apa Mom tau Aulia di mana?" tanya Andika penuh harap.


"Apa maksud kamu, Sayang? Aulia hilang bagaimana?" tanya Alika.


Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Andika merasa tubuhnya begitu lemas. Itu artinya Alika tidak tahu menahu tentang keberadaan aulia.


Lalu, di mana keberadaan Aulia saat ini, pikirnya. Kini dia benar-benar merasa takut jika Aulia benar-benar meninggalkan dirinya, takut jika Aulia membawa pergi keturunannya.


"Ya Tuhan, mereka di mana, Mom?" tanya Andika gundah.

__ADS_1


__ADS_2