BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Kerinduan yang menyiksa


__ADS_3

Sisca gelisah dan tegang menyadari perasaan cintanya terhadap Rico, padahal seharusnya ia berkonsentrasi memulihkan kekuatannya.


Sudah dua malam ia tidak bisa tidur nyenyak dan pada hari yang ketiga, ia sudah nampak lemah dan terkuras.


Ketika Rico datang membawakan nampan berisi makan malam, lelaki itu berkeras menyuruhnya minum segelas besar anggur merah.


"Tapi aku tidak suka", protes Sisca.


" Aku pasti langsung pusing, apalagi anggur merah".


"Anggap saja obat", kata Rico.


Hingga ia menyadari cintanya terhadap Rico, Sisca selalu makan malam bersama lelaki itu. Sekarang ia berkeras, ingin makan sendirian di kamar.


Dan bisa dilihatnya dari sorot mata lelaki itu, bahwa penolakannya makan bersama membuat Rico bingung.

__ADS_1


Sisca takut Rico akan menganggapnya setali tiga uang dengan mantan majikannya dulu, gara-gara wanita itu Rico berhenti kerja.


Sekarang Sisca bisa memahami wanita itu, badannya menggigil padahal kamarnya hangat Rico mengerutkan kening.


Kesehatan Sisca tidak pulih secepat seharusnya, dalam hati Rico berfikir Sisca akan lebih cepat pulih bila beristirahat di suatu tempat yang beriklim hangat.


Ingatannya melayang pada villanya yang dibeli karena dorongan hati sekaligus sebagai investasi, tetapi yang jarang sekali digunakannya.


Tetapi ia tidak tahu bagaimana cara mengusulkan hal itu kepada Sisca, tanpa membangkitkan kecurigaannya.


Sisca memperhatikan Rico meletakkan nampan makan malamnya di atas meja kecil, pada hari-hari pertama masa penyembuhannya Sisca terkagum-kagum melihat berbagai jenis makanan enak-enak yang dibawakan Rico untuk memancing seleranya.


Sisca meringis membayangkan harganya tetapi ketika ia mencoba mengutarakan kekhawatirannya itu kepada Rico, lelaki itu mengatakan secara terus terang bahwa masakannya tidak mungkin dapat memancing selera orang sakit.


Malam ini menunya dada ayam dengan saus krim yang dibumbui sedikit alkohol, walaupun Sisca tidak tahu jenisnya dimakan dengan kentang segar lezat yang sudah jelas didatangkan secara khusus.

__ADS_1


Serta berbagai jenis sayuran yang dimasak dan ditata secara memikat selera, pencuci mulutnya berupa puding telur juga dimasak dan ditata secara memikat dengan siraman saus buah supaya lezat.


Tetapi ketika ia makan dan dengan setengah hati minum anggur yang dibawakan Rico untuknya, Sisca merasa tidak berselera.


Beban yang dipikulnya bertumpuk-tumpuk ia bukan hanya dihantui rasa cintanya kepada Rico, tapi keengganannya menghadapi kenyataan gagalnya kontrak dengan Steven berakibat fatal bagi bisnisnya.


Tenaganya terkuras habis tubuhnya lesu dan tak berdaya, padahal seharusnya ia bertambah sehat. Kadang-kadang Sisca malah bertanya dalam hati, apakah dirinya sengaja memperlambat proses pemulihan supaya lebih lama menikmati kehangatan cinta Rico.


Dulu ia pasti mencela pemikiran seperti itu tapi sekarang... sekarang ia merasa tidak mengenali dirinya sendiri.


Rico muncul lagi dan berkeras menuangkan segelas anggur lagi untuknya tetapi Sisca menolak, namun lelaki itu tetap mengisi gelasnya dan meletakkannya di meja katanya untuk berjaga-jaga bila nanti Sisca ingin minum.


Rico menawarkan kopi tetapi Sisca tidak mau, ia tahu sedikit stimulan saja sudah bisa membuat matanya nyalang semalaman.


Sisca merasa Rico ingin tetap berada di kamar dan mengobrol dengannya, dulu waktu ia belum menyadari perasaannya Sisca senang ditemani Rico dan mengobrol dengannya.

__ADS_1


Ternyata Rico bisa mengimbangi percakapan dengan baik, sekaligus cukup percaya diri memperlakukan sisca secara sejajar.


Sisca merindukan pembicaraan mereka tetapi perasaan itu belum apa-apa dibandingkan perasaannya nanti kalau Rico benar-benar sudah berlalu dalam kehidupannya.


__ADS_2