
"Kau tidak tahu ya?", tanya Serena meminta maaf.
"Oh Sisca, maafkan aku".
"Kemana dia?", tanya Sisca tegang, tidak menggubris permintaan maaf Serena.
"Aku harus pergi, ia membawa Michael. Oh, Tuhan, bagaimana aku bisa setolol itu? aku harus mencarinya".
"Sisca jangan, kau belum bisa melakukan apa-apa. Tolong ceritakan padaku ada apa? Apa yang ia lakukan di sini? Ada yang bisa aku bantu?".
"Tidak ada", tukas Sisca.
Otaknya tumpul ", tidak ada yang bisa membantu..."
Mereka mendengar pintu depan terbuka dan tertutup lagi, suara tawa Michael terdengar sampai ke atas di ikuti suara Richard yang berat.
"Kau ingin aku menemanimu di sini? ", tanya Serena.
Dia merasakan keinginan Sisca, untuk menghadapi lelaki itu.
"Tidak", Sisca menggeleng."Tidak terima kasih".
Peristiwa selanjutnya akan sangat menyakitkan, oleh karena itu Sisca tidak ingin ada yang menyaksikannya.
Walau bagaimanapun simpatik dan baiknya orang itu, cukup dirinya sendiri yang tahu betapa tololnya dia tanpa harus di saksikan orang lain.
__ADS_1
Tuhan, lelaki itu pasti menertawakannya habis-habisan! Richard kenzie.. pria paling hebat sedunia.
Tidak heran lelaki itu tahu benar bagaimana caranya...Sisca menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh, tidak mau mengingat-ingat hal yang menyakitkan itu.
"Kalau begitu aku pergi sekarang", kata Serena dengan canggung.
Melihat bahwa Sisca nyaris tidak sadar kalau ia masih di sana.
"Maafkan aku, Sisca."
Mungkin seharusnya aku diam saja tapi aku tahu pria yang akan datang untuk wawancara itu, sudah mendapat pekerjaan di tempat lain jadi aku khawatir ".
"Tidak...tidak, kau benar", kata Sisca lambat -lambat.
"Memang lebih baik begini..."
Serena berpapasan dengan Richard di tangga, lelaki itu sedang menggendong Michael dan menepi sedikit supaya ia bisa lewat.
Lelaki itu melihat wajah Serena yang kaku dan bagaimana wanita itu menghindari tatapannya.
Richard punya perasaan ia sudah pernah bertemu wanita ini, dan perasaannya itu kini sangat kuat.
Richard memaki dalam hati ia sudah merencanakan, untuk memberitahukan hal yang sebenarnya pada Sisca malam ini.
Tahu bahwa ia tidak bisa terus- menerus menipu wanita itu, karena mereka sekarang adalah sepasang kekasih.
__ADS_1
Ia meletakkan Michael ke dalam boks, lalu membuka pintu kamar Sisca. Begitu melihat wajah wanita itu, Richard tahu bahwa dugaannya benar.
"Kau sudah tahu kalau begitu ", katanya tenang.
"Bahwa kau Richard kenzie? ", Sisca menyunggingkan senyum kaku.
"Ya aku sudah tahu, kurasa Michael lah alasan dari semua sandiwara mu itu".
Walaupun Richard tahu bahwa Sisca pintar dan otaknya tajam, tapi tak urung ia kaget juga pada kecepatannya menyimpulkan sesuatu. Wanita itu berhak mendapatkan jawaban sejujurnya.
"Ya", kata Richard terus terang. "Tapi Sisca.."
"Kuberi kau waktu setengah jam untuk mengemasi barang-barang mu dan pergi dari sini, dan supaya benar-benar yakin aku akan menelepon polisi."
Richard sadar Sisca benar-benar menghubungi polisi, dan ia tidak ragu sedikit pun bahwa Sisca bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Sisca, kita harus bicara", protesnya.
Tapi Sisca tidak mau melihatnya, wanita itu menekan-nekan tombol teleponnya dengan ganas.
Richard membungkuk dan menarik kabel telepon hingga lepas.
"Biar aku jelaskan ".
"Apa?!", teriak Sisca marah.
__ADS_1
"Mengapa kau berbohong kepadaku untuk bisa masuk ke rumahku.. kepercayaan ku..tempat tidurku?"
Sisca tidak sanggup menambahkan "hatiku", padahal itulah yang paling menyakitkan.