
POV Aulia.
Aku benar-benar tidak paham dengan diriku sendiri, kenapa aku bisa berkata iya untuk menikah dengan Andika.
Padahal, tiga tahun lamanya aku menjauhi dirinya. Selama tiga tahun itu aku berharap agar bisa melupakan lelaki itu, sahabat yang aku cintai.
Sejak kecil aku begitu bodohnya mencintai dirinya, sekarang dengan bodohnya saat aku kembali aku malah langsung menyetujui untuk menikah dengan dirinya.
Bahkan, belum sehari aku di sini tapi keputusan itu sudah tercetus dari bibirku. Parahnya lagi, Andika mengajak aku untuk menikah malam ini juga.
Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Haruskah aku berlari agar tidak terjadi pernikahan siri ini? Haruskan aku kabur di saat aku sudah menyatakan bersedia menikah dengan Andika?
Aku tahu jika cinta ini begitu besar untuk Andika, tapi bukan berarti aku harus menjadi orang ketiga di dalam hubungan pernikahan Andika dan juga Andini.
Akan tetapi, begitu sulit untuk menolak pesona dari Andika. Karena sampai saat ini lelaki yang bernama Andika itu masih menjadi raja di dalam hatiku.
Ya Tuhan, semoga keputusanku tidak salah. Aku akan menikah dengannya dan akan memberikan keturunan padanya, setelah itu aku akan pergi menjauh selamanya dari hidupnya.
Semoga saja keputusanku tidak salah, Tuhan. Hatiku terasa sangat lemah untuk menolak ajakannya, aku terlalu lemah saat melihat tatapan matanya.
''Ya Tuhan, Kakak gue yang satu ini emang bener-bener. Gue nyariin elu dari tadi, kenapa sih elu malah bengong di sini?" tanya Adisha.
Aku benar-benar kaget, karena tiba-tiba saja Adisha datang dan langsung memukul pundakku dengan lumayan kencang.
Aku yang tadi merasa frustasi setelah berbicara dengan Andika, akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku taman.
Hanya untuk sekedar menenangkan diri, karena Andika langsung pergi untuk menemani operasi pengangkatan rahim istrinya.
Untuk pernikahan kami, ada orang kepercayaan Andika yang akan mengurusnya. Bahkan untuk kebaya pengantin saja Andika sudah menyiapkannya lewat butik langganannya.
"Gue pusing," ucapku.
"Pusing kenapa sih? Kita jalanin aja, hidup ngga usah pusing-pusing. Ibu memang sakit, tapi kita harus menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Gue yakin Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk ibu," kata Adisha mencoba menenangkan aku.
__ADS_1
"Iya, gue paham. Tapi, masalahnya bukan itu. Gue--"
Haruskah saat ini aku jujur kepada Adisha bahwa aku akan menikah dengan Andika? Haruskah aku jujur jika aku akan menjadi istri kedua?
Haruskah aku berkata jujur, jika aku akan menjadi orang ketiga di dalam hubungan pernikahan antara Andini dan juga Andika?
Akan tetapi, bagaimana kalau dia marah? Bagaimana kalau dia akan menghujatku? walaupun dia adikku, aku sangat paham jika dia memiliki mulut yang sangat pedas.
"Elu kenapa sih? Kenapa kayak orang bingung gitu? Kenapa elu malah kayak orang linglung?Kalau mau cerita-cerita, ya cerita aja. Ngga usah terputus-putus kayak gitu, bikin gue penasaran," kata Adisha.
Aku langsung menghela napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan, jujur aku benar-benar bingung saat ini.
"Oh kakakku, Sayang. Please, elu cerita sama gue. Jangan bikin gue mati penasaran, buruan cerita!" kata Adisha memaksa.
Dia berkata dengan kencang, bahkan dia terlihat menarik-narik lengan kananku. Hal itu membuat aku risih, bahkan ucapannya yang keras membuat orang-orang yang berada di sekitar kami menoleh ke arah kami.
Aku sadar jika saat ini kami berada di Rumah Sakit, bukan tempat umum yang memperbolehkan orang-orang yang berada di sekitarnya untuk berbicara dengan keras.
