
Entah bagaimana.. pada suatu saat.. ia telah melakukan perbuatan yang tak termaafkan, dan membiarkan dirinya tergantung kepada Rico.
Dengan kalut Sisca berusaha mengingat-ingat, berusaha menyingkirkan pengetahuan itu dan menyakinkan diri bahwa ia keliru.
Bahwa pikiran-pikiran itu hanya timbul karena tubuhnya sedang lemah, tetapi sambil mengawasi Rico dia tahu bahwa bila tiba saatnya nanti Rico pergi hidupnya akan hampa lebih daripada apa yang pernah dia bayangkan.
Entah bagaimana hatinya bisa berkhianat, Rico dan Michael telah menyatu menjadi dua figur permanen dalam hidupnya.
Rico mengulurkan tangan dan menyentuhnya dengan kening berkerut, ia menurunkan Michael dan mengalihkan perhatiannya kepada sisca.
"Ada yang tidak beres, Sisca? ", ulang Rico cemas.
"Kau tidak enak badan? "
Kulit Sisca terasa terbakar oleh sentuhan Rico dan denyut nadinya berdebaran, mendadak ia tersadar bagai di siram oleh cahaya terang benderang.
Ia mencintai lelaki itu, kesadaran itu menghantamnya dengan kekuatan penuh. Wajahnya memutih karena shock, darah surut dari wajahnya menjadikannya pucat seperti mayat.
Di tatapnya Rico dengan pandangan kosong, saat ini ia tidak bisa berfikir logis bahkan tidak mampu berkata apapun.
"Sisca, ada apa? "
__ADS_1
Suara Rico yang serak dan hangat bagaikan bubuk batu yang di gerus kan ke kulit yang terlalu halus, Sisca menggelinjang takut kepada perasaan membutuhkan di dalam dirinya.
Tubuhnya panas dingin dan sekujur tubuhnya gemetar, seratus tidak seribu kali lebih parah dari pada ketika ia sakit flu.
Lelaki itu menyentuhnya, memegangi bahunya. Telapak tangannya mencengkeram, siku Sisca yang lembut.
Sisca merasa seolah-olah jari jemari Rico membelai -belai kelembutan kulitnya, dunia tahu kalau itu hanyalah khayalannya belaka. Sisca menghela nafas mencoba menenangkan dirinya, Ia tidak boleh membiarkan Rico tahu.
Ia malu membayangkan betapa Rico akan menganggapnya konyol nanti. Sisca si wanita karier berdedikasi tinggi, jatuh cinta untuk pertama kalinya seumur hidup.
"Aku tidak apa-apa", dusta nya.
" Tidak kau bohong, ada apa? Dokter mengatakan sesuatu kepadamu? "
"Apa yang dikatakan dokter itu benar loh", kata Rico.
Membuat Sisca kaget sadar kalau dokternya pasti mendiskusikan kondisi fisiknya kepada Rico.
" Selama ini kau terlalu memaksakan diri, aku tahu kau ingin cepat-cepat kembali bekerja tetapi kau belum cukup sehat".
Sikap Rico yang mengasihaninya membuat Sisca terharu, ia menundukkan kepala menyembunyikan air mata yang mendadak muncul dan terkejut waktu mendengar dirinya mengakui dengan suara serak.
__ADS_1
"Justru itu, aku tidak ingin kerja lagi".
Ia menghela nafas dalam-dalam tubuhnya gemetar, ia mencoba menjauhkan diri dari tangan Rico yang terulur.
Waktu lelaki itu menyentuhnya ,Sisca hampir-hampir tidak bisa berfikir jernih. Sekujur tubuhnya mendambakan lelaki itu, merindukan sentuhannya.
Perasaan membutuhkan yang ia sudah kerap rasakan muncul lagi, dan Sisca ingin sekali dipeluk oleh Rico.
Pandangannya terarah keluar jendela yang ada di balik punggung Rico, katanya lebih tertuju kepada dirinya sendiri.
"Bagaimana jadinya nanti? "
"Aku susah hampir tidak mengenali diriku sendiri lagi, mengapa aku merasa seperti ini? "
" Seharusnya aku bersemangat kerja lagi tapi malah... "
"Itu disebut post viral depression ", ujar Rico memberitahu dengan lembut.
" Biasa menyerang para penderita flu, terutama mereka yang habis sakit parah seperti kau. Aku tahu itu tidak akan membuat keadaanmu bertambah menjadi baik, tetapi nanti juga hilang sendiri aku jamin ".
" Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? kau kan tidak tahu... "
__ADS_1
"Aku tahu kok", tukas Rico.
" Tiga tahun lalu aku juga mengalami hal yang sama sepertimu, benar-benar meruntuhkan semangat. Tapi aku berani jamin masih ada kehidupan setelah flu mu sembuh", katanya menggoda.