
"Pria juga rapuh", tukas Rico.
"Tidak semua wanita sama jujurnya denganmu, seperti halnya aku sukar menyadari bahwa aku muda dan sangat naif".
Sekarang giliran Rico yang nampak bingung dan keningnya berkerut, seolah-olah bingung telah membeberkan isi hatinya pada Sisca dan mengakui kerapuhannya.
Walaupun begitu, rasa percaya diri Rico bukan taktik semata tapi spontan dan jujur. Sisca merasa ingin mengulurkan tangan dan menyentuh laki-laki itu.
Keinginan itu, sekaligus juga rasa takut yang menyertainya tampak sekilas di wajahnya. Sisca mundur, menjauh dari Rico langkahnya agak tersandung-sandung.
Didengarnya Rico memaki-maki, tetapi tetap diam tidak bergeming. Kepekaan Sisca terhadap perasaannya, membuat bulu kuduk di sekujur tubuhnya meremang memperingatkan.
Laki-laki itu berbahaya baginya dalam beberapa hal yang baru disadarinya, Rico dapat memancing reaksinya dengan mudah.
Baik reaksi verbal maupun fisik, yang membuatnya merasakan berbagai hal yang tidak ingin dia rasakan..membuatnya melihat hal-hal tentang dirinya sendiri maupun tentang lelaki itu yang tidak ingin dilihatnya..
__ADS_1
"Aku ingin membuat minuman hangat untukmu", kata Rico pendek.
Sisca mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak merasakan perasaan kehilangan yang tajam dan menyakitkan, ketika lelaki itu membalikkan badan dan berjalan kearah dapur.
Sambil mengernyit kesakitan, Sisca berjalan ter pincang-pincang menyusuri lorong. Sesampainya di puncak tangga, walaupun anggota tubuhnya yang lain beku kedinginan tetapi tungkainya terasa bagaikan terbakar, berdenyut-denyut setiap kali kakinya melangkah.
Sampai di kamar tanpa repot - repot menyalakan lampu, Sisca menyeret tubuhnya ke tempat tidur dan nyaris roboh di sana.
Ia berbaring di sana tubuhnya menggigil dan berkeringat berganti-ganti, kesadarannya datang dan pergi.
Mendesaknya melakukan sesuatu yang penting, tetapi ia tidak ingat apa. Tungkainya dan betis terasa sakit.. Sisca melepas sepatu supaya sakitnya berkurang.
Ia ingin membuka baju dan mandi, tetapi ia merasa tidak sanggup melakukannya. Ia kedinginan dan ia tahu ia harus melepas bajunya yang basah, dan menyusup masuk kebalik selimut.
Tetapi ia merasa tidak kuat, jadi ia menyerah dalam keletihan yang membuat tubuhnya terasa lumpuh dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Ketika Rico memasuki kamarnya, lelaki itu mengira Sisca masih di kamar mandi. Tetapi melalui cahaya lampu jalan yang menerangi kamar, ia melihat wanita itu terbayang di atas tempat tidur.
Sinar lampu yang menerobos masuk, menerangi tungkainya yang bengkak. Rico meletakkan gelas minumannya, dan berjalan menghampiri ranjang.
Dengan cepat diperiksanya tungkai Sisca yang bengkak itu, Sisca menggerutu dan mengerenyit matanya nanar setengah terbuka.
Rico menatap Sisca dengan perasaan campur aduk, antara marah dan khawatir yang amat sangat.
Sisca berusaha duduk ia tidak ingin dikasihani, jadi ia berpura-pura tidak apa-apa. Tetapi gerakannya tadi membuat tungkainya sakit luar biasa, Sisca menjerit kesakitan.
"Aku akan memanggil dokter" tandas Rico beranjak dari sisi tempat tidur.
Sisca tidak ingin di periksa dokter ia hanya ingin tidur, menghangatkan badan dan melupakan trauma yang dialaminya malam itu.
"Tidak usah" kata Sisca cepat.
__ADS_1
"Itu tidak perlu" ucapannya tidak sejalan dengan tubuhnya yang menggigil hebat, dan giginya yang gemelutuk.
"Aku hanya ingin tidur dan menghangatkan badan" tambah Sisca dengan suara lirih, merintih sedikit ketika merasakan nyeri di kakinya begitu ia mencoba bergerak.