Akhirnya aku pun menceritakan awal pertemuanku dengan Andika yang belum lama terjadi, aku juga menceritakan pertemuanku dengan tante Alika.
Aku juga menceritakan permintaan Andika untuk menikah dengannya, tentunya aku juga menceritakan alasannya diriku mau menikah dengan Andika.
Mata Adisha langsung membulat dengan sempurna ketika aku menceritakan semua itu, dia bahkan langsung mencengkram kedua pundakku dengan kuat dan menggoyang-goyangkannya dengan lumayan kencang.
Aku bahkan sampai merasa kesakitan, aku mencoba untuk menenangkan adikku itu dan segera berkata.
"Pundak gue sakit, Dodol," ucapku seraya mendorong lengan adikku dengan lumayan kencang.
Adisha terlihat marah, dia bahkan langsung memaki dengan suara tertahan. Namun, dengan cepat aku tutup mulutnya agar tidak ada orang yang mendengar apa yang dia katakan.
Dengan begitu kesal Adisha langsung menepis tanganku dari bibirnya, dadanya terlihat kembang-kempis. Kemudian, dia berkata.
"Elu, gila! Cinta boleh, bodoh jangan!" kata Adisha.
__ADS_1
Ya, aku tahu aku memang bodoh. Bodoh karena terlalu mencintai, tapi aku juga tidak tega jika menolaknya. Aku takut jika Andini akan dibuang oleh mom Alika, aku takut Andika akan menceraikan Andini dan membuat hidup Andini akan lebih susah.
Apalagi semua aset berharga milik Andini sudah digabungkan dengan aset berharga milik Andika, hal itu pasti akan mempersulit Andini jika mereka bercerai nanti.
"Iya gue gila, gue bejat. Gue bodoh karena mau menikah dengan suami orang, puas!" ucapku.
Adisha langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin dia tidak menyangka dengan apa yang aku ucapkan.
"Iya, elu gila. Elu bikin gue kesel sama elu, elu ngga mikirin gue sama ibu," kata Adisha.
"Mikir, gue. Gue mikirin kalian berdua, tapi harus bagaimana lagi. Elu kan, tahu alasan gue buat nikah sama Andika," ucapku meminta pengertian.
"Iya gue tahu, ya udah sekarang gini deh. Elu nikah dah tuh sama Andika, kalau suatu saat ada apa-apa, elu jangan ngomong apa pun sama gue. Tanggung semuanya sama elu, itu urusan elu. Gue ngga bakal ikut campur, silakan elu nikah sama Andika," kata Adisha.
Aku sempat menatap kedua bola mata adikku itu dengan lekat, sepertinya dia benar-benar kecewa dan marah terhadap diriku.
Aku langsung memeluk adikku itu dengan sangat erat, aku tahu ini berat. Namun, biarlah aku jalani. Aku sudah memutuskan jika aku akan menikah, aku akan memberikan keturunan dan setelah itu aku akan pergi.
Aku akan pergi sejauh mungkin dari Andika, gue ngga mau ketemu lagi sama dia. Gue janji akan menghindar darinya.
"Gue mohon elu dukung gue, jangan pernah ninggalin gue,'' ucapku seraya terisak karena air mata ini dengan brengseknya jatuh turun di kedua pipiku.
Aku benar-benar tidak paham, kenapa semua ini bisa terjadi. Adisha tidak menjawab apa yang aku katakan, dia hanya menganggukkan kepalanya lalu membalas pelukanku dengan erat.
"Kalau gitu elu mandi gih, siap-siap sana. Bentar lagi juga malam, biar Ibu gue yang jaga," kata Adisha pada akhirnya.
Ada rasa senang di dalam hatiku kala Adisha mengatakan hal itu, tapi ada juga rasa sedih dan rasa bersalah yang bercampur aduk menjadi satu.
"Iya," jawabku.
***
Siang Bestie, terima kasih sudah mampir untuk meninggalkan like dan juga komentarnya. Sayang kalian selalu, love sekebon pisang.
__ADS_1