
Kini Andika dan juga Andini terlihat sedang duduk berdua, setelah pulang dari Danau akhirnya mereka memutuskan untuk berbicara secara baik-baik.
Pada akhirnya Andini dan juga Andika memutuskan untuk bercerai, mereka akan berpisah secara baik-baik.
Tentu saja setelah mereka sepakat bercerai, Andika juga mengatakan kepada Andini jika saham milik ayahnya akan dikembalikan kepada Andini.
Karena Andika merasa tidak berhak untuk memegang saham milik ayah Andini yang sudah digabungkan dengan saham miliknya, dia akan langsung mengurus perpindahan saham untuk nama Andini.
Andika juga sudah menyiapkan sebuah perusahaan yang akan dikelola oleh Andini nantinya, karena walau bagaimanapun juga Andini sudah menemani Andika selama empat tahun.
Andika juga berkata akan segera pindah dari rumah Andini, karena dia tidak mungkin lagi tinggal di rumah itu.
Rumah yang selama empat tahun ini dia jadikan tempat bernaung bersama dengan istrinya, tempat di mana Andika bersatu dengan Andini dalam ikatan pernikahan.
"Aku minta maaf karena tidak bisa jadi suami yang baik untuk kamu, terima kasih karena atas jasa kamu perusahaan Wijaya kini berkembang pesat," kata Andika.
Andika dan Andini terlihat sedang duduk di sofa sambil berpelukan, mereka sudah sepakat akan tetap bersikap layaknya seperti suami istri sebelum Andika mengurus perceraian untuk mereka.
Mereka juga akan tetap tinggal di kamar yang sama, sebelum Andika selesai mengurus surat cerai untuk mereka.
"Sama-sama, terima kasih juga karena selama empat tahun ini kamu sudah berusaha untuk menjadi suami yang terbaik," ucap Andini tulus.
Setelah mengatakan hal itu Andini terlihat mendongakkan kepalanya, kemudian dia menautkan bibirnya pada bibir Andika, lelaki yang kini masih berstatus resmi sebagai suaminya.
Andini sudah bertekad di dalam hatinya akan bersikap sebaik mungkin sebelum perpisahan itu benar-benar datang, karena walau bagaimanapun juga Andika masih suaminya.
Selama empat tahun ini dia lalui bersama Andika dengan sangat baik, hubungan mereka begitu baik sejak awal pernikahan.
Dia juga tidak mau saat perpisahan akan menjadi hal yang buruk untuk dirinya, justru dia ingin perpisahannya dengan Andika menjadi hal yang begitu menyenangkan.
"Kamu tuh mancing-mancing aku aja, bilangnya minta cerai. Tapi malah godain aku, aku jadi pengen."
Andika mengatakan hal itu setelah Andini melepaskan tautan bibirnya, dia yang merasa tidak ikhlas langsung menarik kembali tengkuk leher Andini dan kembali menautkan bibir mereka.
Cukup lama bibir mereka saling beradu, bahkan tangan Andika pun sudah menyusup di balik dress yang Andini pakai.
Andini sampai menggeliatkan tubuhnya, karena usapan nakal dari tangan Andika dirasa mulai membangunkan hasratnya.
Andini merasa beruntung, walaupun dia sudah melakukan operasi pengangkatan rahim, tapi hasratnya dalam bercinta begitu menggebu.
__ADS_1
Padahal, banyak wanita di luar sana yang setelah melakukan operasi pengangkatan rahim hasrat untuk bercinta bahkan sudah tidak ada lagi.
Selain karena keluhan sakit pada area inti yang memang dirasa kering, mereka juga mengeluh tidak ada hasrat ketika melihat suaminya yang begitu menggebu untuk mengajak mereka bercinta di atas ranjang.
Berbeda dengan Andini yang selalu saja merasakan keinginan yang luar biasa saat hasratnya sedang datang, walaupun memang harus memakai bantuan pelumas untuk memperlama tempo kala dia sedang bercinta dengan Andika.
Andini bahkan kini sudah berada di atas pangkuan Andika, bibir mereka masih saling bertaut tapi tangan Andini dengan nakal mulai membuka kancing kemeja yang Andika pakai.
Andika yang tidak mau kalah terlihat berusaha untuk meloloskan dress yang Andini pakai dari tubuhnya, Andika merasa tidak sabar.
Sayangnya, aktivitas mereka harus terhenti karena ada ketukan pintu yang begitu mengganggu. Andini pun dengan terpaksa menghentikan aktivitasnya kemudian bertanya.
"Siapa?"
"Bibi, Non. Maaf mengganggu," jawab Bibi dengan tidak enak hati.
"Ada apa, Bi?" tanya Andini seraya menggeliatkan tubuhnya karena Andika sudah mulai menyesap ujung dadanya.
"Anu, Non. Di depan ada tamu yang ingin bertemu," jawab Bibi.
"Siapa Bi?" tanya Andini dengan suaranya yang berat karena Andika meremat bokong Andini dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya dengan nakal mengusap inti tubuhnya.
