
Asep memang sudah berniat ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi dengan bekerja, dia berharap dengan seperti itu Asep bisa membanggakan kedua orang tuanya.
Namun, dia merasa jika saat bekerja tiba dia selalu saja merasa jenuh. Karena perusahaan adalah tempat yang tidak menyenangkan bagi Asep, tidak ada hiburan. Hanya ada keseriusan saja.
Maka dari itu, ketika Hans ingin ikut bersama dengan dirinya ada rasa bahagia di dalam hatinya. Karena dengan seperti itu dia merasa tidak akan jenuh saat bekerja.
''Hey, Boy! Duduklah dengan anteng," ucap Asep seraya mendudukan Hans di bangku samping kemudi.
"Oke, Ayah!" jawab Hans girang.
Setelah melihat Hans duduk dengan nyaman, Asep terlihat memasangkan sabuk pengaman untuk putra dari Khadijah tersebut.
Setelah itu, dia juga memasang sabuk pengaman untuk dirinya. Asep segera melajukan mobilnya menuju perusahaan Carll karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Boy!" panggil Asep.
"Ya, Ayah," jawab Hans.
Asep terlihat memanggil Hans, tapi matanya tetap tertuju ke arah jalanan. Dia begitu fokus dalam mengemudi.
"Nama lengkap kamu siapa?" tanya Asep.
Bocah tampan yang ditanya oleh Asep itu terlihat menolehkan wajahnya ke arah Asep, lalu dia memandang Asep dengan begitu intens.
"Hanzel Faihan Awal," jawab Hans bangga.
Mendengar Hans menyebutkan nama lengkapnya, Asep terlihat begitu kagum karena nama Hans terdengar sangat bagus.
"Woow! Nama yang bagus, tapi kenapa namanya begitu islami? Apakah sebelum ibu kamu melahirkan dia bertanya terlebih dahulu kepada pak ustadz nama apa yang bagus untukmu?" tanya Asep penasaran.
Hans langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Asep, karena menurutnya pertanyaan itu begitu lucu. Asep yang merasa ditertawakan oleh Hans terlihat bertanya kembali kepada bocah tampan itu.
"Apakah kamu sedang menertawakanku?" tanya Asep.
"Ya, Ayah. Ayah sangat lucu, tentu saja namaku begitu islami. Karena kata Buna, Abi adalah seorang ustadz," jawab Hans.
Asep terlihat membulatkan bibirnya seraya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Hans, pantas saja pikirnya namanya begitu lekat dengan agamanya.
"Kalau boleh tahu, siapa nama ayahmu?" tanya Asep.
Asep terlihat begitu penasaran dengan siapa sosok ayah dari Hans, dia juga begitu penasaran dengan sosok Khadijah. Karena sepertinya Khadijah ataupun almarhum ayah dari Hans benar-benar mengenal agama.
"Namanya ustad Arfan," jawab Hans bangga.
__ADS_1
Walaupun Hans tidak jadi melihat ayahnya secara langsung, tapi Khadijah selalu saja menceritakan sosok ayahnya kepada Hans.
Hal itu sengaja Khadijah lakukan agar Hans bisa mengenal sosok ayahnya, walaupun pada kenyataannya ustadz Arfan memang sudah berada di surga.
Khadijah boleh begitu mencintai ustadz Arfan, tapi ternyata Sang Khalik lebih mencintai suaminya tersebut.
Dahi Asep terlihat mengernyit dalam ketika mendengar nama pria yang disebutkan oleh Hans, sepertinya dia sering mendengar nama pria yang disebutkan oleh Hans.
Bahkan, wajahnya sering wara-wiri di televisi. Karena benar-benar merasa penasaran, akhirnya Asep kembali bertanya.
"Apakah ayah kamu dulunya seorang hafidz Al Qur'an?" tanya Asep.
Hans terlihat begitu senang ketika Asep menanyakan hal tersebut, karena itu artinya yang dikatakan oleh ibunya adalah benar adanya.
Ayahnya adalah sosok yang bisa dibanggakan dan dikenal banyak orang, bahkan saat ayahnya mengaji semua orang akan merasa terenyuh dan juga merasa kagum dengan suara indahnya.
"Yes, kata Buna seperti itu. Aku juga sering melihat rekaman video saat Abi mengaji, Ayah mau lihat juga?" tanya Hans.
"Ehm, mungkin lain kali." Hans tersenyum kecut.
"Oh, Hans paham. Pasti Ayah sibuk, nanti kalau Ayah sudah tidak sibuk aku akan mengajak Ayah untuk menonton video Abi lagi ngaji," ucap Hans.
"Okeh," jawab Asep.
