BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
ingatan masa lalu


__ADS_3

"Begini, mereka meninggalkan aku...dan aku..."Air Matanya membanjiri pipinya, dengan setengah hati dihapusnya air matanya seperti anak kecil.


"Aku terpaksa tinggal di panti asuhan, mulanya aku tidak mengerti. Aku terus menerus mengira terjadi kesalahan, bahwa mereka sesungguhnya tidak meninggal dan akan datang menjemput ku.." tubuh Sisca menggigil seperti kedinginan bergidik kaku.


"Kadangkala aku membenci mereka karena meninggalkan aku" lanjutnya dalam suasana terbawa ingatan masa lalu yang berharap dia lupakan.


"Itu sudah takdir, Sisca" kata Rico sangat lembut.


"Aku tahu" tukas Sisca cepat dengan nada tidak sabar.


"Waktu itu pun aku sudah tahu, tetapi tidak tahukah kau..walaupun aku tahu mereka tidak bersalah, sebagian dari diriku tetap menyalahkan mereka karena sudah meninggalkan aku sendirian tanpa seorangpun menemaniku.


Sehingga harus tinggal di panti asuhan, karena tidak ada keluarga yang merawat ku dan dinas sosial menempatkan aku bersama lainnya di sana " kata Sisca berapi-api.


"Seharusnya mereka mengajak aku..dan kami


.."


"Sisca, tidak!" potong Rico dengan nada keras dan terdengar kasar..

__ADS_1


Begitu kasar sehingga Sisca memandanginya lekat-lekat, dan mendadak menyadari apa yang dia lakukan, yang dia katakan tadi..


"Tentu saja, aku tidak bersungguh-sungguh ingin mati..Setelah beberapa bulan di sana. Tapi seandainya tidak ada Jenny..


" Ibu Michael? " sela Rico dengan pelan dan halus.


Mata Sisca berubah lembut dan menerawang lagi, seakan-akan dia memandang jauh ke masa lalu dan merasa kembali kesedihan yang dialami dulu.


"Ya, boleh dibilang aku diangkat sebagai anaknya..ia semacam ibu bagiku. Tanpa dia.." Sisca terdiam dan memandangi Rico.


"Itulah sebabnya mengapa kemandirian sangat penting sekali artinya bagiku, karena waktu aku sangat muda..aku sudah belajar bagaimana rapuhnya kita bila membutuhkan orang lain..


Mereka akan pergi meninggalkanmu sendirian..dalam kesedihan.. kasih sayang mengakibatkan kesedihan. "


"Tidak usah memperhatikan siapa-siapa, atau berhubungan dengan siapa-siapa..tidak membiarkan siapapun menembus benteng yang kau bangun mengelilingi hatimu. Hanya ada satu kelemahan dalam argumen mu itu" tambah Rico lembut.


Sewaktu Sisca menatapnya dengan tegang dan seksama ia bertanya, " Bagaimana dengan Michael? jangan bilang kau tidak menyayangi dia Sisca?"


"Michael lain", tukas Sisca berapi-api.

__ADS_1


"Aku berhutang pada Jenny untuk.."


"Menyayangi anaknya? ah, begitu..jadi tidak apa-apa kalau menyayangi seseorang karena kewajiban..begitu kan maksudmu?"


Mendadak saja Sisca tidak tahu lagi apa yang akan dia katakan, atau bagaimana perasaannya.. kecuali bahwa tiba- tiba saja beban amat berat itu seakan terangkat dari bahunya.


Apakah ia menganggap kemandiriannya sebagai beban? usahanya yang nyaris tanpa henti agar hidupnya terbebas dari ikatan emosional apapun itu juga beban? mustahil, kan?


"Manusia hidup bukan hanya dengan kemandirian " kata Rico dengan nada kering, sengaja keliru mengutip.


"Begitu juga dengan wanita, atau sebaiknya kukatakan terutama sekali wanita".


" Itu salah satu komentar paling seksis yang pernah Kudengar ", bentak Sisca pada Rico.


Senang karena dia bisa memusatkan perasaannya pada masalah lain, sebagai alasan untuk memulihkan kekagetannya karena membeberkan perasaan hatinya tadi


...dengan segala senang hati, pikir Sisca menyadari dengan pahit.


"Kau salah mengerti", tukas Rico kalem.

__ADS_1


"Pria dan wanita memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, kaum pria harus berusaha cukup lama untuk bisa mengendalikan emosinya seperti kaum wanita. Jangan menyangkal emosi itu, Sisca..perasaan -perasaan itulah yang membuat.."


"Wanita menjadi rapuh" sentak Sisca kepadanya memotong ucapan Rico tadi yang belum selesai.


__ADS_2