BUAIAN CINTA

BUAIAN CINTA
Terbawa emosi perasaan


__ADS_3

Rico melihat tungkai Sisca yang terkilir, tetapi tidak patah. Wanita itu mungkin benar yang ia butuhkan sekarang hanyalah tidur, dan menghangatkan badan bukan dokter.


"Baiklah", kata Rico mengalah.


"Jangan coba-coba bergerak aku akan menyiapkan air mandi untukmu, nanti aku kembali kemari."


"Tidak usah " protes Sisca segera.


Membuat Rico berhenti karena kaget melihat penolakan yang berapi-api.


"Aku bisa sendiri" tukasnya tajam.


Rico memandangi wajah Sisca yang pucat pasi dan dagunya mengeras, wanita ini lain daripada yang lain.


Sikapnya yang ngotot ingin mandiri itu, benar-benar menjengkelkan dan tidak ada gunanya.


Rico kembali ke sisi tempat tidur dan membungkuk di atasnya, berbicara tepat di depan mata Sisca.


"Aku nyaris tergoda membiarkanmu melakukannya sendiri, tetapi kita sama-sama tahu bahwa kau tidak bisa kemana - mana dengan kaki terkilir itu", kata Rico.


"Seandainya waktu aku datang tadi kau membiarkan aku naik ke atas, bukannya malah menanyaiku macam-macam aku tidak akan kenapa- kenapa ", dusta Sisca sambil memelototinya.

__ADS_1


Sikap garangnya langsung luntur, ketika tubuhnya menggigil hebat. Dengan wajah masam Rico berjalan ke kamar mandi, Sisca mendengar suara air dinyalakan.


Ia merasa lemas seperti anak kucing. tubuhnya lemas dan tidak dapat bergerak sama sekali. Sisca tahu ia harus melakukan sesuatu, mungkin membuka bajunya yang basah dan memakai mantel.


Tetapi baru memikirkan saja kepalanya langsung pusing, jauh lebih mudah memejamkan mata membiarkan suara air menentramkan nya.


Sisca membayangkan dirinya berendam dalam kenikmatan dan kehangatan, badannya menggigil lagi bajunya yang basah dan kulitnya yang dingin terasa tidak enak.


"Sisca" terdengar panggilan tajam.


Sisca tersentak mendengar suara tajam itu tepat di telinganya, Rico berjalan hampir tanpa suara membuat Sisca tidak dapat mendengarnya sama sekali.


"Airnya sudah siap", kata Rico dengan garing.


Sisca berusaha bangkit tetapi otot-ototnya terlalu lemah untuk bereaksi, tetapi tubuhnya terbanting di atas tempat tidur.


"Minum" kata Rico memberi cangkir ke bibirnya.


Bau brandy yang keras memenuhi rongga hidung sisca, membuatnya tersedak di dorongnya cangkir itu.


"Aku tidak mau minum itu".

__ADS_1


"Oh, harus mau", tukas Rico masam.


"Baunya mungkin tidak enak tapi ini hanya susu panas yang dicampur brandy, minuman ini akan membuat badanmu hangat dan membuatmu tidur."


"Tidak mau", tolak Sisca marah.


Ia terkesiap kaget ketika tiba-tiba Rico meletakkan cangkirnya di meja, menarik badan Sisca dan mendudukkannya di atas tempat tidur tanpa mengabaikan protes marahnya.


Lalu lelaki itu merangkulnya dengan satu tangan, sementara tangan yang satu lagi mengangkat cangkir tadi ke bibir Sisca dan dengan nada garing berkata" Minum!"


Menolak hanya akan membuatnya merasa terhina lebih lama, jadi Sisca membuka mulut dan dengan patuh meminumnya seteguk.


Ia terkesiap ketika kerongkongannya terasa panas karena alkohol, membuatnya tersedak dan ter batuk- batuk.


Rico tidak menggubris protes-protesnya dan mau berhenti, ketika isi dalam cangkirnya mau habis.


Sisca tidak tahu berapa banyak brandy yang dicampur kedalam susu itu, tetapi kepalanya sudah terasa pening dan melayang.


Oleh karenanya dia tidak sadar ketika Rico melepaskan rangkulannya, dan dengan cepat membuka kancing bajunya.


Ia baru sadar ketika hembusan udara pemanas ruangan, membelai kulitnya yang dingin dan basah karena baju yang dipakainya basah tadi.

__ADS_1


__ADS_2