
Rico keluar dan membuat makanan buat dirinya, dia membuat secangkir kopi hitam pahit dan omelet.
Keluar dari kamar Sisca tadi dia langsung mandi untuk meredam gairahnya, tubuh Sisca begitu menggoda namun dia tidak bisa memanfaatkan keadaan Sisca yang nampak shock.
Dia menikmati hidangan dan membersihkan dapurnya, lalu dia menuju kamar Sisca melihat apa sudah tidur.
Namun ketika Rico membuka pintu kamar, dia menemukan Sisca duduk dilantai menggenggam selimut dengan erat.
Dia segera berlari masuk", Sisca apa kau tidak apa-apa? ," tanyanya khawatir.
Melihat Sisca duduk dilantai karena sedih dan menangis membuat dia mengira kakinya sakit, sehingga langsung memeriksa kaki yang keseleo yang kelihatan membengkak.
"Tidak apa-apa, " kata Sisca perlahan.
Dia memandang Rico yang sangat khawatir kepadanya, rasanya sangat menyenangkan diperhatikan.
Tetapi dia takut perhatian itu sementara dan pada akhirnya dia ditinggalkan, seperti orangtuanya yang meninggalkan dia di panti asuhan.
Sisca menggigit bibirnya dan menyadari kalau ia ternyata mencintai Rico, dia tidak bisa membuat perasaan ini mendalam karena dia tahu Rico hanya melihatnya seperti bos tidak lebih.
"Pergilah istirahat hari sudah malam ," kata Sisca sambil meneguk anggur merah yang ada di samping meja sampai habis.
__ADS_1
Anggur itu membuat rasa hangat mengalir di tenggorokannya, dan dia mulai merasa mabuk.
"Kau selalu menjaga jarak dengan orang lain, bukan begitu Sisca?," tanyanya
Rico perlahan.
Melihat Sisca yang sangat keras kepala menghindari bantuannya, membuat dia sangat kesal karena dia tahu wanita ini juga tertarik kepadanya.
"Kau memaksa ingin mandiri, menolak ingin mengakui bahwa kau manusia biasa..bahwa disaat tertentu kau tidak bisa melakukannya sendiri mengapa?" tuntut Rico dengan kekasaran yang tak terduga karena kesal dengan sifat keras kepala Sisca yang menolak bantuannya.
"Kenapa kau menolak bantuan lelaki padahal kau sangat membutuhkannya seperti manusia yang lain.. apa karena seorang pria?," lanjutnya.
Sisca menatap wajah Rico perlahan, pertanyaannya sangat pribadi dan terus terang.
Sisca memandang Rico dengan menerawang, berusaha menenangkan nafasnya tetapi ia tidak bisa.
"Tidak bukan karena seorang pria." jawab Sisca pelan.
Kata-kata itu meluncur keluar dengan diiringi perasaan sedih, kenangan indah yang kini terasa pahit yang sekian lama berusaha dia lupakan.
Kenangan masa kanak- kanak nya ketika ia bahagia.. ketika dia dicintai..dan belum merasakan betapa kejamnya dunia ini.
__ADS_1
Rico melihat kesedihan yang membayang di mata Sisca, ia menahan nafas berharap Sisca mau berbagi cerita dengannya.
Berbagi cerita apa saja yang membuatnya menutup diri dari dunia luar, dalam keadaan normal wanita ini tidak akan membiarkan seorang pun masuk kedalam hati dan kehidupannya.
Malam ini Rico mendapati Sisca dalam keadaan tidak seperti biasanya, dan hampir bisa menjebaknya dalam mengungkapkan isi hatinya.
Sambil mengawasi Sisca, Rico berjuang melawan rasa menyesal dan berdosa yang bisa -bisa membuatnya mengalah dan membiarkan pertanyaannya tidak terjawab.
"Tidak penyebabnya bukan seorang pria", ulang Sisca perlahan.
Pandangannya terarah ke Rico tetapi tidak melihat Rico matanya besar dan berkabut, seolah-olah ia memusatkan perhatiannya kepada sesuatu yang tidak dapat dilihat Rico.
Sesuatu yang hanya Sisca sendiri yang dapat melihatnya.. " Tetapi orangtuaku"
Rico merasa shock, orangtuanya! ia tidak mengerti.
Berdasarkan laporan yang dibacanya, kedua orang tua Sisca sudah meninggal ketika ia masih kecil..
Mendadak Rico mengerti hatinya diliputi perasaan kasihan, disentuhnya lengan Sisca dengan lembut.
Dan seolah-olah sentuhan itu bisa menyampaikan apa yang dirasakan oleh Rico kepadanya.
__ADS_1
Sisca menoleh dan memandangi nya, katanya dengan nada sedih, " begini mereka meninggalkan aku..dan aku.."