Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Kesedihan


__ADS_3

Langit seakan runtuh, bumi seakan hancur lebur bersama dengan isinya ketika Aulia harus menghadapi kenyataan jika ibunya kini telah tiada, wanita tangguh yang sangat dia kagumi dan banggakan.


Berjauhan dengan putra keduanya saja membuat dirinya benar-benar merasa hancur, kini ditambah lagi Ibu tercintanya Aisyah meninggalkan dirinya.


Aisyah terlihat berpulang dengan sangat tenang, sesaat setelah dia dimandikan dan hendak dibalut kain kafan, matanya terlihat tertutup sempurna.


Bibirnya juga terlihat terkatup rapat, dia seolah sudah tenang meninggalkan dunia yang fana ini. Walaupun Aulia sedang menjalani ujian berat, dia seolah percaya jika putrinya mampu menghadapi semuanya.


Berbeda dengan Aulia dan juga Adisha yang ditinggalkan, mereka terlihat menangis sesenggukan karena merasa jika Aisyah terlalu cepat meninggalkan dunia yang fana ini.


Kini Adisha, Aulia, Albert dan juga Asep terlihat duduk di depan pusara terakhir Ibu Aisyah. mereka terlihat begitu bersedih.


Adisha terlihat memeluk erat sang pujaan hati yang sebentar lagi akan menikahi dirinya, Albert dengan setia menemani kekasih hatinya itu.


Jika saja dia tahu, jika Ibu Aisyah akan berpulang dengan cepat, maka Adisha akan menuruti permintaan ibunya untuk menikah terlebih dahulu sebelum dia pergi ke luar kota.


Sayangnya, saat itu memang Adisha belum siap untuk menikah dengan Albert. Albert sangat baik, perhatian dan penuh cinta kepada dirinya.


Namun, pada saat Ibu Aisyah meminta dirinya untuk menikah dengan Albert, masih ada wanita di masa lalu yang selalu mengejar kekasihnya.


Maka dari itu Adisha meminta kepada Albert untuk menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu, agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan ke depannya. Albert menurut.


"Ya, aku akan membuat dia pergi dari kehidupanku. Karena sekarang aku sudah mempunyai rencana masa depan yang sangat cerah dengan kamu," kata Albert kala itu.


Kini, perempuan itu sudah pergi. Sehingga hubungan mereka pun sudah sangat aman jika harus dilanjutkan ke jenjang pernikahan.


"Sabar ya, Sayang. Ini ujian yang sangat besar untuk kamu, tapi yakinlah jika aku akan selalu berada di samping kamu."


Albert terlihat berusaha untuk menenangkan dan menyemangati pujaan hatinya, bahkan Albert terus aja memeluk Adisha seraya mengelus lembut lengan kekasihnya itu.


Sesekali dia bahkan akan menunduk dan mengecup puncak kepala sang kekasih hatinya, dia berusaha menyalurkan rasa tenang pada Adisha.


Begitupun dengan Aulia, dia terlihat tertunduk seraya menggenggam tanah merah di hadapannya. Dia menangis tanpa suara, tapi tubuhnya terlihat bergetar hebat.


Asep yang berada di sampingnya terlihat menepuk-nepuk punggung wanita yang belum lama melahirkan itu, dia begitu iba.


"Sabarlah, Kak. Kakak tahu jika Tuhan begitu menyayanginya, makanya Tuhan memanggil Ibu Aisyah dengan cepat," hibur Asep.


Aulia tidak menyahuti apa yang dikatakan oleh Asep, dia sedang begitu terpuruk. Dia terluka karena ibunya sudah tiada, dia terluka karena putranya dan cintanya kini sangat jauh dari dirinya.

__ADS_1


'Kenapa semuanya terlalu menyakitkan, Tuhan?'


Di lain tempat


"Oh ya Tuhan, Sayang. Daddy harus apa sekarang?" tanya Andika seraya menimang-nimang putra tampannya.


Sejak kemarin sore Axel terus saja menangis, hal itu membuat Andika panik. Bahkan, kini tubuhnya terasa panas.


"Kita ke Rumah Sakit saja," usul Alika.


Alika yang melihat cucunya sakit tentu saja merasa sangat sedih, dia merasa sangat sedih karena cucunya terus saja menangis tanpa ada belaian dari ibunya.


Di saat seperti ini dia menjadi serba salah, dia ingin menemukan Aulia agar bisa mengurusi baby yang sudah Aulia lahirkan.


Namun, di satu sisi Alika percaya jika Aulia kini sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.


