
Awalnya Alika ingin memakan soto yang begitu pedas, agar pikirannya yang sedang ruwet bisa kembali tenang. Karena biasanya dengan seperti itu rasa kekesalan di dalam hatinya akan berkurang.
Namun, setelah mendengar apa yang Aulia katakan. Akhirnya Alika menurut, dia mau memakan soto dengan hanya menggunakan sedikit sambal saja.
Tentu saja Alika mengajukan syarat kepada Aulia, dia ingin ikut memeriksa kandungan Aulia. Awalnya Aulia merasa ragu untuk mengizinkan, karena takut mertuanya itu akan membicarakan hal ini kepada Andika.
Namun, Aulia juga mengajukan syarat. Alika, Ibu mertuanya itu tidak boleh memberitahukan kepada siapa pun jika dirinya sedang mengandung bayi kembar.
Tentu saja Alika menyetujuinya, karena baginya yang terpenting dia bisa ikut dengan Aulia. Karena dia begitu penasaran ingin melihat Aulia saat melakukan USG.
"Oh ya ampun, Pimoy, Sayang. Kamu akan melakukan pemeriksaan kandungan di mana?" tanya Alika.
Sebenarnya Aulia ingin memeriksakan kandungannya di Rumah Sakit, karena menurutnya pasti akan lebih baik dalam hal pelayanan dan kelengkapan fasilitasnya.
Namun, setelah dia timbang-timbang lagi. Sepertinya lebih baik melanjutkan pemeriksaannya di Klinik dokter Alma saja.
Lebih aman dan kemungkinan besar dia tidak akan bertemu dengan orang-orang penting yang ingin dia hindari.
"Di Klinik Harapan Bunda, Tante," ucap jawab Aulia.
Mendengar nama Klinik Harapan Bunda disebutkan, mata Alika terlihat berbinar. Bahkan dia langsung bertanya.
"Kamu periksa sama dokter Alma juga?" tanya Alika.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari mertuanya, Aulia langsung mengganggukan kepalanya dengan cepat.
"Ya, aku mempercayakan pemeriksaan kandunganku kepadanya," ucap Aulia seraya tersenyum hangat.
"Tante setuju jika kamu memeriksakan kandungan kepada dokter Alma, soalnya dia merupakan anak dari dokter Ainun. Dia adalah dokter kandungan yang dulu menangani kehamilan Tante," ucap Alika.
Ya, walaupun dia orang kaya, tapi dia tidak pernah memeriksakan kandungannya di Rumah Sakit besar. Apalagi kala itu suaminya selalu saja berselingkuh.
Ayah Andika memang selalu bersikap romantis ketika berada di dekat Alika, sayangnya dia tidak pernah berhenti untuk berselingkuh.
Dia lebih memilih untuk memeriksakan kandungannya di klinik tersebut bukan tanpa alasan, hal itu dia lakukan karena tidak mau bertemu dengan orang banyak.
Setiap dia memeriksakan kandungannya, dia selalu saja datang sendiri. Tentu saja dia tidak mau bertemu dengan orang banyak, takutnya ada yang menanyakan tentang keberadaan ayah Andika yang tidak pernah mengantarkan dirinya.
Setelah menikmati soto yang mereka berdua inginkan, akhirnya Aulia dan juga Alika terlihat pergi ke Klinik dokter Alma.
__ADS_1
Tentu saja Alika memilih untuk ikut pergi dengan menggunakan mobil Aulia, karena dia ingin pergi bersama dengan Aulia.
Baginya Aulia sudah seperti putri kandungnya sendiri, dia menyayangi Aulia sama seperti dirinya menyayangi Andika.
Bahkan, kalau boleh dia ingin mengajak Aulia untuk menginap di rumahnya. Karena dia ingin terus saja mengelus perut Aulia yang sudah terlihat membuncit itu.
"Selamat pagi, Bu Aulia!" sapa Dokter Alma sopan.
"Pagi, Dok," balas sapa Aulia.
"Sepertinya hari ini anda terlihat begitu ceria, pasti karena ditemani ibunya ya?" kata Dokter Alma berbasa-basi.
Bukan tanpa alasan dokter Alma menanyakan hal itu, karena pada bulan pertama Aulia datang tidak sadarkan diri dengan seorang pria tampan yang tidak dia kenal.
Pemeriksaan kedua dan ketiga Aulia datang sendirian saja, baru kali ini dia datang dengan seorang wanita paruh baya yang dikira ibu kandungnya oleh dokter Alma.
