
Bagi Sisca berbagai peristiwa yang terjadi selama 24 jam berikutnya, berlangsung secara samar-samar dan membingungkan.
Mereka sampai di rumah rico membuka bajunya, dan membaringkannya di tempat tidur tanpa memperdulikan protes-protesnya.
Lalu dokternya datang sependapat dengan rico, bahwa ia menderita flu berat. Pada Richard dokter itu menambahkan, sementara Sisca sendiri tidak tahu.
Bahwa ia menduga Sisca sedang sangat tertekan, dan itu tidak akan membantu proses penyembuhan.
Beberapa kali ia terbangun dari tidur nyenyak, dan setiap kali itu pula ia mengkhawatirkan Michael dan pekerjaannya di kantor.
Rico memberitahukan bahwa semua beres jadi ia tidak perlu cemas, tapi baru satu hari kemudian Sisca bisa minta penjelasan lengkap mengenai siapa yang menjaga Michael sementara Rico terus menemaninya di sisi tempat tidur.
"Aku menghubungi jasa pelayanan darurat 24 jam, mereka mengirimkan pengasuh sementara."
"Oh ya mereka juga mengirimkan orang ke Kantor mu, untuk mengerjakan tugas-tugas rutin sementara kau beristirahat."
"Apa?", pekik Sisca.
Langsung terduduk tegak tapi lalu mengerang, ketika kepalanya terasa seperti di pukul-pukul.
"Tahukah kau berapa biaya sewa jasa seperti itu?", protesnya pahit.
__ADS_1
"Rico, aku tidak sanggup..."
Didengarnya Rico memaki pelan, tangannya terasa sejuk di dahi Sisca yang panas membara.
Badan Sisca menggigil lagi sekarang dan juga sangat lemah, dengan patuh di turuti nya perintah rico untuk berbaring lagi.
Rasanya nyaman sekali bisa berbaring dan dimanjakan, diselimuti rapat-rapat seperti dulu yang dilakukan ibunya ketika ia masih kecil.
Ada orang yang memintanya jangan mencemaskan apa-apa, dan bahwa segalanya akan beres kembali.
Otak Sisca yang memang sudah diliputi demam dan rasa takut, menanggalkan kekhawatirannya ketika lelaki itu menghibur dan menentramkan nya.
Richard menemani Sisca sampai wanita itu tertidur lagi, lalu berdiri dengan kening berkerut.
Tarif pengasuh anak sementara memang mencekik leher, dan tentu saja Richard yang membayar biayanya.
Sedangkan untuk kantor Richard menyuruh Albert, mengirimkan salah seorang pegawainya ke sana untuk mengerjakan tugas rutin sehari-hari.
Agar kedua pegawai Sisca bisa dengan leluasa, mengambil alih pekerjaan Sisca yang menumpuk.
Ia sudah memperingatkan Albert untuk mengirim orang yang bisa dipercaya menyimpan rahasia karena begitu Sisca membaik kembali...
__ADS_1
Richard menunduk memperhatikan Sisca yang tergolek tidur, kagum juga dia karena Sisca sanggup menggerakkan hatinya.
Masalahnya adalah apakah wanita ini mau membalas perasaannya? Memang mereka tertarik secara jasmani.
Itu sudah jelas walaupun Sisca segan mengakuinya, tetapi apakah wanita itu siap mengubah jalan hidupnya tidak sesuai dengan rencananya.
Richard berbesar hati karena Sisca sudah pernah melakukannya satu kali, memasukkan Michael kedalam hidupnya.
Richard meringis sendiri ia mencintai wanita itu, ia yang sebelum ini bersumpah tidak mau jatuh cinta kini terbukti sama saja dengan orang lain.
Tetapi ia sama sekali tidak keberatan yang ia prihatin kan, adalah fakta bahwa setiap hari ia menipu Sisca.
Dan bahwa anggapan Sisca terhadapnya salah besar, bagaimana kelak reaksi Sisca bila ia memberitahukan hal yang sebenarnya.
Tentu saja ia harus menunggu sampai wanita itu benar-benar pulih, padahal ia bukan orang yang sabar.
Ia ragu-ragu di ambang pintu enggan meninggalkan Sisca, walaupun ia tahu wanita itu memang membutuhkan istirahat untuk membantu penyembuhannya.
Walaupun pada hari-hari awal sempat berkeras ingin kembali bekerja, lebih dari satu minggu kemudian baru Sisca merasa cukup sehat.
Ia hanya bangun selama dua jam sehari, duduk dengan kedua kaki dinaikkan. Mendengar celotehan Michael dan bermalas-malasan dengan mata menerawang.
__ADS_1
Menurut dokter sekarang dia dalam taraf pemulihan, dokter itu juga menegaskan bahwa paling tidak baru sebulan lagi Sisca pulih sepenuhnya.
"Bahkan saat itupun saya masih meragukan kekuatan anda untuk kembali bekerja, anda sudah terlalu lama memaksa diri", tambah dokter itu lembut.