"Iya, Mas. Kita harus membawa Axel ke Rumah Sakit," timpal Andini.


Andini memang tidak menyukai Axel yang terlahir dari rahim wanita lain, tapi tetap saja dia merasa kasihan ketika melihat kondisi dari Axel yang begitu menyedihkan.


Tanpa pikir panjang Andika pun langsung mengiyakan, karena pada kenyataannya memang putranya itu membutuhkan pertolongan dengan cepat.


Pada akhirnya Andika langsung membawa putranya ke Rumah Sakit, disusul oleh Andini dan juga Alika.


Mereka tidak mungkin membiarkan Andika pergi ke Rumah Sakit sendirian untuk memeriksa kondisi kesehatan Axel, mereka khawatir.


Saat mereka berada di dalam mobil menuju Rumah Sakit, Axel tidak lagi menangis. Wajahnya terlihat sangat pucat, dia terdiam tanpa bergerak. Hal itu membuat Andika benar-benar merasa sangat khawatir.


"Bertahanlah, Sayang. Kamu harus sehat lagi, Daddy mencintai kamu." Andika menunduk dan mengecup kening putranya.


Alika sampai menitikan air matanya melihat keadaan cucunya, dia juga merasa tidak tega dengan keadaan dari Andika. Andika tampak mengenaskan setelah ditinggal oleh Aulia.


"Bersabarlah, Nak. Mom yakin dia akan baik-baik saja, dia putra yang kuat." Alika terlihat menyemangati putranya.


Andini merasa iba melihat akan hal itu, tapi tetap saja hal itu tidak membuat dia urung untuk bercerai dari Andika.


"Kalian dua pria yang kuat, jangan nangis. Jangan cengen, Mas." Andini merangkul pundak suaminya dan menyandarkan kepalanya di pundak Andika.


Wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu berusaha untuk menyalurkan kekuatan kepada Andika, dia masih peduli.

__ADS_1


"Hem, aku pasti kuat." Andika menjawab dengan lesu.


Tiba di Rumah Sakit, Andika langsung membawa putranya ke ruangan pemeriksaan khusus untuk bayi. Bayi berusia empat hari itu terlihat begitu lemah, Andika benar-benar merasa sangat was-was.


"Kita tunggu di luar, Sayang. Biarkan dokter memeriksakan kondisi tubuhnya," usul Alika.


Alika terlihat membujuk putranya agar mau keluar dari ruangan pemeriksaan tersebut, dokter butuh berkonsentrasi untuk memeriksakan kondisi dari cucunya.


"Tapi, Mom. Aku sangat khawatir,'' tolak Andika.


Dokter tersenyum hangat ke arah Andika, dia sangat paham dengan kekhawatiran yang dialami oleh Andika.


"Percayakan semuanya pada kami," pinta Dokter.


"Kamu dengarkan, Sayang. Biarkan dokter memeriksa putramu dengan tenang, kamu tidak boleh mengganggu," pinta Alika.


Sebenarnya Andika tidak ingin meninggalkan putranya, dia begitu menghawatirkan putranya dan ingin menemaninya.


Namun, dia harus memberikan waktu kepada dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan dari putranya itu. Andika menyerah.


"Yes, Mom." Andika mengangguk setuju.


Namun, sebelum dia keluar dari dalam ruangan tersebut, Andika mengambil ponselnya.


Dia mengambil video di mana putranya hendak diperiksa oleh dokter, dia bahkan sengaja mepostingnya di sosial media.


Dengan seperti itu, dia berharap semoga Aulia bisa melihatnya dan mau kembali hanya sekedar untuk merawat putra mereka.


Andika akan mengikhlaskan Aulia, jika memang istri keduanya itu tidak mau kembali lagi padanya.


Dia sudah memikirkan semuanya, dia ingin fokus untuk merawat putranya. Dia ingin fokus memperbaiki dirinya.


๐Ÿ’žSehat-sehat terus, Sayang. Walaupun tidak ada mom di samping kita, kita adalah lelaki kuat dan juga hebat. Semoga mommy kamu juga bahagia walaupun tanpa kita, Daddy sayang kamu.๐Ÿ’ž


Itulah tulisan yang Andika unggah di samping foto bayi tampan yang kini sedang terbaring lemah dengan wajah yang terlihat pucat, Axel terlihat memperihatinkan.


Setelah Aulia meninggalkan Andika, dia tidak bisa dihubungi. Nomor ponselnya mati, Andika sempat mencari akun sosial medianya, tapi tidak ada.


"Semoga kamu bisa melihat keadaan putra kita," kata Andika penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2