BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Bercintalah denganku


__ADS_3

Ia tertidur sambil memikirkan Rico, pukul dua malam mendadak ia terbangun dan mendapati selimutnya sudah terlempar ke lantai.


Tidurnya gelisah tubuhnya membeku kedinginan, Sisca memakai mantel kamarnya dan pergi ke kamar Michael untuk memeriksa keadaannya.


Sekaligus ingin tahu apa suara-suara dari kamarnya membuat bayi itu terbangun ternyata tidak, ia membelai wajah bayi itu dengan lembut dan merasakan secercah perasaan aneh.


Bagaimana rasanya melahirkan anak dari seorang lelaki yang dicintainya? mengandung anak itu dan kemudian melahirkannya ... ikatan paling kuat yang terjalin dari dua orang yang saling mencintai.


Sisca terguncang oleh gelombang perasaan yang menerpanya, tubuhnya bergetar hebat menyadari kehidupannya yang hampa.


Ia tidak mungkin bisa tidur lagi... dalam hati ia bertanya-tanya berapa lama ia harus menjalani hidup, dan tersiksa oleh pikiran-pikirannya tentang Rico.


Dengan langkah tersaruk-saruk, Sisca kembali ke kamarnya dan melihat gelas berisi anggur merah itu. Minuman itu akan menghangatkan badannya dan membantunya tidur.


Sisca mengangkat gelas itu, dan cepat-cepat menenggak isinya seolah-olah menelan obat. wajahnya mengerenyit masam, ketika cairan anggur merah itu membasahi kerongkongannya.


Pandangannya kabur ketika mencoba naik keatas tempat tidur, Sisca terkejut melihat tempat tidurnya seakan mengambang dihadapannya seolah-olah bayangan bukan benda padat.


Sisca mencengkeram selimut erat-erat untuk menenangkan diri, kaget ketika mendapati dirinya terduduk di lantai.

__ADS_1


Ia tertawa ter kikik-kikik mendadak merasa lucu, tetapi tawanya lalu berubah menjadi tangis. Air matanya mengalir deras dan ia menangis dengan suara pilu.


Suara tangisannya membuat Rico terbangun, lelaki itu sudah biasa tidur dengan telinga terbuka lebar. Kalau-kalau Michael menangis, dan membangunkan Sisca.


Lalu sadar suara itu berasal dari kamar Sisca, bukan kamar Michael. Rico serta merta langsung turun, menutup tubuhnya dengan mantel tidur.


Sejak kecil ia memang biasa tidak memakai piyama dan walaupun ia berniat memakainya untuk meredakan amarah Sisca, tetapi ia merasakan janggal hingga lantas tidak memakainya lagi.


Dilihatnya Sisca meringkuk di lantai, mencengkeram selimutnya erat-erat. Wajahnya penuh air mata, membuat Rico menyangka wanita itu terjatuh.


Ia menghambur menghampiri Sisca, memburunya dengan tanya.


"Kau kenapa? "


"Tungkai mu sakit? "


Tungkai Sisca sudah sembuh bengkaknya sudah hilang, tetapi kadang-kadang masih terasa mengganggu.


Sebelum Sisca sempat mengatakan apa-apa, Rico sudah menyentuhnya. Jari jemari lelaki itu memeriksa tulangnya yang rapuh, sementara tangan satunya menyangga betis Sisca yang ramping dan tangan yang lain meraba-raba tungkainya dengan lembut.

__ADS_1


Rasa panas menjalar dari tangan Rico yang menyentuh kulitnya, jantung Sisca berdebar tak karuan.


Tubuhnya dicekam oleh gairah yang berteriak minta dipuaskan, gairah itu mengalahkan segalanya termasuk suara hati kecilnya yang memohon-mohon agar ia menjaga wibawa dan harga dirinya.


Rico menunduk di atas tungkai Sisca dengan kening berkerut, Sisca tidak kuasa menahan diri .Tangannya terulur menyentuh dagu Rico yang keras dengan tangan gemetar, Rico memandanginya.


"Aku ingin kau bercinta denganku".


Sekarang sudah terlambat, untuk menarik kembali kata-kata itu. Sekujur tubuh Sisca seakan terbakar, oleh rasa malu dan putus asa. Astaga, apa yang membuatnya berkata seperti itu?


" Sisca.. "


Rico memanggil namanya dengan lembut, lelaki itu mengulurkan tangan dan memegang pergelangan tangan Sisca mendorongnya dengan lembut.


Sisca dapat melihat sorot penolakan di mata Rico, ia mengerenyit menahan sedih rasa malu pada dirinya sendiri.


Walau bagaimana pun halusnya penolakan lelaki itu, mereka berdua tahu bahwa itu memang terjadi. Kenapa tadi ia tidak diam saja?


kenapa dia..?

__ADS_1


"Maafkan aku, entah kenapa aku berkata begitu. Pasti gara-gara minum anggur." kata Sisca.


__ADS_2