Buah Hati Untuk Sahabatku

Buah Hati Untuk Sahabatku
Kaget Dan Syok


__ADS_3

Aulia benar-benar tidak menyangka jika kini Andika berada di rumah yang sama bersama dengan dirinya, rumah orang tua dari Andika sendiri.


Padahal, Andika berkata jika dia akan keluar kota untuk bekerja dan tidak akan pulang beberapa hari. Lalu, kenapa saat ini Andika malah datang untuk menemui dirinya


Eh? Tunggu dulu, bener nggak sih menemui dirinya? Atau, hanya Aulia saja yang kegeeran. Aulia tersenyum kecut kala menyadari dirinya hanyalah istri kedua.


Istri tersembunyi, lebih tepatnya istri simpanan. Mana mungkin Andika datang hanya untuk menemui dirinya, pikirnya.


Dia berusaha untuk bersikap setenang mungkin tanpa memedulikan kehadiran Andika yang kini sedang berpelukan dengan ibunya, dia tidak boleh bersikap mencurigakan di hadapan mertuanya.


Setelah berpelukan dengan ibunya, Andika terlihat menghampiri Aulia lalu tanpa ragu dia memeluk wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


Aulia menjadi serba salah dibuatnya, dia terlihat diam saja tanpa berani membalas pelukan dari Andika. Walaupun tangannya ingin sekali membalas pelukan dari suaminya itu, tangannya terasa gatal.


"Pimoy, Sayang. Kenapa tidak memberitahu jika kamu akan datang ke rumah, Mom?" tanya Andika seraya mengelus lembut punggung Aulia.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Andika, Aulia langsung menolehkan wajahnya ke arah Alika.


Dia ingin melihat reaksi dari mertuanya itu dengan apa yang sudah dilakukan oleh Andika terhadap dirinya, Alika terlihat menatap dirinya dengan raut wajah keheranan.


Aulia tersenyum kikuk, lalu berusaha melepaskan diri dari pelukan Andika. Kemudian, dia berkata.


"Ngapain juga gue bilang-bilang sama elu, elu itu aneh. Lepasin gue, entar bini elu marah sama gue," ucap Aulia mengingatkan.


Aulia bahkan terlihat mencubit perut Andika dengan gemas, karena Andika sudah melakukan kesalahan dengan asal memeluk dirinya saja.


Andika seakan menyadari apa kesalahan yang sudah dia lakukan, dengan cepat dia melerai pelukannya. Lalu, Andika tersenyum dan mencubit gemas kedua pipi Aulia.


"Sorry, gue itu suka gemes banget kalau ketemu sama elu. Elu makin cantik deh, pipi elu makin cabi kayak bakpao," kata Andika.


Sebenarnya Alika benar-benar merasa curiga dengan tingkah dari anak dan juga sahabatnya itu, dia ingin bertanya tapi mengurungkan niatnya.


"Sudah, sudah. Jangan berdebat lagi, sekarang kita makan. Mom sudah lapar," kata Alika yang sedari tadi tidak berhentinya memperhatikan interaksi antara Andika dan juga Aulia.


"Yes, Mom. Maaf, aku juga sudah lapar. Seharian ini aku sudah bekerja dan aku membutuhkan asupan makanan yang banyak," kata Andika.


Setelah mengatakan hal itu Andika terlihat duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut, begitupun dengan Aulia dan juga Alika yang terlihat duduk berdampingan.


Saat Andika mengedok nasi, Alika yang merasa penasaran karena tiba-tiba saja putranya datang akhirnya dia pun bertanya.


"Oh ya, Sayang. Sudah beberapa minggu ini kamu tidak sempat datang ke rumah, Mom. Selalu saja Mom yang datang ke rumah kamu, lalu... kenapa tiba-tiba saja saat ini kamu datang?" tanya Alika heran.


"Tadi aku datang ke apartemen nyari istriku, eh... kata ibu istriku nggak ada. Dia lagi ikut Mom, ya sudah aku langsung ke sini," kata Andika tanpa sadar.

__ADS_1


Baik Aulia ataupun Alika mereka terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, Aulia bahkan tidak menyangka jika Andika akan mengatakan hal seperti itu.


Begitupun dengan Alika, dia begitu kaget mendengar putranya itu menyebut Aulia dengan sebutan istriku.


Otak Alika langsung bekerja dengan sangat keras, sebenarnya apa maksud dari ucapan putranya itu. Apakah benar antara Aulia dan juga Andka bukan hanya sebatas teman saja, pikirnya.


Berbeda dengan Aulia yang tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menunduk tanpa berani menolehkan wajahnya ke arah Andika ataupun Alika.


Dia sudah benar-benar pasrah dengan apa yang akan terjadi saat ini, jika memang rahasianya harus terungkap saat ini juga dia sudah siap.


"Andika, Sayang. Maksudnya apa? Maksudnya apa dengan kata istri? Maksudnya kamu datang ke apartemen siapa?" tanya Alika dengan raut wajah penasaran.


Dia benar-benar ingin memastikan apakah yang dia dengar salah atau tidak, dia benar-benar ingin memastikan apakah yang dia duga salah atau benar.


Andika yang baru saja memasukkan nasi ke dalam mulutnya terlihat begitu kaget dengan pertanyaan ibunya, bahkan dia langsung tersedak dan memukul-mukul dadanya dengan kencang.


Dia merasakan dadanya sesak yang luar biasa, bahkan tenggorokannya terasa perih sampai ke hidungnya.


