BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Demam menyiksa


__ADS_3

Karena kecapekan dan putus asa, Sisca tidak dapat melawan flu parah yang menyerangnya.


Rasa gatal di tenggorokannya sekarang sudah menjadi gumpalan lendir yang membengkak, membuatnya sulit menelan.


Kepalanya terasa melayang oleh demam yang dideritanya, susah payah Sisca memasukkan angka-angka yang sedang ia jumlahkan.


Simpanan biaya tidak terduga yang dimilikinya kecil sekali, hampir tidak cukup untuk menutupi satu bulan.


Paling banyak dua kalau ia segera mendapatkan klien baru...ia memejamkan mata, memikirkannya saja ia tidak mau.


Jam setengah dua teleponnya berdering, Sisca mengangkatnya dengan tangan gemetar dan menyebut namanya dengan suara serak.


Sejenak tidak terdengar suara apa-apa, lalu suara Rico berkata dengan nada kering.


"Jelas aku tidak perlu menanyakan keadaanmu, mengapa kau tidak pulang saja?".


Rasa shock nya mendengar pegawainya berbicara dengan nada seangkuh itu terhadapnya, dikalahkan oleh keinginan untuk menangis atau minta laki-laki itu menjemputnya.


Sisca merasa matanya gatal dan kering, kerongkongannya panas membara. Badannya lemas karena ia terus -menerus menggigil.


Sekujur tubuhnya dari kepala sampai kaki, terasa sakit dan tungkainya nyaris tidak kuat menyangga tubuhnya.

__ADS_1


Itu masih ditambah dengan kepala yang berdenyut-denyut, penyebabnya bukan hanya karena ia berkutat dengan angka-angka.


Logikanya mengatakan wajar bila ia merasa lemas dan ingin menangis, tetapi Sisca tidak ingin menerima logika itu.


Perasaan membutuhkan orang lain seperti yang baru dialaminya itu membuatnya takut, Rasanya seperti ada lubang menganga di kakinya.


Mimpi buruk yang menjadi kenyataan, ia tidak boleh membiarkan dirinya menjadi lemah atau tidak mandiri.


Beberapa anak yang bernasib sama dengannya sangat inginkan pengganti orang tua, dan menempel pada orang dewasa mana saja yang mereka temui.


Sisca malah sebaliknya mandiri dan tegar begitulah tekadnya.


Sisca mencengkeram gagang telepon lebih erat, menolak untuk menyerah. Padahal ia tahu tindakannya sangat tidak masuk akal.


"Ada apa?", tanya Sisca serak.


"Michael tidak apa-apa? ".


Sisca mendengar Rico menghela nafas dengan kesal.


" Tidak ", tukasnya dengan nada kering.

__ADS_1


"Tidak seperti kau, Michael sehat walafiat".


"Kalau begitu, sudah dulu ya. Aku agak sibuk."


Sisca menutup telepon, cemas waktu menyadari tubuhnya menggigil hebat. Saking hebatnya, ia sampai tidak berani melepaskan tangannya dari pesawat telepon.


Ia bangkit dari kursinya dan berjalan dengan mata nanar ke pintu, secangkir kopi atau lebih baik lagi sup panas akan membuatnya segar kembali.


Ia belum sarapan dan kemarin malam juga tidak makan, pantas ia lemas sekali. Sisca membuka pintu ruang kerjanya, berniat meminta asistennya membawakan semangkok cup sup untuknya dari kedai Liang Sandwich terdekat.


Ternyata di luar tidak ada siapa- siapa, tentu saja kedua pegawainya itu pasti sedang makan siang ia harus pergi sendiri.


Kantor Sisca terletak di lantai lima sesampainya di lantai dasar, Sisca malah menyesal telah meninggalkan kantornya.


Sambil menggertakkan gigi ia berjalan di foyer dengan perasaan bimbang, lalu keluar kejalanan yang padat pada jam makan siang seperti ini menembus udara dingin.


Apakah biasanya memang seberisik ini? gendang telinganya sakit oleh suara, yang semakin lama semakin keras.


Sisca harus mengerjabkan mata beberapa kali untuk bisa melihat dengan jelas, kedai Sandwich itu terasa gerah dan menyesakkan setelah tadi berjalan di jalanan yang dingin.


Kepala Sisca terasa dipukul-pukul dan aroma harum masakan membuatnya mual, antrean pembeli berjalan lambat tapi akhirnya giliran Sisca tiba juga.

__ADS_1


__ADS_2