Bibi sebenarnya terlihat taku-takut saat mengatakan nama bu Anindira, karena dia sangat tahu jika bu Anindira adalah Ibu dari Aiden, lelaki yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya.
Ketika Andini berpacaran dengan Aiden, dia tidak pernah mengatakan hal itu kepada ayahnya.
Justru Andini selalu mengatakan kisah cintanya itu kepada bibi, karena dia yang sedari kecil tidak mempunyai ibu, hal itu membuat dirinya begitu dekat dengan bibi.
Apa pun yang terjadi kepada Andini, dia selalu menceritakannya kepada wanita itu. Wanita paruh baya yang hanya berprofesi sebagai asisten rumah tangga, tetapi sudah seperti Ibu bagi dirinya.
Mendengar nama ibu Anindira disebutkan oleh bibi, Andini sempat menolehkan wajahnya ke arah Andika.
Andika yang memang sudah tahu siapa bu Anindira tidak mengatakan apa pun, dia berpura-pura tidak mengenal wanita itu di hadapan istrinya.
Namun, dia berusaha untuk menggoda Andini. Bibirnya dengan nakal menggigit pundak Andini dengan gemas.
Bahkan, tangannya terlihat meremat kedua bongkahan kenyal milik istrinya itu, Andika ingin tahu apakah Andini akan memilih untuk tetap bersama dengan dirinya atau akan menemui Ibu dari lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu.
Andini yang merasa tidak enak hati karena kadatangan bu Anindira, dia terlihat berusaha untuk menahan gejolak hasrat yang kini semakin terasa ingin meledak. Dia memejamkan matanya, lalu mendorong wajah Andika dengan lembut.
__ADS_1
"Di depan ada tamu yang sedang menungguku, bolehkah aku bertemu dengan tamu itu?" tanya Andini dengan sopan.
Bukan tanpa alasan Andini ingin bertemu dengan bu Anindira, sudah satu minggu ini dia tidak menemui Anastasya.
Dia hanya takut jika kedatangan bu Anindira ke rumahnya karena Anastasya, balita cantik yang kini berusia satu tahun. Bukan karena Aiden.
"Baiklah, aku tidak berhak untuk tidak mengizinkan kamu." Andika terlihat membenahi baju Andini.
Andini tersenyum senang karena ternyata Andika begitu perhatian, setelah merapikan dress yang dia pakai, akhirnya dia pun terlihat menunduk lalu mengecup bibir Andika.
Setelah itu, dia pun keluar dari dalam kamarnya karena ingin menemui ibu Ani. Lebih tepatnya dia ingin memastikan apakah Ibu Ani datang dengan Anastasya atau tidak.
Melihat kepergian istrinya, Andhika terlihat membenahi pakaiannya. Tidak mungkin bukan dia berada di dalam keadaan seperti itu.
Setelah terlihat merapikan kembali bajunya, Andika sempat menolehkan wajahnya ke arah pintu. Dia berpikir apakah dia harus keluar dari kamar atau tidak.
setelah menimang-nimang beberapa saat, Andika yang merasa penasaran terlihat mengikuti langkah Andini yang keluar dari dalam rumah mereka.
Saat tiba di luar rumah, Andika bisa melihat ada seorang ibu-ibu yang sedang menggendong balita cantik.
Balita cantik itu terlihat begitu menggemaskan, wajahnya terlihat begitu berbinar ketika bertemu dengan Andini.
Balita cantik itu bahkan terlihat mencondongkan tubuhnya ke arah Andini seraya menggerak-gerakan kedua tangan dan juga kedua kakinya, dia terlihat begitu bahagia sekali.
"Mama!" pekik anak itu.
Mendengar panggilan dari Anastasya, baik Andini, ataupun Ibu Ani terlihat begitu kaget. Mereka tidak menyangka jika Anastasya akan memanggil Andini dengan sebutan mama.
Apalagi dengan Andini, dia merasa benar-benar kaget karena balita cantik itu memanggil dirinya dengan sebutan mama.
Seingatnya selama dia menemui Anastasya, balita cantik itu belum bisa menyebutkan kata mama. Anastasya hanya bisa beceloteh tanpa dia tahu balita cantik itu berkata apa.
"Maafkan cucu ibu, karena sudah memanggil kamu Mama," kata Bu Ani dengan tidak enak hati.
Andini terlihat tersenyum canggung, dia bahkan sempat menolehkan wajahnya ke arah Andika. Dia seperti takut jika Andika akan berprasangka buruk terhadap dirinya.
Namun, Andika tidak berkata apa pun. Dia hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, Andini terlihat bernapas lega.
"Ehm! Mari masuk, Bu. Lebih enak kalau ngobrol di dalem," ajak Andini.
__ADS_1
Rasanya sangat tidak enak jika mereka harus mengobrol seraya berdiri di teras halaman rumah, akhirnya mereka pun terlihat masuk ke dalam rumah Andini dan duduk di ruang tamu.