"Oh iya, Ayah. Buna juga sama seperti Abi, dia seorang hafiz Al Qur'an juga." Hans mengatakannya dengan binar penuh kagum di matanya.
"Hem," jawab Hans.
'Sepertinya aku harus mencari tahu tentang seluk beluk keluarga Pramudia,' ucap Asep dalam hati.
Setelah mengatakan hal itu Asep terlihat fokus kembali dalam mengemudi, berbeda dengan Hans yang terlihat menatap wajah Asep dengan lekat kemudian bocah tampan itu berkata.
"Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Hans.
Asep yang sedang fokus mengemudi terlihat menolehkan wajahnya ke arah Hans sebentar, kemudian dia kembali fokus untuk mengemudi.
"Mau bertanya apa? Tanyakan saja, kalau memang bisa dijawab nanti akan Om jawab," jawab Asep.
"Kenapa nama Om, Asep? Padahal wajah Om terlihat tampan dan juga seperti bule yang pernah aku lihat di televisi," ucap Hans dengan mimik wajah yang terlihat begitu menggemaskan.
Asep langsung tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Hans, karena bukan hanya Hans saja yang mempertanyakan tentang nama dirinya.
Melihat Asep yang tertawa Hans langsung mengernyitkan dahinya dengan dalam, hal itu kembali membuat Asep tertawa. Karena raut wajah Hans terlihat begitu lucu di matanya.
__ADS_1
"Aku bertanya dengan serius, kenapa Ayah malah tertawa seperti itu? Apakah ada yang lucu? Apakah pertanyaanku terdengar seperti sebuah lelucon?" tanya Hans.
Walaupun bibir Asep tertawa, tapi dalam hati dia merasa sedih karena di usia Hans yang baru saja menginjak 5 tahun, anak itu terlihat lebih dewasa dari usianya.
"Kamu mau tahu nama Ayah siapa?" tanya Asep.
"Mau tahu dong, masa wajahnya tampan seperti itu namanya kok aneh," ucap Hans dengan jujur.
Asep hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Hans, karena pada kenyataannya wajah dan nama panggilannya memang bertolak belakang.
Nama dirinya yang kebarat-baratan disingkat menjadi nama yang begitu sundanis, hal itu ibunya lakukan karena begitu sulit mengucapkan nama yang Thomas berikan untuk Asep.
Asep terlihat memberhentikan mobilnya, karena mereka memang sudah tiba di perusahaan Carll. Asep terlihat turun terlebih dahulu.
Kemudian, dia membukakan pintu untuk Hans dan menggendong bocah tampan itu. Lalu, Asep membawanya untuk masuk ke dalam perusahaan milik daddynya tersebut.
Saat Asep datang dengan membawa seorang bocah tampan di dalam gendongannya, semua karyawan terlihat menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.
Asep tidak memedulikan tatapan mata yang memandang dirinya dengan aneh, dia terus saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangannya.
Ruang kerja yang dulu dipakai oleh Albert kini menjadi ruangan Asep, sedangkan Albert kini pindah ke dalam ruangan Thomas.
"Duduklah dengan anteng," kata Asep seraya mendudukan bocah tampan itu di atas sofa.
Kemudian Asep terlihat ikut duduk di samping bocah tampan itu lalu dia berkata.
"Nama lengkap Om adalah Ansley Septian Carll. Karena mommy, Om, adalah orang Sunda, makanya nama Om disingkat jadi Asep. Katanya nyebut nama Om yang kebarat-baratan itu sangat susah," jawab Asep.
"Oh, seperti itu." Hans terlihat mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti
"Terus, kamu itu, kan, sudah berusia 5 tahun. Kenapa kamu belum sekolah?" tanya Asep.
"Aku sekolah kok, tapi homeschooling. Aku akan mulai belajar nanti selepas Dzuhur," jawab Hans.
Dalam hati Asep merasa kasihan, karena menurutnya Hans seharusnya masuk sekolah TK biasa saja.
Namun, jika mengingat bahwa ibunya adalah seorang janda yang bekerja, Asep paham. Mungkin Khadijah ingin menyekolahkan putranya, tapi tetap bisa memantau keadaan putranya itu.
"Oh, seperti itu. Kalau begitu Hans anak yang baik, Om mau bekerja. Sebentar lagi Om mau meeting, kamu duduk sebentar di sofa, oke?" pinta Asep.
"Oke," jawab Hans.
Hans terlihat duduk anteng di atas sofa, sedangkan Asep terlihat merapikan materi yang akan dia bawa untuk meeting.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Asep terlihat menghampiri Hans dan dia pun berkata.
"Ayah, bolehkah aku ikut meeting dengan Ayah?"