"Iya, Dok," jawab Aulia.
"Ya sudah, kalau begitu kita lakukan pemeriksaannya saja ya?" ajak Dokter Alma.
"Iya, Dok. Saya sudah tidak sabar untuk melihatnya, saya mau lihat kedua cucu saya." Kali ini yang menjawabnya adalah Alika, karena dia benar-benar tidak sabar ingin melihat Aulia saat melakukan USG.
"Haish! Kenapa kalian malah menertawakan aku? Aku serius mau melihat cucuku," kata Alika seraya mengelus lembut perut Aulia.
Alika terlihat merajuk mendengar Aulia dan juga dokter Alma yang menertawakan dirinya, tapi pada kenyataannya dia memang benar-benar ingin segera melihat calon buah hati dari Aulia.
"Iya, kita akan melakukan pemeriksaan sekarang," jawab Dokter Alma seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Aulia, akhirnya dokter Alma pun meminta Aulia untuk berbaring di bed pasien.
Dia terlihat mulai memeriksa Aulia dari mulai mengecek tensi darahnya, Alika terlihat mendampingi Aulia dengan setia. Dia duduk di bangku kecil dekat ranjang bed pasien.
Saat USG dilakukan, Alika terlihat begitu bahagia. Bahkan dia sampai menitikan air matanya, karena dia bisa melihat dengan jelas calon kedua buah hati Aulia yang sudah mulai terbentuk dengan sempurna.
Walaupun memang ukurannya masih sangat kecil, tapi dia benar-benar merasa bahagia apalagi saat melihat mereka mulai bergerak di dalam sana.
"Ya Tuhan, mereka lucu sekali!" kata Alika dengan riang.
mata Alika bahkan terlihat berkaca-kaca, entah kenapa dia begitu merasa bahagia. Bahkan, dia merasa jika dirinya mempunyai ikatan yang kuat dengan janin yang dikandung oleh Aulia.
__ADS_1
"Ya, mereka sangat aktif. Pembentukan tubuhnya sudah mulai sempurna, beratnya sudah dua tarus gram. Jenis kelaminnya malah sudah mulai terlihat, apakah anda ingin mengetahuinya?" tanya Dokter Alma.
Baik Aulia ataupun Alika terlihat menggelengkan kepalanya dengan kompak, dokter Alma sampai tertawa dibuatnya.
"Kalian sangat kompak," kekeh Dokter Alma.
Keduanya terlihat tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berkata.
"Biar jadi kejutan," jawab keduanya bersamaan.
"Kalian benar-benar kompak," kata Dokter Alma lagi.
Setelah melakukan pemeriksaan kandungan, akhirnya Aulia dan juga Alika pulang ke apartemen mewah yang sudah dibelikan oleh Andika.
Awalnya Aulia tidak ingin mengajak mertuanya itu, tapi Alika begitu memaksa. Karena ingin bertemu dengan Aisyah, itulah alasannya.
Pada saat tiba di apartemen mewah tersebut, Alika terlihat mengernyitkan dahinya karena dia tidak menemukan foto pernikahan Aulia.
Dalam hati Alika bertanya-tanya, mungkinkah Aulia menjadi istri simpanan. Namun, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya karena tidak mungkin jika Aulia seperti itu.
"Aisyah, maaf karena aku baru berkunjung." Alika memeluk ibu dari Aulia, wanita ya sudah jadi sahabatnya sejak lama itu.
"Tidak apa-apa, aku sudah baik," jawab Aisyah.
"Ehm, Aisyah. Aku mau mengajak putrimu untuk menginap di rumahku, boleh tidak?" pinta Alika.
Entah kenapa setelah melihat calon buah hati Aulia, Alika seakan tidak ingin berjauhan dengan sahabat dari putranya itu.
Aisyah terlihat kebingungan, dia tidak bisa memutuskan untuk mengizinkan putrinya untuk pergi bersama dengan Alika. Ada Andika yang lebih berhak.
"Kenapa diam saja?" tanya Alika.
Aisyah benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, karena dia takut salah berucap.
"Ehm, ada suaminya yang berhak menentukan." Aisyah berbicara dengan tidak enak hati.
"Memangnya siapa suami dari anak kamu itu? Kenapa pernikahan mereka terkesan dirahasiakan?" tanya Alika.
Aisyah hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Alika, dia bingung harus menjawab apa. Karena pada kenyataannya, memang seperti itu adanya.
__ADS_1