
Ingin sekali mengusir ketegangan yang menggantung di kamar itu, dilihatnya Rico hendak mengatakan sesuatu tetapi Sisca tidak sanggup mendengar penolakan itu jadi cepat-cepat dipotong nya.
"Aku tidak bermaksud begitu Rico, aku tahu bagaimana perasaanmu terhadap majikan wanita yang mendekatimu. Lupakan saja kata-kata ku tadi.. aku... "
"Lupakan? tidak bisa ,Sisca.. "
Ada yang berubah, nada suara Rico mengatakan hal itu. Tangannya yang tadi hendak menolaknya, yang dengan tegas menjauhkan tubuhnya.
Kini perlahan-lahan membelai urat nadi, yang berdenyut-denyut dipergelangan tangan Sisca. Kilatan di matanya yang gelap, menunjukkan bahwa lelaki itu terangsang.
Anggur itu membuat Sisca mabuk, Rico sadar Sisca sudah nyaris menyadari apa yang dia katakan atau ia lakukan.
Seharusnya ia membaringkan wanita itu lagi di tempat tidur dan meninggalkannya di sana. Di matanya tampak sorot keyakinan , bahwa Rico Menolaknya.
Rico memaki-maki kenyataan bahwa laki-laki yang ia "gantikan" itu, berhenti kerja karena tidak bisa menerima pelecehan seksual yang dilakukan oleh majikan wanitanya.
Rico jadi serba salah. Kalau ia meninggalkan Sisca sekarang wanita itu mengira Rico menolaknya dan Rico tahu sekali, bahwa bila Sisca sudah sembuh nanti, wanita itu tidak akan membiarkan Rico menembus pertahanannya lagi harga dirinya tidak akan mengizinkan.
__ADS_1
Tapi kalau ia menurutinya Sisca mungkin akan menuduhnya telah mengambil kesempatan, mumpung ia lagi mabuk jadi tidak menyadari perbuatannya.
Keduanya sama-sama celaka dan kalau memang sudah nasibnya begitu, Rico tahu mana yang akan dipilihnya.
Ia sudah terlalu sering melewatkan malam-malamnya, di atas tempat tidur yang terlalu sempit dan nyaris terlalu pendek itu dengan keinginan membara memeluk Sisca.
Tersiksa oleh keinginan yang seingatnya hanya ia alami semasa remaja, tubuhnya berdenyut-denyut menginginkan wanita itu.
Wanita yang lebih berpengalaman pasti akan merasakannya, dan mungkin akan memanfaatkannya tetapi Sisca nampaknya tidak sadar sama sekali.
Itulah sebabnya mengapa mata wanita itu sekarang memancarkan kesedihan karena merasa di tolak. Rico rela melakukan apa saja untuk menghapus kesedihannya, ia bisa melakukannya dengan merangkul wanita itu ke dalam pelukannya dan membuatnya tahu bahwa perkiraannya itu keliru.
Ia berdiri sambil memeluk Sisca, mendekapnya erat-erat. Tangannya yang satu lagi memegang selimut.
Gerakan itu membuat otot-otot perut Richard mengejang dan sisca bisa merasakannya, karena tubuhnya menempel erat di tubuh lelaki itu.
Perut Sisca sendiri seperti diaduk-aduk karena teransang, sambil terus memeluknya Rico melemparkan selimut kembali ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Sisca meletakkan kepalanya di bahu Rico, ia tidak tahu Rico membenahi tempat tidur itu untuknya atau ...
"Kurasa kita tidak membutuhkan ini, kan? ", bisik Rico di rambut Sisca, melepaskan pelukannya sejenak untuk membuka mantel kamarnya.
" Lagi-lagi aku lupa memakai piyama", tambah Rico dengan suara parau.
Tangannya membuka mantel kamar Sisca, lalu ia menyurukkan kepalanya di leher Sisca yang harum sambil menurunkan tali gaun tidurnya.
"Rico", protes Sisca dengan suara serak.
Mulut lelaki itu sampai dilekukan dagunya.
" Ssst.. jangan bicara, cium saja aku", bisik Rico di sudut bibir Sisca.
Gerakan bibir lelaki itu membuat gairah Sisca menyala-nyala.
"Rico.. ", protes Sisca lagi.
__ADS_1
Tapi kali ini dengan suara lemah, ia panik luar biasa ketika bibir Rico menyentuh bibirnya dan menciumnya dengan gairah yang memuncak.