BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Khawatirnya Rico kepada Sisca


__ADS_3

Mula-mula ia tidak ingat apa yang dia inginkan, orang-orang yang mengantre di belakangnya bergerak-gerak gelisah.


Ajaibnya mendadak pikirannya jernih kembali sup..Sisca menyampaikan pesannya, ia memegang karton supnya dengan hati-hati sekali karena tubuhnya gemetaran.


Sesampainya di jalan Sisca menggigil hebat apakah ia cuma berkhayal, atau suhu udara memang anjlok beberapa derajat selagi ia berada di kedai itu?


Rasanya lama sekali ia baru bisa sampai di gedung kantornya lagi, tungkainya yang membengkak di dalam sepatu botnya terasa panas membara entah bagaimana melepaskannya nanti.


Bayangan bahwa ia tidak bisa membuka sepatu bot, dan terpaksa memakainya seumur hidup terasa lucu bagi Sisca tawanya meledak.


Tetapi dadanya terasa sesak hingga ia tidak bisa bernafas, ia berhenti mendadak dan ditubruk orang sehingga karton supnya yang di pegangnya jatuh.


Sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di pinggir jalan, Sisca tidak melihatnya ia terlalu sibuk meratapi supnya yang tumpah.


Seseorang menyambar lengannya terdengar suara orang memanggil-manggil namanya, dan lalu terdiam tanpa bersuara Sisca mendongak.


Entah mengapa ia tidak merasa heran melihat Rico di sana, ia memang sedang memikirkan laki-laki itu dengan perasaan putus asa.


Berharap ia tadi tidak keras kepala waktu Rico menyuruhnya pulang, kalau ia tadi menurut sekarang ia mungkin sudah berbaring di tempat tidur, kenyang dan hangat.

__ADS_1


Dengan pikiran setengah linglung karena demam, Sisca memandangi Rico tanpa merasa terkejut dan berkata dengan nada pilu.


"Supku tumpah", air matanya merebak, Sisca mendengar Rico memaki.


Tiba-tiba saja Rico mengangkat badannya membuat Sisca kaget, hingga cepat-cepat berpegangan pada tubuh lelaki itu lalu mendudukkannya dengan lembut didalam mobil.


"Jangan kemana-mana ", kata Rico padanya.


"Kantormu di lantai berapa, Sisca?"


"Lantai lima, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana".


Ia sudah tidak heran lagi, mengapa bisa merasa seperti ini. la sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, kecuali menyerah kepada demam yang merongrong tubuhnya.


Ketika Rico kembali Sisca sudah berbaring dengan mata terpejam, wajahnya yang pucat tampak merah membara di bagian tulang pipi.


Richard masuk ke mobil dan memeriksa denyut nadi Sisca ternyata kencang sekali, Sisca membuka mata dan menatapnya matanya yang biasa cerah kini nanar dan berkabut.


"Badanku panas", kata Sisca dengan suara lirih dan bingung.

__ADS_1


"Aku merasa tidak enak badan".


"Kurasa kau terkena flu", kata Richard menandaskan.


"Aku akan membawamu pulang lalu aku akan memanggil dokter, kalau kau berani lagi berkata bahwa kau tidak apa-apa.. aku akan.."


"Michael ", protes Sisca mengantuk.


"Aku berhasil membujuk salah seorang tetanggamu untuk menjaga selama satu jam".


"Bagaimana kau tahu aku membutuhkanmu?"


Dalam keadaan normal kata-kata itu tidak akan pernah terlontar dari mulut Sisca, karena matanya terpejam Sisca tidak melihat reaksi Richard yang terkejut.


Sisca memang berkata seperti itu sekarang tetapi seandainya Richard mengingatkannya kalau ia sudah sembuh nanti, Richard yakin Sisca pasti akan menyangkal pernah mengatakannya.


Dari apa yang mulanya sebagai ajang mengumpulkan informasi agar pengadilan memberinya hak perwalian tunggal atas Michael, sekarang berkembang menjadi sesuatu yang lebih rumit.


Parahnya Richard tidak melihat adanya jalan keluar dari belitan kebohongannya sendiri, ketika mobilnya melewati sebuah bekas roda di jalan Sisca mengerang lirih.

__ADS_1


Richard mengalihkan perhatiannya dari pikiran-pikirannya yang berkecamuk dalam benaknya, kepada wanita yang duduk di sebelahnya ini.


__ADS_2