Melihat akan hal itu, Aulia langsung menyodorkan segelas air putih kepada suaminya itu.


"Terima kasih," ucap Andika setelah dia menenggak segelas air putih yang Aulia berikan kepadanya.


Andika terlihat menenangkan dirinya dengan cara mengambil napas dengan serakah, tidak lama kemudian dia berusaha untuk menatap wajah ibunya yang mengharapkan jawaban darinya.


Hanya itu yang keluar dari mulutnya, walaupun Alika merasa tidak percaya tapi dia terdiam tanpa menimpali ucapan dari putranya.


Alika seakan tidak ingin memperpanjang obrolan yang sudah terlanjur keluar dari mulut Andika, dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Walaupun hatinya masih bertanya-tanya.


"Ya sudah, kita makan malam saja. Jangan membahas yang tidak-tidak," ucap Alika pada akhirnya.


Makan malam yang di ancang-ancang akan menjadi sebuah kesenangan antara Alika dan juga Aulia, kini menjadi suasana canggung karena ucapan yang terlontar dari bibir Andika.


Tidak ada yang berbicara saat menikmati makan malam mereka, semuanya terlihat terdiam dengan pikiran masing-masing.


Setelah selesai makan malam, Alika terlihat ingin mengantarkan Aulia ke kamar tamu karena menurutnya wanita hamil harus sering beristirahat.


Apalagi calon buah hati Aulia ada dua, sudah pasti hal itu akan membuat Aulia akan semakin lelah, tidak seperti ibu hamil yang mengandung satu janin saja.


"Eh? Mom, mau mengajak Aulia ke mana?" tanya Andika.


"Mom, mau mengajak Aulia untuk tidur di kamar tamu. Dia mau menginap di sini," ucap Alika.


"Kenapa tidak di kamarku saja? Kamarnya juga bersebelahan dengan kamar Mom, jadi kalau ada apa-apa Mom bisa langsung ke dalam kamar Aulia," usul Andika.

__ADS_1


Untuk sesaat Alika terdiam, dia begitu penasaran karena melihat tingkah putranya yang seakan begitu perhatian kepada Aulia.


Dari dulu juga Andika memang perhatian kepada sahabatnya itu, tapi kini dia bisa melihat raut kekhawatiran yang begitu teramat.


Alika benar-benar curiga dibuatnya, dia bahkan sampai bertanya-tanya di dalam hatinya. Mungkinkah suami dari Aulia adalah putranya sendiri, pikirnya.


Untuk membuktikan hal itu, akhirnya Alika pun tersenyum dengan sangat manis. Lalu dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Baiklah, kalau begitu antarkan Aulia ke dalam kamarmu. Mom ingin mengganti baju dulu, nanti setelah itu Mom akan menyusul. Mom ingin mengobrol dulu dengan Aulia sebelum tidur," ucap Alika beralasan.


Wajah Andika terlihat berbinar, dengan cepat dia langsung menganggukkan kepalanya dan mengajak Aulia untuk masuk ke dalam kamarnya.


Tanpa Andika tahu, Alika mengikuti langkah keduanya. Tentu saja dengan menjaga jarak agar tidak ketahuan.


Padahal, baru tadi pagi Andika berpisah dengan Aulia. Namun, Andika terlihat begitu merindukan istri keduanya itu.


Bahkan, tanpa sadar saat baru saja masuk ke dalam kamar Andika langsung memeluk Aulia dengan sangat erat. Dia sampai melupakan pintu yang masih terbuka dengan lebar.


Melihat akan hal itu Alika menjadi semakin bingung dibuatnya, jantungnya berdebar dengan kencang. Dia kini sedang menantikan jawaban dari apa yang dia inginkan.


"Pimoy, Sayang. Aku rindu banget sama kamu, padahal baru tadi pagi pisah. Tapi, rasanya udah kangen banget. Bagaimana dengan keadaan calon buah hati kita?" tanya Andika seraya melerai pelukannya.


"Dia baik, dia sangat baik," ucap Aulia seraya tersenyum hangat.


Andika terlihat meluruhkan tubuhnya ke lantai, dia berdiri di atas kedua lututnya lalu mengusap lembut perut Aulia dan mengecupinya.


"ha,i Sayang. Daddy rindu," kata Andika.


Mendengar akan hal itu jantung Alika seakan berhenti berdetak saat itu juga, dia tidak menyangka jika suami dari Aulia adalah putranya sendiri.


Ingin sekali Alika berteriak dan bertanya kenapa putranya itu bisa melakukan hal tersebut, ingin sekali dia bertanya kepada Andika, kenapa Andika melakukan poligami.


Padahal saat dirinya menawarkan Andika untuk menikah dengan Aulia, Andika menolaknya dengan tegas.


Lalu, kenapa bisa-bisanya Andika menikah dengan Aulia di belakangnya tanpa sepengetahuannya.


Padahal, Alika pasti akan menyetujui jika memang Andika ingin menikahi Aulia. Hanya saja, dia ingin agar Andika menceraikan Andini terlebih dahulu.


Karena dia begitu membenci yang namanya poligami menurutnya lebih baik sakit hati karena bercerai, dari pada sakit hati ketika mengetahui jika istri dipoligami.


Sakitnya pasti akan sangat lama, itulah yang dia takutkan dengan apa yang akan dirasakan oleh Andini. Karena dia juga seorang perempuan.


'Kenapa kamu melakukan semua ini, Andika, Sayang? Kenapa kamu tega tidak memberitahukannya kepada, Mom?' tanya Alika di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2